50% Anak Muda Stres, BKKBN Ungkap Pentingnya Jaga Kesehatan Mental bagi Remaja
JAKARTA, investortrust.id - Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Nopian Andusti, mengungkapkan bahwa menjaga kesehatan mental tak hanya untuk orang dewasa, tapi remaja juga. Hal ini diungkapkan usai menjelaskan bahwa menurut survei UNICEF Indonesia (2021), hampir 50% anak muda di Indonesia merasa tertekan, cemas, atau mengalami stres berat.
Hasil data yang sama mengungkapkan bahwa sekitar 50% dari masalah kesehatan mental dimulai pada usia 14 tahun, dan sekitar 75% pada usia 24 tahun. Menurutnya, konsekuensi dari kegagalan menangani kondisi kesehatan mental remaja dapat berlanjut hingga dewasa, mengganggu kesehatan fisik dan mental serta membatasi kesempatan untuk menjalani kehidupan yang memuaskan sebagai orang dewasa.
Sehingga, ia menghimbau berapa pentingnya para remaja untuk menjaga kesehatan mentalnya. Sebab, kesehatan mental yang baik membantu remaja merasa lebih percaya diri dan yakin dalam kemampuan mereka.
“Mereka memiliki motivasi untuk menetapkan tujuan, bekerja keras untuk mencapainya, dan merasakan kepuasan ketika mencapai kesuksesan,” ungkapnya dalam keterangan resmi yang dikutip Selasa (29/10/2024).
Baca Juga
Jaga Kesehatan Mental Sebelum Pensiun, Tak Ada Salahnya Simak 3 Tips Berikut Ini
Nopian mengatakan, remaja membutuhkan kasih sayang dan dukungan berkelanjutan ketika mereka menjalani dan menghadapi perubahan fisik, sosial, seksual dan psikologis yang cepat dan mengeksplorasi perkembangan identitas mereka sendiri.
Dalam kesempatan yang sama, Chief of Child Protection Program UNICEF Milen Kidane juga menuturkan bahwa kesehatan mental bukan hanya pembicaraan orang dewasa tapi semua orang juga memerlukannya. “Kesehatan mental, khususnya bagi remaja, bukan hanya sebagai kata kunci - melainkan sebuah dasar dari siapa kita," paparnya.
Baca Juga
Kemenkes Anjurkan Masyarakat Skrining Kesehatan Jiwa Minimal Setahun Sekali
Masa remaja merupakan masa krusial ketika mereka mencari tahu siapa diri, mengarahkan emosi, dan membangun landasan bagi masa depan. Tapi di sisi lain, remaja dapat merasakan tekanan yang terjadi luar biasa.
Milen berpesan bagi para remaja, tak apa untuk terbuka tentang perjuangannya. Bahkan yang mereka lakukan adalah langkah tepat dalam mendapatkan dukungan, penyembuhan dan kebahagiaan.
“Itu sebabnya, hari ini, kami di sini untuk mengatakan it’s okay not to be okay. Tidak apa-apa untuk mencari bantuan. Tidak apa-apa bila kita pelan-pelan dan menjaga kesehatan mental kita karena remaja yang bahagia menciptakan dunia yang lebih ceria,” jelasnya.
Ia pun menyatakan bahwa kesehatan mental adalah intergenerasi yaitu pembicaraan yang perlu dilakukan di dalam keluarga, komunitas dan di antara semua generasi.
“Para orangtua, wali, guru-guru dan para mentor, dukungan kalian sangat penting. Bersama kita bisa menciptakan ruang di mana anak-anak muda merasa didengar, dihargai, dan dipedulikan,” pungkasnya.

