Pemerintah Usulkan Pembetukan TNI Angkatan Siber, Ini Alasannya
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator Bidang Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Hadi Tjahjanto mengungkapkan alasan pemerintah membentuk angkatan siber sebagai matra keempat TNI setelah setelah TNI Angkatan Darat (AD), TNI Angkatan Laut (AL), dan TNI Angkatan Udara (AU).
Menurut Hadi, kekuatan militer suatu negara tidak lagi dilihat sepenuhnya dari jumlah pasukan dan alat utama sistem pertahanan (alutsista) yang dimiliki. Sebab, upaya untuk mengganggu kedaulatan suatu negara kini dapat dilakukan melalui serangan dunia maya, spionase dan sabotase.
"Angkatan siber ini sangat penting itu adalah matra yang keempat karena saat ini pertahanan dan keamanan tidak hanya memerlukan kekuatan seperti pesawat tempur, kapal perang, dan sebagainya. Saat ini perang sudah memasuki ranah-ranah, yaitu perang siber," katanya ketika ditemui oleh awak media di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu (4/9/2024).
Baca Juga
Atasi Serangan Siber, Fadel Muhammad Sampaikan Konsep Ini kepada Prabowo
Hadi menyebut Kementerian Pertahanan (Kemhan) sebenarnya sudah bersiap menghadapi perang siber dengan membentuk organisasi khusus yang bertugas melaksanakan dan mengkoordinasikan operasi siber di sektor pertahanan. Organisasi tersebut adalah Pusat Pertahanan Siber (Pushansiber) yang juga bertugas melaksanakan operasi persandian, dan wahana antariksa nirawak di lingkungan Kemhan.
Selain itu, pada 2017 juga sudah dibentuk Satuan Siber (Satsiber) TNI yang bertanggung jawab langsung kepada Panglima TNI untuk memperkuat pertahanan siber nasional, khususnya menjaga sumber daya informasi di lingkungan TNI dari gangguan dan penyalahgunaan maupun pemanfaatan oleh pihak-pihak lain.
"Mabes TNI sudah punya satu badan untuk menjaga administasi portal. Tetapi TNI, Kementerian Pertahanan sedang membangun kekuatan yang bisa menghadapi pada perang siber," ungkap Hadi.
Baca Juga
Wah, Serangan Siber ke Pengguna Internet di Indonesia Turun Drastis 38,08%
Mantan Panglima TNI itu juga menyebut perang siber sebenarnya tidak hanya serangan dunia maya, spionase dan sabotase. Upaya mempengaruhi opini publik, baik di dalam maupun luar negeri melalui media komunikasi untuk juga menjadi bagian dari perang siber.
"Perang siber itu membutuhkan media, media informasi untuk membangun opini masyarakat. Jadi perang siber adalah perang pikiran. Kita mempengaruhi pikiran masyarakat untuk melaksanakan kehendak," tegasnya.
Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto mengakui pihaknya sudah menerima perintah dari Presiden Joko Widodo untuk membentuk Angkatan Siber sebagai matra keempat di institusi TNI.
"Saya sudah diperintah Pak Presiden, kemarin juga dari MPR waktu pidato, untuk membuat TNI Angkatan Siber," katanya usai menghadiri Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi I DPR RI di Komplek Parlemen, Jakarta Pusat, Selasa (3/9/2024).
Sejauh ini, TNI baru berencana untuk membuat pusat siber di Markas Besar (Mabes) TNI dan juga di setiap matra. Menurut Agus, rekrutmen personelnya bakal berasal dari lulusan SMA dan universitas.
Baca Juga
Namun, menurutnya, satuan siber itu bakal berbeda dengan satuan-satuan lainnya di TNI karena akan lebih banyak diisi oleh personel sipil. Nantinya, kata dia, rekrutmen satuan tersebut akan lebih memprioritaskan keahliannya.
"Memang kalau siber itu berbeda dengan satuan lain, mungkin akan lebih banyak orang sipilnya," kata dia.
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo dalam pidato pembukaan Sidang Tahunan MPR RI 2024 di Komplek Parlemen, Jakarta Pusat pada Jumat (16/8/2024)juga sempat menyinggung urgensi pembentukan angkatan siber sebagai matra keempat TNI.
Menurut pria yang akrab disapa Bamsoet itu, dunia saat ini sudah memasuki era Internet of Military Things (IoMT) atau Internet of Battlefield Things (IoBT). IoMT dan IoBT merupakan teknologi internet untuk segala atau internet of things (IoT) dengan memanfaatkan jaringan yang terkoneksi dengan sensor, perangkat wearable, serta perangkat infrastruktur IoT untuk keperluan militer.
Baca Juga
Negara Lain Sudah Buat, TNI Harus Segera Bentuk Angkatan Siber sebagai Matra Keempat
“Di mana operasi militer semakin dapat dikendalikan dari jarak yang sangat jauh, dengan lebih cepat, tepat, dan akurat," ujarnya.
Sebagai catatan, IoMT dan IoBT merevolusi operasi militer dengan menawarkan pemahaman situasional yang lebih baik berdasarkan data yang ada memberikan manfaat kemampuan penilaian risiko yang lebih baik, dan waktu respons yang lebih cepat. Pengembangan IoMT dan IoBT ini membekali personel militer dengan alat yang diperlukan untuk membuat keputusan dan melaksanakan tindakan yang terukur di tengah medan perang yang bersifat dinamis.

