Maruarar dan Filosofi Bunga Wijaya Kusuma dari Sang Ayah
Poin Penting
| ● | Maruarar Sirait paparkan filosofi Batak: hagabeon, hamoraon, hasangapon agar hidup bermakna. |
| ● | Politik bersih dan integritas jadi fondasi kepemimpinan dan pelayanan publik. |
| ● | Panitia Natal 2025 sukses kumpulkan donasi Rp 53 miliar untuk korban bencana dan sosial. |
“Kami acap diajak Pak Sabam di malam hari untuk melihat bunga wijaya kusuma yang sedang mekar sambil ia menjelaskan filosofi bunga ini bagi kehidupan manusia,” jelas Maruarar Sirait, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) di ruang kerjanya di Wisma Mandiri II, Jakarta Pusat, Selasa (16/12/2025) malam sebelum rapat daring dengan sejumlah menteri dan para kepala daerah di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Di antara foto-foto tentang kegiatan dia sebagai menteri, ada foto ayahnya, Sabam Sirait, politisi PDIP yang wafat 29 September 2021 pada usia 85. Di foto ayahnya itu ada tersembul bunga-bunga wijaya kusuma.
Filosofi bunga wijaya kusuma tidak hanya dikenal dalam budaya Jawa, tapi juga di etnik Batak, suku asal Sabam dan anak-anaknya. Wijaya kusuma tidak mekar di siang hari. Ia memilih malam sunyi, gelap, dan sepi penonton. “Mekar singkat lalu layu. Hidup itu singkat. Oleh karena itu, hidup kita harus memberi makna bagi sesama, terutama orang kecil,” ujar Maruarar mengulang pesan sang ayah.
Dalam bahasa Batak, mekar pada waktunya dekat dengan filsofi hagabeon, hamoraon, dan hasangapon. Filosofi Batak mengenal tiga tujuan hidup, hagabeon (berketurunan dan keberlanjutan hidup), hamoraon (kesejahteraan (bukan sekadar harta), dan hasangapon (kehormatan dan martabat). Ini mirip bunga wijaya kusuma yang tidak mekar sembarang waktu Kehormatan (hasangapon) datang setelah proses hidup, bukan klaim dini, tapi pengakuan sosial yang tumbuh
Di tengah obsesi pada pertumbuhan ekonomi, valuasi aset, dan akumulasi kekayaan, budaya Batak menawarkan perspektif yang lebih utuh tentang makna keberhasilan hidup. Tiga kata kunci —Hagabeon, Hamoraon, Hasangapon— menjadi kerangka etis yang menempatkan ekonomi, keluarga, dan kehormatan dalam satu tarikan napas. Ini bukan sekadar warisan adat, melainkan filosofi hidup yang relevan bagi kepemimpinan dan dunia usaha hari ini.
Hagabeon menempatkan kehidupan dalam bingkai keberlanjutan. Ia tidak berhenti pada panjang umur atau jumlah keturunan, melainkan pada tanggung jawab antargenerasi. Dalam terang iman Kristen, hagabeon sejalan dengan mandat Alkitab untuk “memelihara dan meneruskan kehidupan” (Kej. 1:28). Hidup yang baik adalah hidup yang meninggalkan warisan nilai —iman, integritas, dan kerja keras— bukan sekadar aset material. Bagi dunia usaha, ini berarti membangun institusi yang tahan waktu, bukan organisasi yang habis bersama satu generasi pemimpin.
Baca Juga
Menteri PKP Maruarar Sigap Bangun 2.603 Rumah bagi Korban Bencana Sumatra Tanpa APBN
Di atas fondasi itu berdiri hamoraon, kesejahteraan yang memampukan. Budaya Batak tidak memandang kekayaan sebagai dosa, tetapi sebagai amanah. Dalam etika Kristen, ini sejalan dengan perumpamaan tentang talenta (Mat. 25:14–30): kekayaan diuji bukan dari jumlahnya, melainkan dari bagaimana ia dikelola dan dipertanggungjawabkan. Hamoraon yang sehat adalah kekuatan ekonomi yang memungkinkan keluarga hidup layak, adat dijalankan, dan sesama ditolong. Kekayaan yang menjauhkan manusia dari tanggung jawab sosial justru kehilangan makna moralnya.
Namun puncak dari seluruh perjalanan hidup itu adalah hasangapon, kehormatan. Inilah nilai yang tidak bisa dibeli oleh uang dan tidak bisa direkayasa oleh jabatan. Hasangapon lahir dari konsistensi hidup, kejujuran dalam relasi, dan kesetiaan pada nilai. Dalam iman Kristen, kehormatan sejati bukan berasal dari manusia, melainkan dari Allah: “Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar” (Luk. 16:10). Karena itu, hasangapon sering kali baru sepenuhnya diakui ketika seseorang telah menyelesaikan hidupnya.
Ketiga nilai ini membentuk hirarki etis yang relevan bagi kepemimpinan modern. Hagabeon tanpa hamoraon membuat hidup rapuh. Hamoraon tanpa hasangapon melahirkan kekayaan tanpa martabat. Dan hasangapon tanpa fondasi kehidupan dan kesejahteraan hanya menjadi simbol kosong. Dunia bisnis dan kebijakan publik hari ini justru membutuhkan keseimbangan ini: pertumbuhan yang berkelanjutan, kesejahteraan yang inklusif, dan kehormatan yang lahir dari tata kelola yang berintegritas.
Dalam konteks Indonesia yang sedang membangun masa depan ekonomi jangka panjang, falsafah Batak ini berbicara jelas: keberhasilan tidak boleh direduksi menjadi angka. Ia harus diuji oleh waktu, oleh dampaknya bagi generasi berikut, dan oleh penilaian moral masyarakat. Di sinilah budaya dan iman bertemu—menawarkan koreksi sunyi terhadap ambisi yang terlalu bising.
Pada akhirnya, hagabeon, hamoraon, hasangapon mengajarkan bahwa hidup yang berhasil bukanlah hidup yang paling cepat naik, melainkan hidup yang berlanjut dengan nilai, bertumbuh dengan tanggung jawab, dan berakhir dengan kehormatan. Sebuah pelajaran penting bagi para pemimpin, pelaku usaha, dan siapa pun yang ingin membangun bukan hanya kekayaan, tetapi juga makna.
Baca Juga
Maruarar Sirait Sumbang Rp 5 Miliar dari Kocek Pribadi untuk Pembangunan RS Unpar
Politik Itu Suci
“Politik itu suci.” Kalimat ini terpampang besar pada potret Sabam Sirait di ruang kerja Maruarar. Bagi banyak orang, pernyataan ini terdengar ganjil, bahkan provokatif. Bukankah pengalaman kolektif justru menunjukkan sebaliknya: politik identik dengan uang, manipulasi, dan intrik? Namun justru karena itulah pernyataan tersebut penting. Ia tidak sedang menggambarkan keadaan politik sebagaimana adanya, melainkan menegaskan martabat dan panggilan moral politik sebagaimana seharusnya dijalankan.
Kesepakatan Maruarar terhadap pandangan ayahnya menegaskan satu hal: politik bukan sekadar teknik merebut dan mempertahankan kekuasaan, melainkan panggilan etis yang menyentuh dimensi terdalam kehidupan bersama. Dalam pengertian klasik, politik adalah urusan polis—ruang bersama tempat warga menentukan arah hidup kolektif. Aristoteles menyebutnya sebagai upaya mencapai the good life. Karena itu, menyebut politik sebagai “suci” bukanlah romantisasi, melainkan pengakuan bahwa politik menyangkut kebaikan bersama, martabat manusia, dan tanggung jawab moral yang tidak ringan.
Jika politik tampak kotor, problemnya bukan pada politik itu sendiri, melainkan pada cara manusia mempraktikkannya. Kesucian politik tidak berarti ia steril dari konflik atau kepentingan, melainkan bahwa ia memiliki tujuan luhur yang melampaui kepentingan sempit. Dalam pengertian ini, kesucian adalah standar etis—bukan kondisi faktual. Ia adalah horizon moral yang seharusnya membimbing tindakan politik, bukan cermin realitas sehari-hari.
Pandangan bahwa politik selalu kotor sejatinya adalah bentuk reduksionisme moral. Ia melihat gejala, lalu menganggapnya hakikat. Max Weber, dalam esainya Politics as a Vocation, justru mengingatkan bahwa politik selalu berada dalam ketegangan antara etika keyakinan dan etika tanggung jawab. Politik memang tidak pernah steril, tetapi justru karena dampaknya luas dan menentukan nasib banyak orang, ia menuntut standar etika yang lebih tinggi. Menyebut politik sebagai “suci” adalah penolakan terhadap sinisme yang membenarkan segala cara. Ketika sinisme menang, ruang publik ditinggalkan oleh orang-orang yang masih memegang nurani, dan kekuasaan jatuh ke tangan mereka yang paling lihai memanipulasi sistem.
Ilmu politik dan ekonomi kelembagaan menjelaskan mengapa praktik politik yang profan—bahkan merusak—begitu dominan. Korupsi, klientelisme, dan pembelian suara bukan semata-mata penyimpangan moral individu, melainkan sering kali produk dari insentif struktural: biaya politik yang mahal, sistem pendanaan partai yang buram, serta lemahnya penegakan hukum. Transparency International mendefinisikan korupsi sebagai penyalahgunaan kekuasaan yang dipercayakan untuk keuntungan pribadi—sebuah pengkhianatan terhadap amanah publik, dan karena itu, sebuah penodaan atas kesucian politik itu sendiri.
Dalam konteks Indonesia, riset Edward Aspinall dan Marcus Mietzner menunjukkan bahwa demokrasi elektoral berjalan berdampingan dengan praktik patronase dan vote buying. Suara diperlakukan sebagai komoditas, pemilih sebagai target transaksi, dan kekuasaan sebagai investasi yang harus “kembali modal”. Di titik inilah politik kehilangan kesuciannya: ia terlepas dari orientasi pada kebaikan bersama dan direduksi menjadi mekanisme distribusi rente.
Lalu bagaimana menjaga dan memulihkan kesucian politik di tengah realitas yang korosif ini? Pertama, memutus jalur uang gelap dalam politik. Hampir semua studi antikorupsi sepakat: transparansi dan akuntabilitas pembiayaan politik adalah kunci. Tanpa pembenahan di hulu—donasi, pengeluaran kampanye, relasi bisnis–kekuasaan—seruan moral akan terdengar hampa. OECD menekankan bahwa integritas politik tidak bisa bergantung pada kesalehan personal semata, tetapi harus ditopang oleh desain institusional yang membuat penyimpangan berisiko tinggi dan tidak menguntungkan.
Kedua, menguatkan pengawasan publik dan jurnalisme independen. Politik yang mengklaim kesucian tetapi menolak diawasi akan mudah jatuh pada kemunafikan. Praktik kotor hidup subur di ruang gelap. Ketika anggaran, kebijakan, dan konflik kepentingan terbuka bagi publik, biaya moral dan reputasi bagi penyalahgunaan kekuasaan meningkat. Di banyak negara, kebebasan pers dan keterbukaan informasi berkorelasi dengan tingkat korupsi yang lebih rendah—bukan karena aktor politik menjadi suci secara personal, melainkan karena sistem memaksa mereka bertindak lebih bertanggung jawab.
Ketiga, membangun budaya politik warga. Ini kerja panjang, tetapi fundamental. Robert Putnam menunjukkan bahwa modal sosial—kepercayaan, jejaring warga, dan norma bersama—dapat memperkuat demokrasi. Namun modal sosial juga bisa terdegradasi menjadi klientelisme jika orientasi etisnya rapuh. Pendidikan politik, literasi pemilih, dan penguatan organisasi warga adalah upaya jangka panjang untuk menanamkan kesadaran bahwa politik bukan ladang transaksi, melainkan ruang pengabdian.
Di sinilah makna terdalam dari kalimat “politik itu suci”. Ia bukan klaim faktual, melainkan kompas normatif. Ia menolak tunduk pada realisme sinis yang berkata, “Beginilah politik dari sananya.” Sebab ketika publik menerima bahwa politik pasti kotor, maka politik kotor menang tanpa perlawanan. Sebaliknya, dengan menegaskan kesucian politik, standar moral ditegakkan—meski realitas sering tertinggal jauh di belakangnya.
Politik, pada akhirnya, adalah cermin kolektif. Ia bisa ternoda karena kita membiarkannya demikian. Tetapi ia juga bisa dijaga kesuciannya—pelan, sulit, dan sering tidak populer—ketika standar etika dipertahankan, lembaga diperbaiki, dan warga menolak menjual suara maupun nuraninya. Dalam pengertian inilah, Sabam Sirait tidak sedang berilusi. Ia sedang mengingatkan: politik hanya layak diperjuangkan jika ia tetap setia pada panggilannya yang paling luhur.
Hidup Ini Sementara
Hari ini, 23 Desember 2025, Maruarar genap berusia 56 tahun. Selepas pendidikan terakhir di FISIP Universitas Parahyangan, Bandung, ia langsung mengikuti jejak ayahnya sebagai politisi sambil merintis usaha sebagai. Sejak di kampus, ia sudah aktif Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan bergabung dengan Resimen Mahasiswa Unpar. Aktivitas di organisasi memuluskan langkahnya di politik dan bisnis yang dirintisnya membuat dia mandiri secara finansial.
Sejak 1999, Maruarar bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), partai yang ikut dibesarkan ayahnya, Sabam Sirait. Kepiawaiannya membangun komunitas mengantarkan ia duduk di Senayan sebagai anggota legislatif selama 15 tahun. Pada tahun 2019, ia menceburkan diri sepenuhnya ke dalam bisnis yang sudah lama ia rintis.
Sebagai politisi, ia terlatih membaca perubahan konstelasi politik dan mengikuti dengan cermat perjalanan partai. Peran partai politik (parpol) sangat penting dalam sistem demokrasi. Parpol adalah kawah candra dimuka untuk menggembleng kader partai menjadi politisi yang sepenuhnya mengabdi kepada kepentingan rakyat. Ketika partai lamanya dinilai tidak lagi sejalan dengan cita-cita politiknya, yakni mengabdi untuk membela rakyat kecil, Maruarar pindah ke Gerindra. Basis masanya di Dapil Jabar IX —Kabupaten Subang, Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Sumedang— tetap dirawatnya.
“Mayoritas pemilih Dapil Jabar IX umumnya Islam. Tapi, selalu menang. Sukses ini diraih berkat sikap hidup saya yang inklusif. Saya seorang, Kristen. Tapi, sebagai warga negara dan manusia, saya bukan hanya bergaul dan hidup damai dengan semua orang, apa pun latar belakangnya, tapi juga harus bisa memberikan manfaat kepada sesama,” ungkap Maruarar agama, ras, suku, dan golongan. Untuk politik internasional, ia tidak ragu menunjuk sikapnya sebagai pendukung Palestina. Selain selaras dengan sikap politik luar negeri Indonesia, perhatiannya terhadap orang Palestina adalah soal kemanusiaan.
Baca Juga
Lampaui Janji Penyerahan Rumah Subsidi, Maruarar Dipuji Prabowo
Sabam, sang ayah, memulai karier politiknya di Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan sempat menjadi Sekjen Parkindo periode 1967-1973. Ketika partai politik di Indonesia diciutkan (fusi) menjadi menjadi tiga di era Orde Baru, Sabam tercatat ikut membidani kelahiran Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan menandatangani deklarasi pembentukan PDI, 10 Januari 1973. Ia menjadi Sekjen PDI selama tiga periode, yakni periode 1973-1976, periode 1976-1981, dan periode 1981-1986. Politisi yang piawai di panggung politik ini juga salah satu menjadi pendiri Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), September 1998, dan menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Pusat PDIP pada 1998-2008.
Ayah saya, kata Maruarar, selalu menyampaikan nilai hidup orang Batak tentang keselarasan mulut, hati, dan tingkah laku. “Ketika saya terjun ke politik, ayah selalu mengingatkan nilai ini. Selaraskan mulut, hati, dan tingkah laku. Jangan lain di bibir, lain di hati, lain di tingkah laku,” jelas Ara, nama sapaan akrab putra sulung Sabam Sirait.
Pesan leluhur Batak “mulut harus sama dengan hati dan tingkah laku” adalah rumusan singkat dari etika keutuhan diri, integritas sebagai kesatuan antara kata, niat, dan perbuatan. Dalam filsafat Batak, manusia dinilai bukan dari kepiawaian berbicara, melainkan dari keselarasan hidupnya. Kata tanpa niat yang jujur dipandang sebagai tipu daya; niat tanpa tindakan dianggap kosong. Nilai ini berakar pada kehidupan komunal Batak yang bertumpu pada kepercayaan timbal balik: sekali kata diucapkan, ia menjadi utang moral yang mengikat martabat pribadi dan marga. Karena itu, integritas bukan kebajikan privat, melainkan modal sosial, syarat agar relasi adat dan kehidupan bersama tetap tegak.
Secara ilmiah, prinsip ini sejalan dengan gagasan integritas dalam etika modern. Max Weber, misalnya, menekankan bahwa tindakan bermakna lahir dari koherensi antara keyakinan batin dan tanggung jawab tindakan. Ketika keduanya terpisah, lahirlah sinisme dan krisis kepercayaan. Riset tentang social capital (Putnam) juga menunjukkan bahwa masyarakat bertahan dan berkembang ketika warganya memelihara konsistensi antara apa yang dijanjikan dan apa yang dilakukan. Dalam bahasa akademik, pesan Batak itu adalah penolakan terhadap hypocrisy gap —jarak antara wacana dan praktik— yang terbukti merusak institusi, kepemimpinan, dan demokrasi.
Dalam kosmologi Batak, keselarasan kata–hati–perilaku menopang hasangapon (kehormatan sejati). Kehormatan tidak dibangun dari citra atau retorika, melainkan dari rekam jejak kesetiaan pada kata. Di bawah payung Dalihan Na Tolu, keseimbangan relasi hanya mungkin jika setiap pihak dapat mempercayai ucapan pihak lain. Karena itu, orang yang “mulutnya lain, perbuatannya lain” bukan sekadar melanggar etika pribadi, tetapi mengoyak tatanan. Filsafat ini mengajarkan keberanian moral: berkata apa adanya, berniat lurus, dan bertindak konsisten—meski tidak selalu nyaman.
Nilai Injil menggemakan kebijaksanaan ini dengan tegas dan jernih. Yesus mengajarkan, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya; jika tidak, katakan: tidak” (Mat 5:37), serta mengecam kemunafikan, kata yang indah tetapi hidup yang bertentangan. Dalam Injil Yohanes, kebenaran (aletheia) bukan sekadar ucapan benar, melainkan cara hidup. Di titik ini, filsafat Batak dan Injil bertemu: kejujuran bukan performa, melainkan kesatuan eksistensial. Hidup yang selaras —mulut sama dengan hati dan tingkah laku— itulah kesaksian iman yang paling kuat, sekaligus fondasi etika publik yang memulihkan kepercayaan di tengah dunia yang terlalu ramai kata dan terlalu miskin teladan.
Baca Juga
Maruarar: Pendanaan Perumahan Tak Butuh Pinjaman Luar Negeri
Ara selalu sadar bahwa bumi ini fana, hidup manusia di dunia hanya sementara. Oleh karena itu, di sisa hidupnya, ia berusaha agar hidupnya memberikan dampak positif kepada sesama. Ia selalu menyendandungkan lagu “Hidup Ini Adalah Kesempatan”. Berikut syairnya.
“Hidup Ini Adalah Kesempatan”
Hidup ini adalah kesempatan Hidup ini untuk melayani Tuhan Jangan sia-sia kan waktu yang Tuhan b’ri Hidup ini harus jadi berkat
Oh Tuhan pakailah hidupku Selagi aku masih kuat Bila saatnya nanti Ku tak berdaya lagi Hidup ini sudah jadi berkat
(Lagu gubahan Pendeta Wilhelmus Latumahina)
Dalam pertemuan persiapan Panitia Natal, ia selalu meminta seluruh peserta menyanyikan lagu ini. Lagu ini pula yang akan dinyanyikan Koor Natal dan seluruh umat yang hadir pada Natal Nasional, 5 Januari 2026. “Jangan lupa lagu ini, ya,” kata Ara yang juga Ketua Panitia Natal Nasional 2025.
Natal Nasional 2025 berhasil mengumpulkan donasi sekitar Rp 53 miliar. Sekitar 70% lebih, antara lain, digunakan untuk membantu para korban erupsi di Semeru, Jatim, korban bankir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, renovasi 100 gereja, beasiswa kepada 100 orang, paket Natal di sepuluh titik, 35 ambulans untuk masyarakat. Acara Natal dirayakan sederhana di Istora Senayan dengan jumlah undangan 3.800 orang. Dari jumlah itu, 3.000 adalah anggota koor, koster Gereja, guru sekolah Minggu, guru agama sekolah, anak yatim piatu, dan disabilitas. Mereka disebut tamu kehormatan yang diberikan bantuan Rp 1,5 juta per orang.
Hingga akhir pekan lalu, Sabtu (13/12/2025), dana yang terkumpul dari para donatur untuk Panitia Natal 2025 sebesar Rp 52,8 miliar. Dana itu berasal dari 27 penyumbang, di antaranya Maruarar Rp 11 miliar, Chairman Yayasan Pendidikan Pelita Harapan James Riady Rp 10 miliar, Haji Garibaldi (Boy) Thohir Rp 10 miliar, Lauren Rp 5 miliar, pengacara Juniver Girsang Rp 5 miliar, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Rp 1 miliar, Haji Rosan Roeslani, Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari Rp 100 juta, dan Teman Prabowo Sedunia Rp 100 juta.
Sebagai Menteri PKP, Ara juga bergerak cepat membangun rumah permanen untuk korban di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Pengusaha nasional Aguan lewat Budha Suci membangun 2.500 rumah dan Ara dari kantung pribadi membangun 103 rumah di Tapanuli Utara.
Baca Juga
2 Bulan Pemerintahan Prabowo, Maruarar Sirait Klaim 30.000 Rumah Sudah Ditempati Masyarakat
Pada akhirnya, kisah tentang Maruarar, Sabam Sirait, dan bunga wijaya kusuma bertemu pada satu kesadaran yang sama: hidup tidak diukur dari riuhnya tepuk tangan, tetapi dari kesetiaan pada makna. Seperti wijaya kusuma yang mekar di malam sunyi, nilai-nilai luhur sering tumbuh dalam keheningan, dalam disiplin batin, dalam keputusan yang tidak selalu populer, dan dalam kesediaan melayani tanpa menunggu sorotan. Dari sanalah kehormatan lahir, bukan sebagai klaim, melainkan sebagai pengakuan yang datang perlahan.
Filosofi Batak tentang hagabeon, hamoraon, dan hasangapon memberi bingkai utuh bagi perjalanan hidup itu. Keberlanjutan kehidupan, kesejahteraan yang bertanggung jawab, dan kehormatan yang diraih melalui integritas bukanlah tujuan yang saling meniadakan, melainkan saling menguatkan. Hidup yang singkat menjadi bermakna ketika ia memberi dampak lintas generasi, menolong yang lemah, dan meninggalkan jejak nilai—iman, kejujuran, serta keberpihakan pada martabat manusia.
Di titik ini pula pesan Sabam Sirait tentang “politik itu suci” menemukan tempatnya. Ia bukan slogan kosong, melainkan tuntutan moral yang menempatkan politik sebagai ruang pengabdian, bukan sekadar perebutan kuasa. Kekuasaan dipahami sebagai amanah, dan karena itu harus dijalankan dengan keselarasan antara kata, hati, dan perbuatan. Ketika standar ini dijaga—dalam kebijakan publik, dalam kepemimpinan, dan dalam relasi sosial—ruang bersama perlahan dipulihkan dari sinisme dan dikembalikan pada tujuan luhurnya.
Maka, ketika lagu Hidup Ini Adalah Kesempatan dilantunkan, ia bukan sekadar nyanyian, melainkan doa yang menjelma tindakan. Hidup memang sementara, tetapi kasih yang diwujudkan, rumah yang dibangun, dan tangan yang terulur meninggalkan gema yang panjang. Seperti wijaya kusuma yang mekar sekali lalu layu, hidup manusia pun singkat; namun bila ia sempat menjadi berkat, keharumannya tinggal lebih lama dari usia.
Selamat ulang tahun ke-56, Bung Ara. Tuhan memberkati.

