SBY Tegaskan Demokrasi Tetap Penting dan Relevan di Tengah Isu Kemunduran Global
JAKARTA, investortrust.id -- Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan demokrasi dihadapkan pada tantangan ganda. Kedua tantangan itu, yakni krisis internal karena ditinggalkan pengikutnya dan ancaman eksternal dari sistem politik otoritarian yang dinilai lebih baik oleh sebagian pihak.
Namun, di tengah isu kemunduran demokrasi secara secara global, SBY menegaskan demokrasi tetap menjadi sistem politik yang penting dan relevan bagi Indonesia.
"Demokrasi menurut saya juga tetap penting dan relevan. Karena faktanya terjadi kemunduran demokrasi backsliding of demokrasi around the globe. Oleh karena itu, tidak salah kalau kita masih peduli dan mencari solusi terhadap masalah yang sangat penting ini," kata SBY dalam pidatonya di Habibie Democracy Forum (HDF) di Jakarta, Selasa (18/11/2025).
Baca Juga
SBY juga menyoroti masih adanya nostalgia dan romantisme sejarah di kalangan elite dan publik Indonesia terhadap sistem politik masa lalu yang dianggapnya semi-otoritarian. Hal ini karena sistem politik semi-otoritarian dianggap lebih menjamin stabilitas dan kemajuan ekonomi dibandingkan demokrasi yang dituding menimbulkan kegaduhan. Namun, SBY mengingatkan hakikat demokrasi adalah nilai dan perilaku politik, bukan sekadar produk politik rezim semata.
Ia juga mematahkan mitos Indonesia harus memilih antara kebebasan dan stabilitas/ekonomi. Berdasarkan pengalamannya selama 10 tahun memimpin Indonesia, SBY mengatakan ekonomi dapat tumbuh tanpa menutup ruang demokrasi.
"Pesan moral saya, jangan buru-buru mengatakan harus pilih salah satu, karena dua-duanya is possible untuk kita hadirkan," ujarnya.
Baca Juga
Ilham Habibie Tekankan Keterbukaan Jadi Kunci Wujudkan Demokrasi
SBY berharap The Habibie Center dan The Yudhoyono Institute dapat berkolaborasi untuk menguji sistem mana yang paling kompatibel untuk memenuhi kebutuhan rakyat.

