Atasi Serangan Siber, Fadel Muhammad Sampaikan Konsep Ini kepada Prabowo
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Ketua MPR RI Fadel Muhammad mengusulkan untuk membentuk cyber security academy, sebagai solusi dalam mengatasi permasalahan digital seperti cyber attack atau serangan siber yang terjadi di Indonesia saat ini
Cyber security academy merupakan sebuah akademi atau sekolah yang dibangun dengan kolaborasi antara swasta, masyarakat, dan pemerintah.
“Akademi ini akan melahirkan tenaga-tenaga cyber security yang canggih, untuk menghadapi tantangan siber yang makin hari makin hebat ke depan,” ujar Fadel di sela acara ITSEC Cybersecurity Summit 2024 di Jakarta, Rabu (21/8/2024).
Baca Juga
Dukung Keamanan Digital Infrastruktur, ITSEC Asia (CYBR) Gelar Cybersecurity Summit 2024
Fadel bilang, usulan ini telah disampaikannya bersama dengan Presiden Komisaris PT ITSEC Asia Tbk Patrick Dannacher kepada Presiden terpilih, Prabowo Subianto. Die berharap pada masa pemerintahan ke depan, dapat memproteksi negara Indonesia dari berbagai sumber serangan cyber.
Menurutnya, sangat penting upaya dari pemerintah untuk berkolaborasi agar menjaga tidak kembali serangan yang lebih hebat terjadi dalam infrastruktur.
Di samping itu, Presiden Direktur PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) Joseph Edi Hut Lumban Gao memaparkan bahwa akademi ini sudah masuk ke dalam tahap kerja sama bilateral dengan universitas, dan apabila nantinya akan disupport oleh Pemerintah, maka akademi ini harapannya dapat lebih masif dan dapat distandarisasi.
Ia menjelaskan, bahwa yang ditekankan dalam akademi ini adalah kompetensi pengetahuan akan cyber security seperti defense, pembentukan SOP, dan lain-lain.
Baca Juga
Net Buy Asing Terus Meningkat Rp 1,79 Triliun, Saham Bank Ini kembali Diborong
Lebih lanjut ia memaparkan bahwa untuk menjaga keamanan cyber di Indonesia, terdapat tiga faktor penting yaitu people, process, dan technology. Usai membentuk kesadaran dan kompetensi dari sumber daya manusia, setelah proses baru akan dilengkapi dengan teknologi.
“Maka dari itu ITSEC sangat terfokus kepada pembangunan talenta, kita selalu membangun kesadaran karena kebanyakan data cyber security attack itu dimulai dari ignorance atau ketidak tahuan, jadi people atau SDM nya tidak paham atau tidak sadar bahwa apa yang mereka kerjakan itu sebenarnya mengancam keamanan cyber,” terangnya.
Sebagai catatan, 20 Juni 2024 Pusat Data Nasional (PDN) telah mengalami serangan siber dan pelaku menggunakan malware yang akhirnya meminta tebusan sekitar US$ 8 juta (Rp 131 miliar), hal ini mengakibatkan sebanyak 34 juta data pengguna paspor yang bocor dan disebar oleh hacker. Fadel menilai bahwa kebocoran data ini menjadi pintu menuju "bencana" nasional bidang siber.
"Data yang bocor bisa dimanfaatkan pihak berkepentingan, termasuk negara lain," terangnya. Sehingga, permasalahan ini perlu diatasi dengan sistematis, terstruktur dari level pusat hingga daerah. (CR-4)

