Investortrust Goes To Campus Unpad Membedah Masa Depan Kripto dan Urgensi Literasi Keuangan
Poin Penting
|
SUMEDANG, investortrust.id - Industri aset kripto di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan adopsi yang signifikan meski menghadapi tantangan volatilitas global. Hal ini menjadi topik utama dalam acara Investortrust Goes To Campus yang digelar di Universitas Padjadjaran (Unpad), Jatinangor, Kamis (9/4/2026). Forum ini menghadirkan kolaborasi antara regulator, akademisi, dan praktisi industri untuk memberikan edukasi komprehensif bagi generasi muda.
Chief Marketing Officer - Marketing & Communication Pintu Timothius Martin mengawali sesi dengan menyoroti fenomena "Trading for Life" yang kerap menjadi impian anak muda. Namun, ia memberikan catatan penting bahwa strategi tersebut memerlukan kesiapan finansial yang matang.
"Trading for life, wow. Kalau sudah punya duit banyak boleh," ujar Timo sapaan Timothius dalam acara Investortrust Goes to Campus, di Universitas Padjadjaran, Sumedang, Jawa Barat, Kamis (9/4/2026).
Timo mengungkapkan kebahagiaannya bisa hadir di Unpad, terutama karena melihat komposisi pembicara yang didominasi perempuan. Ia memaparkan data menarik bahwa di platform Pintu, 90% investor kripto adalah pria, sementara wanita hanya 10%. Menurutnya, hal ini dipengaruhi oleh kecenderungan pria yang lebih berani mengambil risiko tinggi dalam investasi.
"Kenapa seperti itu? Mungkin itu biasanya suka ada jokes makanya yang pria itu suka mati duluan karena high risk terus ya, high risk high return, YOLO terus gitu. Dan itu normal, normal. Jadi begitu ada hal yang high risk itu biasanya yang cowok yang nekat duluan," seloroh Timo yang disambut tawa peserta.
Membahas mengenai adopsi kripto secara global, Timo menjelaskan bahwa saat ini terdapat sekitar 700 juta orang yang telah terlibat dalam perdagangan atau investasi kripto. Secara statistik, perbandingannya adalah 1 banding 15 orang di dunia.
Di Indonesia sendiri, jumlah investor kripto telah mencapai 21 juta orang, melampaui jumlah investor saham. Meski adopsinya besar, Timo menekankan bahwa tantangan utama di Indonesia adalah rendahnya pemahaman investor.
"Di Indonesia tadi juga disebutkan yang masalah itu bukan adopsinya, yang masalah itu adalah literasi dan edukasinya. Jadi adopsi tidak masalah sama sekali. Tapi banyak orang yang coba-coba tapi tidak mengerti. Mungkin karena nonton YouTube, melihat influencer, ikut-ikutan jadi boncos gitu ya," tegasnya.
Baca Juga
Literasi Keuangan Kripto Masih Rendah, OJK Ingatkan Risiko dan Bahaya “FOMO”
Ia juga membandingkan penggunaan kripto di Indonesia dengan negara-negara yang mengalami inflasi parah seperti Argentina, Turki, dan Nigeria. Di negara-negara tersebut, kripto digunakan sebagai alat menjaga nilai uang (store of value) melalui stablecoins karena sulitnya mendapatkan akses mata uang asing seperti USD di perbankan konvensional mereka.
Timo menyatakan bahwa Indonesia memiliki ekosistem yang unggul karena regulasi yang sangat jelas. Berdasarkan data, Indonesia menduduki peringkat ketujuh dunia dalam hal adopsi kripto. Hal ini didukung oleh framework perlindungan konsumen yang melibatkan lembaga bursa, kliring, dan kustodian untuk menjamin keamanan aset nasabah.
"Amit-amit kalau Pintu-nya bangkrut, maximum damage-nya itu 30%. 70% nya disimpan oleh lembaga yang di tengah. Ini peraturan yang menurut aku sendiri sangat inovatif di seluruh dunia. That's why adopsinya besar sekali," jelas Timo.
Selain faktor keamanan, ia menyebutkan bahwa demografi anak muda Indonesia yang terbiasa dengan ekosistem digital dan kebijakan pajak yang kompetitif (Pph 0,21%) menjadi pendorong utama. Namun, ia mengingatkan agar mahasiswa tidak melihat investasi kripto layaknya bermain game. "Bahayanya adalah ini bukan game tapi uang beneran gitu ya," imbuhnya.
Prinsip-prinsip Investasi
Senada dengan Timo, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unpad Prof Dian Masyita menekankan pentingnya memahami prinsip dasar risk and return. Ia mengingatkan bahwa dalam manajemen keuangan, ekspektasi keuntungan yang besar selalu berbanding lurus dengan risiko yang besar pula, sehingga investor harus memiliki strategi diversifikasi.
"Ada teori portofolio tadi, jangan menyimpan telur di satu keranjang. Artinya kalau 30 telur satu keranjang sekali jatuh, jatuh semua gitu. Nah, teori portofolio ini adalah basic-nya teori investasi, sehingga begitu juga keputusan yang Anda ambil sebagai investor atau calon investor," papar Dian.
Baca Juga
OJK Jawa Barat Tekankan Pentingnya Literasi Keuangan dan Legalitas Aset Kripto di Indonesia
Ia menjelaskan bahwa sebelum memilih instrumen, baik itu deposito, obligasi, saham, hingga kripto, seseorang harus memahami profil risikonya. Khusus untuk kripto, Dian menyoroti perbedaan mendasar antara sistem keuangan terpusat (centralized) dengan keuangan terdesentralisasi atau Decentralized Finance (DeFi).
"Pahami dulu konsep DeFi ini baru Anda memutuskan. Decentralized finance itu adalah replikasi fungsi-fungsi keuangan tradisional tapi caranya open, kemudian terdesentralisasi, tidak perlu izin, tidak perlu ke bank, tidak perlu ada Bank Indonesia," jelasnya.
Lebih lanjut, Dian juga memperingatkan tentang sifat aset kripto yang sepenuhnya virtual. Ia menegaskan bahwa investor harus memiliki pemahaman imajinatif sekaligus teknis karena aset ini tidak memiliki wujud fisik.
"Gambar-gambar yang warna emas Bitcoin atau apa itu hanya gambar doang. Tidak akan pernah Anda pegang wujudnya, tidak pernah Anda simpan di kantong," katanya.
Dari sisi regulasi, Kepala Direktorat Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Provinsi Jawa Barat Melati Usman menjelaskan transisi pengawasan aset kripto dari Bappebti ke OJK. Ia menekankan bahwa OJK kini memiliki peran lebih luas dalam mengatur inovasi sektor keuangan, termasuk aset digital, melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 (UU P2SK).
Melati menegaskan posisi hukum kripto di Tanah Air sebagai komoditas, bukan alat tukar. "Di Indonesia saat ini, aset kripto adalah aset perdagangan, bukan pembayaran. Jadi kita masih menganggap itu bagian dari dalam portofolio yang tadi Prof jelaskan di paling bawah," tegas Melati.
OJK juga terus memantau ekosistem perdagangan aset digital, termasuk keberadaan 96 penyelenggara P2P lending berizin hingga Maret 2026. Melati mengingatkan masyarakat untuk selalu memeriksa legalitas platform melalui situs resmi OJK sebelum bertransaksi, baik untuk investasi kripto maupun pinjaman daring.
Mengenai tingkat literasi keuangan, Melati memaparkan data yang cukup mengejutkan di mana indeks literasi mahasiswa masih berada di angka 61,76%. Angka ini lebih rendah dibandingkan kelompok ibu rumah tangga yang mencapai 62,67%. Hal ini menunjukkan perlunya penguatan materi keuangan di lingkungan kampus.
"Ibu rumah tangga relatif lebih baik nih dari mahasiswa. Iya kan? 62,67%. Ya, karena mungkin memang lebih punya duit kali ya?," ucap Melati.
Tugas Besar Literasi
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK Djoko Kurnijanto mengungkapkan, meski tingkat inklusi keuangan nasional telah mencapai lebih dari 80%, literasi keuangan masih tertinggal.
“Bahkan di awal-awal OJK berdiri, kami menggolongkan literasi ini ke dalam tiga bagian, ada less literate, fair literate, sama well literate. 10 tahun yang lalu, hampir semuanya ada di paling bawah yaitu less literate. Namun alhamdulillah sekarang ini beranjak semakin membaik, dan ini tentunya menjadi model yang baik untuk kita ke depannya,” ujarnya.
Meski begitu, Djoko menekankan bahwa kesenjangan tersebut menjadi semakin nyata ketika dikaitkan dengan investasi kripto yang pertumbuhannya sangat pesat. Di mana, data per Februari 2026 terdapat 21,07 juta konsumen aset kripto di Indonesia, dengan mayoritas berasal dari kalangan muda, termasuk mahasiswa.
“Dari data Cryptocurrency dan Chainalysis yang mensurvei 100 orang, hanya 30 orang yang paham kripto. Inilah kemudian yang membuat kami terus melakukan langkah-langkah bagaimana caranya supaya orang yang melakukan investasi kripto ini tidak sekedar ikut-ikutan,” katanya.
Djoko menilai, kondisi ini berpotensi mendorong pelaku investasi yang tidak rasional, salah satunya karena fenomena fear of missing out (FOMO). Jangan sampai hanya karena ingin terlihat update atau tak ketinggalan tren, seseorang melakukan investasi tanpa pemahaman yang cukup.
Baca Juga
Literasi Keuangan dan Kripto Penting, Rektor Unpad Ingatkan Risiko dan Peluang
Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) Prof Arief Sjamsulaksan Kartasasmita juga menekankan pentingnya literasi keuangan, termasuk pemahaman terhadap kripto dan investasi. Hal itu, kian penting di tengah pesatnya perkembangan produk keuangan digital saat ini.
Menurut Arief, masyarakat khususnya mahasiswa dan kalangan akademisi perlu memiliki pemahaman yang memadai agar tidak terjebak dalam berbagai risiko finansial yang semakin kompleks. Ia menilai, tanpa literasi yang baik, keberagaman produk seperti pinjaman daring, paylater, hingga aset kripto bisa berpotensi menimbulkan masalah di masa depan.
“Sekarang kita dihadapkan pada begitu banyak produk keuangan. Jika tidak dipahami dengan baik, hal ini bisa menjadi sumber permasalahan ke depan,” ujarnya.
“Ini adalah peluang, bukan ancaman, selama kita mampu memahami dan mengelolanya dengan baik,” tambah Arief.
Wakil Pemimpin Redaksi Investortrust.id Abdul Aziz mengatakan, Goes to Campus adalah salah satu upaya dalam membantu OJK dan pedagang aset kripto mengurangi gap antara pemahaman dan akses masyarakat terhadap instrumen keuangan.
Di sisi lain, meskipun indeks literasi keuangan nasional mengalami peningkatan, kesenjangan dengan tingkat inklusi keuangan masih cukup besar. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat terjebak dalam praktik keuangan ilegal, seperti pinjaman online ilegal, investasi bodong, hingga judi online. Oleh karena itu, kegiatan edukasi menjadi penting untuk menjembatani kesenjangan tersebut.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membantu mengurangi gap antara literasi dan inklusi keuangan, khususnya di kalangan mahasiswa agar mereka tidak hanya memiliki akses terhadap produk keuangan, tetapi juga memahami risikonya,” pungkas Abdul Aziz.

