Adopsi AI 'Booming', Risiko Siber Indonesia Tembus 14,9 Juta Serangan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Adopsi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia terus meningkat, namun risiko kejahatan siber ikut melonjak. Sepanjang 2025, tercatat 14.909.665 serangan berbasis web berhasil diblokir di dalam negeri.
Data kesiapan AI dari Oxford Insights menunjukkan Indonesia telah mencapai level 65,85%, terutama dalam sektor pemerintahan dan pengelolaan data. Pertumbuhan ini mempercepat transformasi digital, sekaligus memperluas permukaan serangan siber.
Laporan tahunan Kaspersky yang dirilis Senin (2/3/2026) mencatat rata-rata 40.848 serangan online terjadi setiap hari di Indonesia. Secara umum, 22,4% pengguna internet di Tanah Air menghadapi ancaman selama periode Januari–Desember 2025.
Metode yang paling umum digunakan pelaku adalah serangan melalui browser. Teknik seperti drive-by download dan rekayasa sosial memanfaatkan celah pada peramban serta kelengahan pengguna.
Secara global, lima negara dengan tingkat pengguna terdampak ancaman web tertinggi adalah Belarus (37,6%), Andorra (37,6%), Tajikistan (34,5%), Ukraina (34,5%), dan Yunani (33,9%). Indonesia sendiri berada di peringkat ke-84 dunia dalam risiko terkait aktivitas online.
Baca Juga
Ngeri! Indonesia Diserbu 3,64 Miliar Serangan Siber Sepanjang 2025
General Manager ASEAN dan AEC Kaspersky, Simon Tung, menegaskan bahwa keamanan siber harus menjadi bagian integral dalam implementasi AI. “Keamanan siber adalah area penting yang harus dipertimbangkan dalam implementasi AI. Tim TI harus memiliki tim operasi keamanan yang mampu memantau dan mengatasi ancaman siber,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Ia menambahkan, tahun 2026 berpotensi menghadirkan serangan yang semakin canggih dengan AI sebagai faktor utama. “AI tidak hanya membantu defenders mendeteksi anomali lebih cepat, tetapi juga membantu penyerang menghasilkan konten berbahaya yang meyakinkan,” tambahnya.
Untuk tetap terlindungi, pengguna disarankan tidak mengunduh aplikasi dari sumber tidak tepercaya, mengaktifkan autentikasi dua faktor, serta rutin memperbarui sistem keamanan. Sementara untuk organisasi, pembentukan pusat operasi keamanan (SOC), pemanfaatan solusi SIEM dan XDR, serta pembaruan perangkat lunak berkala dinilai krusial untuk memperkuat pertahanan digital di era AI.

