Kemenkomdigi dan Operator Seluler Terus Kebut Pemulihan Jaringan di Aceh
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) dan operator seluler terus mempercepat pemulihan jaringan telekomunikasi di wilayah terdampak banjir, khususnya Aceh, di tengah persiapan menghadapi lonjakan trafik Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Viada Hafid memastikan bencana banjir tidak mengganggu kesiapan layanan telekomunikasi nasional selama periode libur akhir tahun. Menurutnya, operator saat ini menjalankan dua fokus utama secara bersamaan, yakni kesiapsiagaan Nataru dan pemulihan jaringan pascabencana.
“Ini berjalan seperti tahun sebelumnya, namun memang teman-teman operator saya yakin fokusnya menjadi dua dan harus sama-sama jalan,” kata Meutya di Kantor Kemenkomdigi, Jakarta, Jumat (18/12/2025).
Meutya menjelaskan, dua dari tiga provinsi terdampak banjir saat ini sudah relatif stabil. Namun, Aceh masih menjadi perhatian utama karena pemulihan jaringan belum sepenuhnya rampung.
“PR kita saat ini untuk Aceh. Untuk dua provinsi lainnya sudah stabil,” ujarnya. Meutya juga mengapresiasi operator atas kenaikan jumlah BTS yang kembali beroperasi di wilayah tersebut, yang kini telah mencapai lebih dari 73%.
Meski demikian, Menkomdigi menegaskan target pemerintah dan operator tetap pemulihan penuh. Sejumlah daerah seperti Meriah, Aceh Tamiang, dan Gayo Lues disebut masih membutuhkan penanganan ekstra agar layanan komunikasi dapat kembali normal sepenuhnya.
Baca Juga
SATRIA-1 Jadi Salah Satu Tumpuan Ketersediaan Jaringan Telekomunikasi di Wilayah Bencana
“Untuk angka 73% meskipun ini juga kenaikan, tetap harus menggantung (target) 100 persen,” tegas Meutya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Telkomsel Nugroho mengungkapkan bahwa kendala utama pemulihan jaringan di Aceh berasal dari kerusakan infrastruktur pendukung akibat banjir dan longsor. “Kendala utamanya dari sisi listrik karena banyak sutet yang rubuh dan belum bisa disambungkan kembali,” jelasnya.
Selain listrik, gangguan juga terjadi pada jaringan fiber optik yang terputus akibat akses transportasi yang terbatas. Kondisi ini memaksa operator menggunakan berbagai skema alternatif, termasuk genset, satelit, hingga pengalihan jalur melalui kabel bawah laut.
“Alhamdulillah sampai hari ini sudah lebih dari 73% kita recover dan terus kita lakukan,” kata Nugroho. Ia menambahkan, pemulihan jaringan dilakukan secara paralel dengan mengerahkan sumber daya dari seluruh Indonesia, bukan hanya dari wilayah Sumatra.
Pemulihan tersebut mencakup total tiga operator seluler nasional. Pemerintah dan operator menargetkan percepatan pemulihan jaringan di Aceh dapat terus berjalan tanpa mengganggu kesiapan layanan telekomunikasi nasional selama periode Nataru.

