Giant Sea Wall Jakarta Dirancang Tampung Tol, MRT, dan Energi Hijau
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), Didit H Ashaf memaparkan teknis pembangunan proyek tanggul laut raksasa atau giant sea wall (GSW) di kawasan Teluk Jakarta. Giant sea wall akan dirancang tidak hanya sebagai pelindung pesisir, tetapi juga infrastruktur multifungsi, karena dapat dimanfaatkan untuk jalan tol, jalur MRT, hingga pembangkit listrik.
Didit menjelaskan, tanggul laut raksasa tersebut akan dibangun pada kedalaman laut sekitar 14 meter. Struktur tanggul memiliki lebar dasar antara 362 meter hingga 1.200 meter apabila mencakup area pengembangan. Pada bagian atas, tanggul dirancang memiliki lebar sekitar 60 meter untuk mendukung konektivitas transportasi sekaligus infrastruktur energi hijau.
“Di situ ada jalan tol dan MRT. Dan bisa dimanfaatkan dengan menggunakan tenaga angin untuk listrik,” kata Didit kepada awak media di Jakarta, Senin (23/2/2026).
Baca Juga
Proyek 'Giant Sea Wall' Butuh Anggaran hingga Rp 1,68 Kuadriliun
Selain fungsi proteksi pantai, katanya, area di sisi dalam tanggul akan difungsikan sebagai waduk retensi raksasa. Permukaan waduk direncanakan dipasangi panel surya untuk mendukung penyediaan energi hijau.
“Dan ada area pengembangan juga untuk pembangunan kegiatan area development nantinya di luar, setelah tanggulnya ini jadi,” ujar Didit.
Didit menambahkan, proyek strategis nasional (PSN) ini juga dirancang sebagai penyedia cadangan air tawar bagi Jakarta. Ia menyebutkan, luas area waduk mencapai sekitar 7.000 hektare (ha) di sisi barat dan 2.000 ha di sisi timur, sehingga total mencapai 9.000 ha. Dengan kapasitas tersebut, giant sea wall diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan air bersih Jakarta yang semakin terbatas akibat minimnya lahan untuk pembangunan waduk di daratan.
Didit menilai pembangunan waduk baru di wilayah darat Jakarta saat ini sulit dilakukan karena keterbatasan ruang dan faktor sosial masyarakat. Dengan demikian, pembangunan tanggul laut menjadi langkah strategis untuk menjaga ketersediaan air tawar di masa depan.
“Dengan kondisi seperti itu maka hari ini dengan kita merencanakan ini akan menjadi air tawar,” ucap Didit.
Dari sisi kebutuhan biaya, Didit memaparkan, megaproyek ini diperkirakan menelan anggaran hingga US$ 100 miliar atau sekitar Rp 1,68 kuadriliun (asumsi kurs Rp 16.800 per dolar AS).
“Dalam pelaksanaan kegiatan pembangunannya, kita melihat bahwa ada investasi, ada yang dari APBN. Hitungan besarnya, US$ 80–100 miliar,” jelas dia.
Secara konsep, lanjut Didit, GSW dirancang membentang sepanjang 535 kilometer (km) dari Kabupaten Serang, Banten, hingga Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Infrastruktur tersebut akan melintasi lima provinsi, yakni Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur dengan mencakup 25 kabupaten dan lima kota.
Baca Juga
AHY Kawal Ketat Pembangunan ‘Giant Sea Wall’, Jakarta Ditargetkan ‘Groundbreaking’ September 2026
Didit menegaskan, pembangunan tanggul laut raksasa menjadi kebutuhan jangka panjang untuk mengantisipasi penurunan muka tanah (land subsidence) yang telah terjadi di sejumlah wilayah Pantura Jawa.
“Kita bukan bangun untuk 1–2 tahun, tetapi untuk 100, 200, 300 tahun ke depan. Dengan kondisi seperti itu, ruginya atau mudaratnya kalau ini tidak terselesaikan akan mengakibatkan land subsidence dan terdampak ke penduduk di Pulau Jawa yang ke depan mungkin lebih banyak lagi populasinya,” katanya.

