Menkominfo: Pembentukan Angkatan Siber TNI Mendesak
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi menyatakan bahwa pembentukan angkatan siber sebagai matra keempat TNI setelah setelah TNI Angkatan Darat (AD), TNI Angkatan Laut (AL), dan TNI Angkatan Udara (AU) sudah mendesak.
Menurut Budi Arie, perang yang akan terjadi beberapa tahun ke depan bukanlah perang fisik yang mengandalkan pasukan dan alat utama sistem pertahanan (alutsista). Melainkan perang siber yang menargetkan komputer dan jaringan dengan melibatkan serangan dunia maya, spionase, dan sabotase.
"Angkatan siber sebagai pertahanan negara itu sudah menjadi concern (perhatian) seluruh dunia karena perang ke depan ini memperhatikan atau memerlukan unsur ketahanan siber sehingga gagasan itu menjadi krusial," katanya ketika ditemui di Komplek Parlemen, Jakarta Pusat, Rabu (4/9/2024).
Baca Juga
Pemerintah Usulkan Pembetukan TNI Angkatan Siber, Ini Alasannya
Dia menyebut, Singapura belum lama ini sudah terlebih dulu membentuk Digital and Intelligence Service (DIS) pada 28 Oktober 2022. Hal ini tentunya harus menjadi perhatian bagi Indonesia.
Selain Singapura negara lain yang diketahui memiliki angkatan perang siber adalah Amerika Serikat (AS) dengan United States Cyber Command (USCYBERCOM) dan Prancis dengan Commandement de la Cyberdéfens. Kemudian, Pakta Pertahanan Atlanik Utara atau North Atlantic Treaty Organization (NATO) dengan Cooperative Cyber Defence Centre of Excellence (CCDCOE).
"Singapura sudah punya angkatan keempat angkatan siber. Jadi, kita ini negara sebesar kita memerlukan pertahanan siber yang kuat. Karena kalau negara-negara maju 10-20 ke depan itu bukan perang fisik tetapi perang siber," papar Budi Arie.
Baca Juga
TNI Diminta Bentuk Angkatan Siber, Bamsoet Ungkap Sejumlah Alasan Ini
Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengakui pihaknya sudah menerima perintah dari Presiden Joko Widodo untuk membentuk Angkatan Siber sebagai matra keempat di institusi TNI.
"Saya sudah diperintah Pak Presiden, kemarin juga dari MPR waktu pidato, untuk membuat TNI Angkatan Siber," katanya usai menghadiri Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi I DPR RI di Komplek Parlemen, Jakarta Pusat, Selasa (3/9/2024).
Sejauh ini, TNI baru berencana untuk membuat pusat siber di Markas Besar (Mabes) TNI dan juga di setiap matra. Menurut Agus, rekrutmen personelnya bakal berasal dari lulusan SMA dan universitas.
Baca Juga
Namun, menurutnya, satuan siber itu bakal berbeda dengan satuan-satuan lainnya di TNI karena akan lebih banyak diisi oleh personel sipil. Nantinya, kata dia, rekrutmen satuan tersebut akan lebih memprioritaskan keahliannya.
"Memang kalau siber itu berbeda dengan satuan lain, mungkin akan lebih banyak orang sipilnya," kata dia.
Ketua MPR Bambang Soesatyo dalam pidato pembukaan Sidang Tahunan MPR 2024 di Komplek Parlemen pada Jumat (16/8/2024)juga sempat menyinggung urgensi pembentukan angkatan siber sebagai matra keempat TNI.
Baca Juga
Wah, Serangan Siber ke Pengguna Internet di Indonesia Turun Drastis 38,08%
Menurut pria yang akrab disapa Bamsoet itu, dunia saat ini sudah memasuki era Internet of Military Things (IoMT) atau Internet of Battlefield Things (IoBT). IoMT dan IoBT merupakan teknologi internet untuk segala atau internet of things (IoT) dengan memanfaatkan jaringan yang terkoneksi dengan sensor, perangkat wearable, serta perangkat infrastruktur IoT untuk keperluan militer.
“Di mana operasi militer semakin dapat dikendalikan dari jarak yang sangat jauh, dengan lebih cepat, tepat, dan akurat," ujarnya.
Sebagai catatan, IoMT dan IoBT merevolusi operasi militer dengan menawarkan pemahaman situasional yang lebih baik berdasarkan data yang ada memberikan manfaat kemampuan penilaian risiko yang lebih baik, dan waktu respons yang lebih cepat. Pengembangan IoMT dan IoBT ini membekali personel militer dengan alat yang diperlukan untuk membuat keputusan dan melaksanakan tindakan yang terukur di tengah medan perang yang bersifat dinamis.

