Kemenko Polkam: Spektrum Frekuensi Jadi Aset Strategis Ekonomi Digital
JAKARTA, Investortrust.id - Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) menegaskan spektrum frekuensi kini menjadi aset strategis ekonomi digital Indonesia. Pengelolaannya dinilai tidak lagi sekadar isu teknis, tetapi menyangkut daya saing dan kedaulatan nasional.
Deputi Bidang Koordinasi Komunikasi dan Informasi Kemenko Polkam, Eko Dono Indarto mengatakan, persaingan global telah bergeser dari perebutan sumber daya alam menuju penguasaan infrastruktur digital. Spektrum frekuensi, satelit, AI, hingga komputasi awan kini menjadi rebutan banyak negara.
“Kalau minyak merupakan sumber daya strategis di abad 20, maka spektrum frekuensi adalah salah satu sumber daya strategis yang harus kita amankan di abad 21 ini,” kata Eko dalam forum diskusi bersama Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) di Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Menurutnya, negara yang mengelola spektrum secara visioner akan unggul secara ekonomi, teknologi, dan geopolitik.
Kebutuhan spektrum terus meningkat seiring berkembangnya AI, IoT, video beresolusi tinggi, dan layanan realitas imersif. Hal itu mendorong kebutuhan jaringan berkapasitas besar untuk mendukung era 5G Advanced dan 6G.
Baca Juga
Kemenkomdigi: Spektrum Frekuensi Indonesia Belum Cukup untuk Implementasi 6G
“Upper 6 GHz menawarkan keseimbangan terbaik antara kapasitas tinggi dan cakupan layanan, sehingga menjadi fondasi utama menuju era 5G Advanced dan 6G,” ujarnya. Pembahasan pita frekuensi ini pun masuk dalam strategi besar ekosistem digital nasional.
Pemerintah mendorong integrasi fiber optik, seluler, Wi-Fi, satelit, pusat data, dan AI dalam satu ekosistem digital. Ke depan, satelit tidak lagi sekadar pelengkap jaringan terestrial, tetapi bagian inti infrastruktur komunikasi nasional.
Indonesia, katanya, dinilai sudah memiliki modal kuat lewat Palapa Ring, SATRIA-1, jaringan 5G, dan pusat data nasional. Namun kesenjangan digital, kebutuhan investasi, keamanan siber, dan ketergantungan teknologi asing masih jadi tantangan.
“Upper 6 GHz bukan sekadar tambahan pita frekuensi, melainkan fondasi ekonomi digital generasi berikutnya,” tutup Eko.
