Keterbatasan Spektrum Frekuensi Jadi Kendala Implementasi 5G di Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Asosiasi Internet of Things Indonesia (Asioti), Teguh Prasetya mengungkapkan, kendala utama dalam mengimplementasikan 5G di Indonesia adalah terbatasnya spektrum frekuensi. Hal ini pada akhirnya membuat sinyal 5G belum bisa dimanfaatkan sepenuhnya.
“Kendala utama adalah keterbatasan frekuensi. Sehingga dengan frekuensi spektrum yang terbatas, user belum bisa merasakan full kapabilitas dari 5G. Kalau 5G kan bisa 10 GB/detik. Atau paling tidak 1 GB/detik atau 1,5 GB/detik. Tapi kalau frekuensinya gak cukup, ya gak bisa,” ujar Teguh Prasetya di Alila Hotel, Jakarta, Kamis (9/11/2023).
Teguh Prasetya menerangkan, keterbatasan spektrum frekuensi ini berkaitan erat dengan infrastruktur. Jika hal tersebut sudah terpenuhi, maka ke depannya akan lebih mudah untuk mengimplementasikan 5G ke seluruh Indonesia.
Baca Juga
Program ASO Tuntas, Pemerintah Kini Dorong Pemanfaatan Teknologi 5G
“Jadi spektrum frekuensi harus ada dulu, baik itu yang di 700 MHz (low-band), yang di mid-band itu yang favorit kan 2,5 MHz, masih dipakai semua. Dipakai untuk satelit, untuk teleivisi. Terus kemudian yang di high-band juga,” papar Teguh.
Lebih lanjut Teguh menjelaskan, kalau spektrum frekuensi itu sudah ada maka akan mendorong lagi penerapan 5G. Sebab, eksisting penggunaan frekuensi spektrum yang dipunyai operator saat ini sudah penuh untuk dipakai 4G dan hal lainnya, sehingga tak ada ruang lagi untuk 5G.
Maka dari itu, Teguh Prasetya melalui Asioti mendorong pemerintah Indonesia untuk bergerak cepat membenahi persoalan ini. Apalagi, saat ini banyak masyarakat sudah memiliki hand set (gadget) berfasilitas 5G, namun belum bisa menggunakannya dengan maksimal karena keterbatasan sinyal.
Disebutkan oleh Teguh, kebutuhan jaringan 5G ini ada di 50 kota besar di Indonesia. Sampai dengan akhir tahun ini, hand set 5G yang sudah ada di tangan masyarakat sebanyak 27 juta. Sehingga akan menjadi masalah jika semakin banyak masyarakat punya hand set 5G, namun jaringannya tak ada.
“Nanti timbul lagi kejadian seperti dulu, rakyat akan bilang, ‘Saya beli hand set-nya kalau ada jaringannya.’ Repot lagi teman-teman operator,” tutur Teguh Prasetya. (CR-8)

