Integrasi Tol Semarang–Demak dan 'Giant Sea Wall' Dipercepat
Poin Penting
|
SEMARANG, investortrust.id – Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo mengungkapkan, Jalan Tol Semarang–Demak akan ditingkatkan kapasitasnya sebagai bagian integrasi pembangunan tanggul laut raksasa (giant sea wall/GSW) di Pantai Utara (Pantura) Jawa.
Hal ini menyusul penilaian Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ) yang menyebut struktur tanggul laut yang saat ini terintegrasi dengan Tol Semarang–Demak masih belum maksimal untuk mendukung proyek perlindungan pesisir jangka panjang.
“Yang kita kerjakan hari ini (Tol Semarang–Demak) oleh BOPPJ dianggap masih kurang. Jadi nanti dia akan buat tanggulnya lebih maju lagi ke tengah laut, lebih besar lagi,” ungkap Dody dalam konferensi pers di Semarang, Jawa Tengah, Minggu (1/3/2026).
Menurutnya, penguatan tanggul laut tidak hanya berfungsi sebagai perlindungan banjir rob dan penurunan muka tanah (land subsidence), tetapi juga akan dikembangkan menjadi infrastruktur penyediaan air baku.
Baca Juga
AHY Kawal Ketat Pembangunan ‘Giant Sea Wall’, Jakarta Ditargetkan ‘Groundbreaking’ September 2026
Dody memaparkan, tanggul laut ke depan dirancang mampu mengubah air laut menjadi air tawar yang kemudian disalurkan ke kota-kota di belakang kawasan pesisir. Skema tersebut diharapkan menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk membatasi pengambilan air tanah.
“Namun, tidak cukup dengan hanya tanggung laut, nanti akan ada perda (peraturan daerah), misalnya melarang pengambilan air tanah karena landsubsidence itu kan yang utama karena orang sering mengambil air tanah begitu,” ucap dia.
Dody menegaskan, proyek Tol Semarang–Demak sejak awal memang dirancang sebagai bagian awal integrasi giant sea wall yang dikoordinasikan BOPPJ. “Kalau untuk giantseawall, Tol Semarang–Demak itu harus terintegrasi dengan BOPPJ. Makanya kita sekarang koordinasinya cukup erat dengan mereka,” tegas dia.
Ia menambahkan, koordinasi teknis antara Kementerian PU dan BOPPJ akan diperkuat, termasuk penugasan staf teknis Kementerian PU untuk mendukung pelaksanaan proyek di bawah otorita tersebut.
“Kita sekarang koordinasinya cukup erat dengan mereka. Mungkin nanti ada beberapa staf PU yang akan di-hire atau di BKO-kan di BOPPJ agar koordinasi teknisnya semakin lekat,” tutur Dody.
Selain Semarang dan Demak, Menteri PU juga mendorong wilayah Pekalongan agar masuk dalam program prioritas penanganan pesisir utara Jawa mengingat wilayah tersebut kerap diterjang banjir rob. “Makanya kemarin saya mengatakan, 'Sebaiknya Pekalongan itu juga masuk ke programnya BOPPJ yang harus dikerjakan dalam waktu dekat',” imbuh Dody.
Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah Kementerian PU tengah memacu penyelesaian pembangunan Jalan Tol Semarang–Demak Seksi 1 Kaligawe–Sayung sepanjang 10,64 kilometer (km). Adapun pekerjaan tanggul laut di Seksi 1 Kaligawe–Sayung sudah mencapai progres fisik secara keseluruhan di 52,27% (per 1 September 2025).
Baca Juga
Proyek 'Giant Sea Wall' Butuh Anggaran hingga Rp 1,68 Kuadriliun
Pembangunan ruas tol senilai Rp 10,9 triliun ini terbagi menjadi tiga paket pekerjaan, yakni paket 1A dengan penyedia jasa PT Hutama Karya (Persero) dan Beijing Urban Construction Group (BUCG) dengan progres fisik 73,19%, paket 1B dikerjakan PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan China Road and Bridge Corporation (CRBC) dengan progres 51,67% serta Paket 1C oleh KSO Adhi Karya–Sinohydro dengan progres 34,16%.
Untuk pekerjaan paket 1C, meliputi pembangunan dua kolam retensi dengan rumah pompa air, yakni Kolam Retensi Terboyo dan Kolam Retensi Sriwulan. Kolam Retensi Terboyo memiliki panjang tanggul 6,55 km, dilengkapi 6 unit pompa air axialvertical kapasitas 5 m3/detik dan 2 unit pompa submersible kapasitas 500 liter/detik dengan luas layanan 189 hektare.

