Kepala BKKBN: Remaja Calon Pemimpin Masa Depan Wajib Kuasai High Skill
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dokter Hasto Wardoyo menyebut para generasi muda sekarang ini adalah calon pemimpin masa depan sehingga wajib menguasai high skill.
Populasi usia remaja di Indonesia saat ini telah mengambil porsi terbesar di antara usia lainnya, terdiri dari 33,75% generasi milenial dan 29,23% Generasi Z dan Alpha. Jumlah remaja (usia 10-24 tahun) sebanyak 64 juta jiwa atau sekitar 28,6% dari total penduduk Indonesia (Proyeksi Penduduk 2000-2025). Oleh sebab itu, remaja menjadi fokus perhatian penting.
“Saat ini bangsa kita masih di medium low skill, Anda sebagai calon pemimpin masa depan, saya titip ayolah skill kita tingkatkan sama-sama. Jangan low atau medium, tapi high skill,” jelas Hasto Wardoyo dalam keterangan tertulis yang dikutip Jumat (16/8/2024).
Menurutnya, untuk dapat menjadi pemimpin, seseorang mesti memiliki Human Capital Index (HCI) yang cukup agar memiliki skill (keterampilan) yang tinggi. Adapun yang menjadi penyebab HCI rendah meliputi rendahnya literasi, rendahnya kualitas pendidikan dan pelatihan.
Baca Juga
BKKBN Dorong Semua Pihak Jalin Kolaborasi untuk Tingkatkan Kualitas Remaja
"Harus kuasai skill yang tinggi, jangan hanya skill yang rendah-rendah saja. Saya yakin adik-adik remaja menguasai teknologi, ini high skill. Kalau saya sebagai ahli bayi tabung memiliki skill mempertemukan sperma dan sel telur sampai menjadi embrio," tuturnya.
Dokter Hasto menyebutkan bahwa dalam dunia pendidikan 90% mayoritas diajari materi hard skill, sementara soft skill hanya 10%. Sedangkan kondisi di dunia kerja sebaliknya, dibutuhkan 80% mindset, dan 20% teknis.
"Ilmunya bagus tapi soft skill-nya kurang atau ilmunya kurang bagus tapi soft skill-nya bagus. Dari kedua jenis tersebut saya harap adik-adik sekalian tidak termasuk. Kita harus punya hard skill dan soft skill yang sama-sama bagus," ujarnya.
Lebih lanjut, ia berharap bahwa generasi muda saat ini dapat memanfaatkan kesempatan untuk dapat keluar dari middle income trap atau jebakan pendapatan menengah. Sehingga pada 2035 kelak Indonesia dapat sesukses Jepang dalam mendongkrak produk domestik bruto (PDB).
Baca Juga
BKKBN Sebut Jumlah Keluarga Berisiko Stunting Turun Jadi 8,68 Juta
"Pesannya jangan sampai kita growing old before growing rich, ini persoalan serius. Ketika bangsa kita sudah menua tapi pendapatan per kapitanya belum tinggi maka kita terjebak," pesan Hasto Wardoyo.
Sebagai catatan, berdasarkan data Sakernas Agustus 2023, hampir separuh pekerja usia produktif adalah pekerja informal (47,2%). Pekerja informal perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki. Lebih dari sepertiga pekerja usia produktif bekerja kurang dari 35 jam seminggu (35,2%), didominasi perempuan. Sehingga, ia meminta kepada para mahasiswa yang sedang mengenyam pendidikan di kampus untuk terus menyiapkan diri agar terus produktif dan tidak menganggur.
"Satu minggu itu 160 jam lebih, tetapi banyak generasi muda kita bekerja kurang dari 35 jam. Inilah apabila bangsa yang besar belum tentu sukses karena belum menggunakan waktunya dengan baik," ucapnya.
Sedangkan, apabila dilihat dari data proporsi jenjang pendidikan penduduk Indonesia, jumlah yang tidak/belum mengenyam pendidikan cukup tinggi yakni sejumlah 65.018.451 jiwa (Dirjen Dukcapil, 2022). "Kondisinya memprihatinkan karena mayoritas lulusan SD SMA," terang Hasto Wardoyo.

