Hashim: Program Prabowo Adalah Cita-Cita Soemitro Djojohadikusumo
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Hashim Djojohadikusumo menyatakan program yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto adalah cita-cita dari ayah mereka, begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo.
Adik kandung Prabowo itu menyebut sang kakak sangat prorakyat seperti halnya sang ayah. Seperti diketahui, Soemitro merupakan salah satu petinggi Partai Sosialis Indonesia (PSI).
Walaupun demikian, Hashim menegaskan Prabowo tidak anti dengan pengusaha. Program-program yang dicanangkannya tidak hanya menyejahterakan rakyat, tetapi juga akan menguntungkan pengusaha.
Baca Juga
"Tidak berbenturan dan bukan antipengusaha. Itu yang penting. Dia bilang orang kaya tetap kaya enggak masalah. Tetapi yang miskin kita harus angkat dari comberan, dari jurang, mereka harus hidup bermartabat," katanya di Menara Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu (23/10/2024).
Lebih lanjut, Hashim menyebut ayahnya adalah seorang penganut paham sosialis. Namun, paham sosialis yang dianut oleh Soemitro adalah sosialis kanan. Hal itu tecermin dari program-programnya ketika menduduki jabatan menteri di pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru.
Program-program Soemitro tersebut yang kemudian diadopsi oleh Prabowo melalui program-program di kabinet pemerintahannya yang semangatnya adalah mengentaskan kemiskinan.
"Program-program ini adalah sebagian besar ide orang tua kami. Saya bersaksi dan dia (Prabowo) sudah berulang kali confession. Saya bisa jalankan program dari papi (Sumitro Djojohadikusumo). Saya bisa jalankan cita-cita dan impian papi," tuturnya.
Hashim menyebut keseriusan Prabowo untuk mengentaskan kemiskinan di Tanah Air salah satunya diwujudkan melalui pembentukan Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan yang dipimpin oleh Budiman Sudjatmiko.
"Intinya program Prabowo-Gibran adalah pengentasan kemiskinan. Maka, Budiman Sudjatmiko diangkat sebagai kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan. Itu berarti badan ini diberikan tugas jadi koordinator antara kementerian-kementerian, dari 48 kementerian," imbuhnya.
Mengutip situs resmi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Soemitro Djojohadikoesoemo dianggap sebagai guru ekonomi agung dalam sejarah Republik Indonesia. Soemitro adalah putra dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank Negara Indonesia, ketua pertama Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS), dan anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
Baca Juga
Hashim Ungkap Kelanjutan Pembangunan IKN di Pemerintahan Prabowo, Lanjut?
Soemitro memulai kariernya sebagai staf asisten Perdana Menteri Indonesia, Sutan Syahrir (1946), Direktur Utama Indonesian Banking Corporation (1947), dan Charge d’Affaires Kedutaan Besar Indonesia di Washington, DC (1950). Soemitro menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Industri dalam Kabinet Natsir (1950-1951), Menteri Keuangan dalam Kabinet Wilopo (1952-1953), Menteri Keuangan dalam Kabinet Burhanuddin Harahap (1955-1956), Menteri Perdagangan dalam Kabinet Pembangunan I (1968-1973), dan Menteri Riset dan Pengembangan dalam Kabinet Pembangunan II (1973-1978).
Soemitro adalah salah satu pemimpin yang berhasil dalam mempersiapkan ekonom penerusnya. Para penggantinya membuktikan diri mereka layak untuk melaksanakan tugas mereka sebagai menteri ekonomi Indonesia. Murid-murid Soemitro antara lain adalah JB Sumarlin, Ali Wardhana, dan Widjojo Nitisastro. Dua terakhir bahkan telah meneruskan kepemimpinannya di LPEM FEBUI.

