Brent Jatuh di Bawah US$100, Pasar Berharap Perang Iran Berakhir Usai Kemenangan Demokrat di Pemilu Sela AS
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance secara terbuka menyebut perang melawan Iran sebagai penyebab kekalahan Partai Republik dalam pemilu sela. Harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari 8%.
Baca Juga
Pernyataan Vance memperkuat spekulasi bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump akan menghadapi tekanan politik lebih besar untuk segera mengakhiri konflik yang telah mengganggu pasokan energi global selama delapan bulan terakhir.
Mengutip CNBC, minyak mentah Brent, yang menjadi patokan internasional, anjlok 8,7% ke posisi US$94,62 per barel pada perdagangan Rabu (4/11/2026). Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup merosot 8,3% menjadi US$88,12 per barel.
Wakil Presiden JD Vance secara terbuka mengakui bahwa perang Iran menjadi faktor utama kekalahan Partai Republik dalam pemilu sela yang berlangsung 3 November 2026. "Alasan kami kalah adalah perang," tulis Vance melalui media sosial pada Rabu. Dia juga merujuk pernyataan Trump pada malam sebelumnya yang mengakui hal itu.
Partai Demokrat berhasil merebut mayoritas di DPR dan Senat AS. Kemenangan tersebut memberikan kekuatan politik lebih besar kepada oposisi untuk menekan Trump agar mengakhiri perang yang tidak populer di kalangan masyarakat.
Konflik dengan Iran telah mendorong kenaikan harga bensin dan solar di AS, sehingga menambah beban rumah tangga dan dunia usaha di tengah tekanan biaya hidup.
Presiden Lipow Oil Associates Andy Lipow mengatakan, hasil pemilu membuat pasar mulai memperhitungkan kemungkinan Trump akan lebih terbuka terhadap kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Menurut Lipow, Demokrat berpotensi menggunakan kewenangan anggaran Kongres untuk membatasi pendanaan perang. Tekanan tersebut dapat mempersempit ruang gerak pemerintahan Trump dalam melanjutkan operasi militer.
Dia juga menilai keputusan Trump yang sebelumnya mengumumkan pemangkasan sebagian bantuan pendanaan kepada Israel dapat meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Israel untuk mengikuti keputusan Washington.
Sebelumnya, Trump mengatakan kepada Financial Times pada Selasa bahwa dirinya tidak memiliki rencana segera untuk menyerang Iran.
Pasar minyak sebelumnya telah memperhitungkan risiko eskalasi militer setelah pemilu sela. Kekhawatiran tersebut ikut mendorong harga minyak naik lebih dari 10% sepanjang Oktober.
Minyak Anjlok Lebih dari 14% dalam Sepekan
Tekanan jual terhadap minyak semakin besar setelah sejumlah pejabat senior AS dan Iran memberikan sinyal terbuka mengenai kemungkinan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Baca Juga
Harga Minyak Turun Dua Hari Beruntun, Pasar Menanti Kesepakatan AS-Iran
Secara keseluruhan, kontrak berjangka minyak mentah telah merosot lebih dari 14% sepanjang pekan ini. Penurunan tersebut mencerminkan perubahan ekspektasi pasar dari risiko eskalasi militer menuju peluang tercapainya kesepakatan politik.
Konflik AS-Iran telah mengganggu pasokan energi global selama sekitar delapan bulan. Ketidakpastian di kawasan Timur Tengah, terutama terkait keamanan jalur pelayaran dan distribusi minyak, selama ini menjadi faktor utama yang menopang harga minyak dunia.
Meski demikian, Rebecca Babin, pedagang energi senior CIBC, memperingatkan bahwa penurunan harga minyak mungkin berlangsung terlalu cepat dan berlebihan.
Menurut Babin, pasar saat ini cenderung bereaksi terlebih dahulu sebelum mengevaluasi perkembangan secara lebih mendalam. Emosi investor masih tinggi setelah hasil pemilu yang tidak sepenuhnya diperkirakan sebelumnya.
Sebelum pemilu, banyak pengamat memperkirakan kemenangan besar Demokrat justru dapat mendorong Trump meningkatkan tekanan militer terhadap Iran. Namun, pernyataan Vance dan minimnya dukungan terbuka dari sejumlah sekutu utama AS telah mengubah asumsi tersebut.
Babin menilai perubahan persepsi ini menjadi salah satu faktor yang mempercepat aksi jual di pasar minyak.
Risiko Eskalasi Militer Masih Ada
Meskipun harga minyak anjlok, risiko konflik militer di Timur Tengah belum sepenuhnya berakhir.
Presiden Rapidan Energy dan mantan penasihat Presiden George W. Bush, Bob McNally, memperingatkan bahwa kemungkinan eskalasi militer di kawasan tersebut masih cukup besar.
Baca Juga
Harapan Diplomasi Tekan Harga Minyak, tapi Serangan di Selat Hormuz Masih Mengancam
Menurut McNally, Iran tetap mempertahankan posisi yang keras dan tidak menunjukkan kesediaan untuk mengubah sikap secara mendasar.
Dia juga menilai Trump telah menginvestasikan modal politik yang sangat besar untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Karena itu, presiden AS tersebut kemungkinan tidak akan begitu saja meninggalkan tujuan strategis tersebut.
Dengan demikian, penurunan harga minyak saat ini belum tentu menandai berakhirnya risiko gangguan pasokan energi global.
Bagi pasar energi, perkembangan politik di Washington dan peluang diplomasi AS-Iran akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah harga minyak selanjutnya.
Jika tekanan politik domestik berhasil mendorong Trump memilih penyelesaian diplomatik, harga minyak berpeluang bergerak lebih rendah seiring berkurangnya premi risiko geopolitik.
Sebaliknya, apabila negosiasi menemui jalan buntu dan ketegangan militer kembali meningkat, pasar minyak berpotensi menghadapi gelombang volatilitas baru.
