Literasi Jadi Kunci, CMO Pintu: Di Indonesia Adopsi Kripto Tak Masalah, yang Masalah Itu Pemahamannya
Poin Penting
|
SUMEDANG, investortrust.id - Dunia investasi digital, khususnya aset kripto, terus mengalami dinamika yang signifikan di tengah fluktuasi pasar global. Meski Bitcoin sempat mencatatkan performa kuartalan terburuk sejak 2018 dengan penurunan hingga 23%, optimisme terhadap adopsi teknologi ini di Indonesia justru tetap tinggi. Hal ini dibahas secara mendalam dalam acara Investortrust Goes To Campus yang digelar di Universitas Padjadjaran (Unpad), Jatinangor, Jawa Barat, Kamis (9/4/2026).
Chief Marketing Officer - Marketing & Communication Pintu Timothius Martin membagikan pandangannya mengenai fenomena trading for life dan bagaimana posisi Indonesia dalam peta adopsi kripto global. Menurutnya, potensi kripto tidak hanya dilihat dari pergerakan harga semata, melainkan dari fundamental adopsi dan regulasi yang ada.
Membuka pembicaraan, Timothius atau yang akrab disapa Timo, menanggapi istilah trading for life dengan sedikit seloroh namun realistis. Ia menekankan bahwa hal tersebut memerlukan kesiapan modal yang matang.
"Trading for life, wow. Kalau udah punya duit banyak boleh," ungkapnya di depan para mahasiswa.
Timo juga menyoroti demografi unik dalam industri kripto saat ini, di mana dominasi pria masih sangat kuat. Berdasarkan data internal Pintu, terdapat kesenjangan gender yang cukup jauh di antara para investor.
"Di Pintu itu 90% investor kripto itu adalah pria, hanya 10% yang wanita," jelasnya.
Baca Juga
Investortrust Goes To Campus Unpad Membedah Masa Depan Kripto dan Urgensi Literasi Keuangan
Ia pun memberikan analisa ringan mengenai mengapa pria lebih dominan dalam instrumen investasi berisiko tinggi ini.
"Kenapa seperti itu? Mungkin itu biasanya suka ada jokes makanya yang pria itu suka mati duluan karena high risk terus ya, high risk high return, YOLO (you only live once) terus gitu. Dan itu normal, normal. Jadi begitu ada hal yang high risk itu biasanya yang cowok yang nekat duluan," tambahnya.
Beralih ke sisi adopsi, Timo memaparkan bahwa secara global, kripto telah menjadi bagian dari gaya hidup finansial ratusan juta orang. Rasio penggunaannya pun cukup mengejutkan.
"Dari sisi adopsi secara global itu ada sekitar 700 juta orang yang sudah trading atau investasi kripto. Itu sekitar 1 banding 15, artinya dari setiap 15 orang di dunia satu orang itu pasti sudah pernah trading atau investasi kripto," tuturnya.
Di Indonesia sendiri, angka pertumbuhan investor sangat masif hingga melampaui pasar modal konvensional. Timo mencatat bahwa saat ini ada sekitar 21 juta investor kripto di Tanah Air. Namun, ia menekankan bahwa tantangan utama bukan lagi pada menarik minat orang, melainkan pada pemahaman mereka.
"Jadi di Indonesia tadi juga disebutkan yang masalah itu bukan adopsinya, yang masalah itu adalah literasi dan edukasinya. Jadi adopsi tidak masalah sama sekali," tegasnya.
Timo juga mengingatkan bahaya mengikuti tren tanpa dasar ilmu yang kuat. Banyak investor baru yang terjerumus karena faktor lingkungan media sosial tanpa melakukan riset mandiri.
Tapi banyak orang yang coba-coba tapi nggak ngerti. Mungkin karena nonton YouTube, melihat influencer, ikut-ikutan jadi boncos gitu ya," kata Timo.
Lebih lanjut, ia menjelaskan kegunaan kripto di negara-negara dengan ekonomi tidak stabil seperti Brazil, Turki, dan Argentina. Di sana, kripto bukan lagi alat spekulasi, melainkan cara bertahan hidup melawan inflasi yang ekstrem.
"Jadi orang-orang di sana itu masuk ke kripto bukan untuk sebagai investasi sebenarnya, bukan untuk trading, tapi untuk menjaga value dari uang mereka," paparnya.
Solusi yang sering digunakan di negara-negara tersebut adalah stablecoins, aset kripto yang nilainya dipatok pada mata uang fiat seperti Dollar AS.
"Stablecoins itu artinya nilai kriptonya satu banding satu dengan mata uang yang ditokenisasi. Contohnya satu USDT, USD Tether itu sama dengan satu USD dan harga selalu sama," ucap Timo.
Baca Juga
Literasi Keuangan Kripto Masih Rendah, OJK Ingatkan Risiko dan Bahaya “FOMO”
Di Indonesia, pertumbuhan pesat kripto didukung oleh kerangka regulasi yang sangat kuat dan progresif. Timo memuji sistem proteksi konsumen yang melibatkan bursa, kliring, dan kustodian.
"Artinya apa sih? Artinya kalau kalian masukin uang ke Pintu nih mau beli Bitcoin gitu ya, masukin deposit ke rupiahnya ke Pintu, itu uangnya actually tidak masuk ke Pintu tapi lewatin lembaga kliring," ungkapnya.
Sistem ini memastikan keamanan aset pengguna meskipun terjadi risiko pada penyedia layanan. Ia menjelaskan pembagian penyimpanan aset yang sangat ketat sesuai aturan pemerintah.
"70% nya disimpan di sana. Amit-amit kalau Pintu-nya bangkrut, maximum damage-nya itu 30%. 70% nya disimpan oleh lembaga yang di tengah. Ini peraturan yang mungkin kalau kalian tertarik dengan ekonomi dan finansial, ini peraturan yang menurut aku sendiri sangat inovatif di seluruh dunia," tambahnya.
Selain faktor keamanan, demografi usia juga menjadi mesin penggerak utama. Generasi muda yang sudah terbiasa dengan aset digital dalam gim video cenderung lebih mudah beradaptasi dengan kripto.
"Di Pintu itu sekitar 50% lebih pengguna Pintu itu dari antara umur 20 sampai 35, mungkin hampir 60% proporsinya," kata Timo.
Namun, ia memberikan catatan kritis bahwa kemudahan ini tidak boleh dianggap enteng. Kebiasaan mengonsumsi aset digital di gim tidak boleh disamakan dengan investasi.
"Kita anak muda mungkin dari awal kecil itu udah biasa main game, jadinya biasa beli Mobile Legends diamonds atau Steam punya kredit, jadi udah biasa oh beli kripto kayak beli game aja. Nah justru tapi di situ juga ada bahayanya, bahayanya adalah ini bukan game tapi uang beneran gitu ya," tegasnya.
Di sisi lain, Timo juga mengapresiasi kebijakan pajak di Indonesia yang dianggap sangat kompetitif dibandingkan negara lain yang menerapkan pajak keuntungan modal (capital gain) yang sangat tinggi. Lebih jauh, Timo menyampaikan harapannya agar teknologi blockchain tidak hanya digunakan untuk perdagangan harga, tetapi masuk ke sektor riil seperti properti melalui skema fraksionalisasi. Ia optimis inovasi ini akan lahir dari tangan para akademisi dan mahasiswa.
"Aku excited banget sih nanti untuk mungkin 2-3 tahun ke depan pasti banyak inovator-inovator seperti dari teman-teman mahasiswa ini yang akan membuat gebrakan-gebrakan real use case gitu ya," pungkasnya.

