Pemerintah RI Diam-Diam Pantau Pemilu Sela AS, Buat Apa?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pemerintah Indonesia saat ini tengah memantau dinamika politik global menyusul kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan umum sela (midterm election) di Amerika Serikat (AS). Perubahan peta kekuatan politik di Washington tersebut dinilai berpotensi membawa implikasi signifikan terhadap arah kebijakan ekonomi maupun geopolitik dunia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, kemenangan Partai Demokrat yang berhasil mengambil alih mayoritas kursi di Senat maupun Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS menjadi salah satu variabel penting yang patut diantisipasi dampaknya bagi perekonomian nasional.
"Kita juga memonitor midterm election di Amerika. Kita lihat bahwa Kongres maupun Senat dikuasai oleh Demokrat. Tentu ini akan berakibat terhadap kebijakan-kebijakan perekonomian maupun geopolitik global," kata Airlangga dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Selain konstelasi politik AS, pemerintah turut membayangi sejumlah indikator makroekonomi global yang bergerak dinamis. Faktor utama yang menjadi sorotan meliputi suku bunga bank sentral AS atau The Fed yang berada di kisaran 3,75 hingga 4%, serta imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun yang tercatat di level 4,86%.
Selain itu, pemerintah juga mencermati tingkat inflasi global yang tahun ini berada di angka 4,7% dan diproyeksikan melandai ke level 4,1% pada tahun depan, diiringi proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang dipatok pada angka 3,1% sebelum kemudian diperkirakan naik menjadi 3,4% pada tahun mendatang.
Tak hanya itu, pemerintah turut memberikan perhatian khusus pada pergerakan harga komoditas energi, terutama setelah harga minyak mentah dunia sempat melonjak menyentuh level 117 dolar AS per barel pada akhir Oktober lalu. Kendati demikian, Airlangga memastikan bahwa fluktuasi harga energi tersebut masih berada dalam koridor aman bagi postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Baca Juga
Demokrat Kuasai Kongres AS, Ini Strategi Trump Hadapi Tekanan Politik Pasca-Pemilu
"Terkait dengan situasi global, kami melihat untuk energi relatif harga pembelian kita di sektor energi di bawah 100 dolar, sekitar 93 dolar. Jadi, sampai dengan akhir tahun relatif gejolak energi itu terserap oleh APBN," tegasnya.
Sebagai informasi, pemilu sela AS yang dihelat pada 3 November 2026 memperlihatkan pergeseran dominasi politik yang cukup kentara. Partai Demokrat—yang berlambang keledai—sukses merebut mayoritas dengan mengamankan sekitar 240 hingga 245 kursi di DPR AS, jauh meninggalkan Partai Republik yang meraup sekitar 145 hingga 166 kursi.
Dominasi serupa juga terjadi di Senat. Partai Demokrat berhasil menguasai 54 kursi, sementara Partai Republik tertinggal dengan perolehan 44 kursi. Hasil pemilu sela ini praktis membuat Partai Demokrat memegang kendali penuh atas kedua majelis di Kongres AS dari tangan Partai Republik yang saat ini menaungi kepresidenan Donald Trump.
