Natalius Pigai Perintahkan Jajaran Pastikan Tak Ada Pelanggaran HAM Selama Nataru
JAKARTA, Investortrust.id – Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menginstruksikan seluruh jajaran kementeriannya untuk terjun langsung memastikan kelancaran perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 atau Nataru. Pigai menuturkan kebijakan ini diambil lebih awal sebagai bentuk deteksi dini dan antisipasi terhadap potensi gangguan, baik dari sisi keamanan, toleransi, maupun kendala mobilitas.
"Kementerian Hak Asasi Manusia untuk menghadapi Nataru tahun ini telah memerintahkan seluruh jajaran mulai dari eselon I sampai staf dan seluruh kepala kantor wilayah dan jajarannya untuk melakukan langkah-langkah yang signifikan untuk membantu masyarakat Indonesia dalam rangka menikmati ibadah Natal dan Tahun Baru," kata Pigai di kantor Kementerian HAM, Jakarta, Rabu (17/12/2025).
Baca Juga
Simak Kesiapan 37 Bandara dan 16. 000 Personel injourney Hadapi Libur Nataru
Pigai mewajibkan para pegawai yang sedang melakukan work from home (WFH) maupun yang sedang dalam masa libur untuk tetap aktif memantau di lapangan dan menjaga situasi agar tetap kondusif.
"Mereka yang nanti libur juga ikut bekerja pada saat libur. Mereka yang work from home juga ikut bekerja, dan seluruh kanwil ikut melakukan pengendalian situasi serta menjaga kondisi suasana Nataru tahun ini," tegasnya.
Pigai menyebut langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar negara hadir memberikan suasana damai, toleran, dan stabil. Terlebih, data Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memprediksi 119,5 juta orang akan melakukan perjalanan di masa Nataru nanti.
Selain memantau potensi intoleransi, jajaran Kementerian HAM juga ditugaskan untuk memantau aksesibilitas pemudik dan memastikan hak-hak masyarakat terpenuhi, termasuk mengawasi stabilitas harga kebutuhan pokok di pasar agar tetap terjangkau.
"Semua ini adalah amanat Presiden. Jika tahun lalu kita sukses, tahun ini juga harus sukses. Itu artinya Indonesia menghormati dan menghargai peradaban asasi manusia," ungkap Pigai.
Baca Juga
Selain itu, Pigai juga berharap ada pemetaan dan deteksi dini agar masyarakat dapat menjalankan ibadah dalam suasana damai. Deteksi tersebut penting agar potensi-potensi gangguan yang ada bisa dicarikan alternatif.
"Bisa dilakukan penanganan, bisa dilakukan pendekatan persuasif atau bisa dilakukan alternatif sehingga kegiatan beribadah bisa berlangsung secara baik," ucapnya.

