Progres Fisik Capai 80% Lebih, Stasiun MRT Thamrin-Monas Akan Beroperasi Tahun 2027
JAKARTA, investortrust.id – PT MRT Jakarta (Perseroda) mengungkapkan, saat ini progres fisik pembangunan proyek CP 201 Stasiun Thamrin-Monas telah mencapai lebih dari 80% dan ditargetkan akan beroperasi di tahun 2027.
“Per 25 Agustus 2024, perkembangan pembangunan CP201 Stasiun Thamrin dan Monas telah mencapai 80,75% melampaui target 77,52 persen. Kedua stasiun ini ditargetkan selesai dan beroperasi pada 2027 mendatang,” kata Direktur Konstruksi MRT Jakarta, Weni Maulina dalam keterangan resmi, diakses Rabu (4/9/2024).
Adapun per 30 Agustus 2024, MRT Jakarta telah menyelesaikan pembangunan entre 1 Stasiun Monas dengan metode konstruksi box jacking.
“Konstruksi akses keluar masuk (passageway) penumpang ini menggunakan metode box jacking, yaitu mendorong box beton secara horisontal menggunakan hydraulic jack yang secara simultan menggali tanah di bagian depan menggunakan eskavator. Ada sekitar lima segmen box yang digunakan. Setiap segmennya berukuran lebar sekitar 13 meter,” jelas Weni.
Baca Juga
Dirut MRT Jakarta Buka Suara Rencana Perpanjangan Rute hingga Tangerang Selatan
Uniknya, lanjut Weni, metode box jacking ini belum banyak digunakan dalam proyek infrastruktur di Indonesia. Bahkan, metode ini merupakan pertama kalinya dalam proyek infrastruktur perkeretaapian dan MRT Jakarta telah sukses mengimplementasikannya.
“Metode ini dipilih karena tidak memerlukan rekayasa lalu lintas atau traffic diversion. Biasanya, rekayasa lalu lintas akan dilakukan saat ada galian terbuka ketika menerapkan metode konstruksi bawah tanah pada umumnya. Selain itu, metode ini sesuai dengan letak entre yang berada di kawasan Jalan Medan Merdeka Barat yang sangat dekat dengan area ring 1 Istana Negara,” tuturnya.
Koridor untuk akses keluar masuk penumpang ini, menurut Weni, akan menghubungkan area beranda peron (concourse) Stasiun Monas dan Jalan Museum.
“Panjang entre ini sekitar 65 meter, lebar 12,2 meter, dan tinggi sekitar 6,1 meter. ‘Terowongan’ yang berada di Jalan Museum, Jakarta Pusat ini dibangun pada kedalaman 8,1 meter dari permukaan tanah dan dikerjakan selama sekitar 35 minggu sejak November 2023,” tandasnya.
Baca Juga
MRT Jakarta Fase 2 Bundaran HI-Ancol Barat Ditargetkan Beroperasi Penuh pada Akhir 2029
Weni menambahkan, metode ini masih jarang diterapkan di Indonesia sehingga dapat menjadi rujukan untuk pembelajaran atau kemajuan bagi industri konstruksi negara. “Rencananya, entre 1 ini akan dilengkapi dengan tangga, eskalator, dan lift,” imbuhnya.
Berdasarkan catatan investortrust.id, segmen pertama yang dibidik akan beroperasi pada tahun 2027 adalah rute Thamrin-Monas dalam paket CP 201. Sedangkan yang akan beroperasi penuh pada tahun 2029 adalah keseluruhan MRT Jakarta Fase 2.
Adapun total investasi yang dikucurkan dalam pembangunan keseluruhan MRT Jakarta Fase 2 ini sekitar Rp 44,3 triliun yang terdiri dari dua Fase yakni 2A dan 2B.
Weni pun memaparkan, per bulan Juli 2024, progres rata-rata pengerjaan Fase 2A saat ini telah mencapai 37,55% dengan rincian CP 201 (Bundaran HI-Harmoni) sekitar 78,5%, CP 202 (Harmoni-Mangga Besar) sekitar 32,22%, dan CP 203 (Mangga Besar-Kota) berkisar 57,89%.
“Total pengerjaannya di fase 2A ini sudah di angka 37,55%. Itu sudah termasuk dengan pekerjaan railway system (CP 205) dan rolling stock-nya (CP 206),” papar Weni beberapa waktu lalu.
Perlu diketahui, MRT Jakarta Fase 2A (Bundaran HI-Kota) dikerjakan dalam tiga paket kontrak yakni CP 201, CP 202, dan CP 203 dengan total nilai investasi sebesar Rp 25,3 triliun melalui dana pinjaman kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Jepang (Japan International Cooperation Agency/JICA).
Tiga paket kontrak tersebut dikerjakan oleh dua kontraktor, yaitu kontraktor Shimizu-Adhi Karya Joint Venture (SAJV) yang menggarap CP 201 dan CP 202. Sedangkan CP 203 digarap oleh PT Hutama Karya (Persero).
Sementara itu, menurut Weni, progres MRT Jakarta Fase 2B (Mangga Dua-Ancol Barat) saat ini telah melewati tahap studi kelayakan (feasibility study/FS) dan akan beroperasi fully underground atau sepenuhnya berada di bawah tanah.
“FS-nya sudah selesai, kita sedang dalam persiapan dokumen trase, kemudian penetapan lokasi (Penlok), dan juga persiapan untuk mulai basic engineering design,” ujar Weni.
Weni juga mengungkapkan, MRT Jakarta Fase 2B ini mendapatkan pendanaan dari kerja sama pemerintah Indonesia dengan Negeri Sakura melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) sebesar Rp 19 triliun.
“(Investasi) yang 2B-nya itu kurang lebih di angka Rp 19 triliun, dan ini termasuk dengan deponya (depo Ancol Marina),” ungkap dia.
Melansir dari laman jakartamrt.co.id, proyek pembangunan MRT Jakarta Fase 2 membentang sepanjang sekitar 11,8 km dari kawasan Bundaran HI hingga Ancol Barat.
Fase 2 ini melanjutkan Koridor Utara-Selatan Fase 1 yang telah beroperasi sejak 2019 silam, yaitu dari Lebak Bulus sampai dengan Bundaran HI. Dengan hadirnya Fase 2 ini, total panjang jalur utara-selatan menjadi sekitar 27,8 km dengan total waktu perjalanan dari Stasiun Lebak Bulus Grab hingga Stasiun Kota sekitar 45 menit.

