Literasi Keuangan dan Kripto Penting, Rektor Unpad Ingatkan Risiko dan Peluang
Poin Penting
|
SUMEDANG, investortrust.id – Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) Prof Arief Sjamsulaksan Kartasasmita menekankan pentingnya literasi keuangan, termasuk pemahaman terhadap kripto dan investasi. Hal itu menurutnya kian penting di tengah pesatnya perkembangan produk keuangan digital saat ini.
Menurut Arief, masyarakat khususnya mahasiswa dan kalangan akademisi perlu memiliki pemahaman yang memadai agar tidak terjebak dalam berbagai risiko finansial yang semakin kompleks. Ia menilai, tanpa literasi yang baik, keberagaman produk seperti pinjaman daring, paylater, hingga aset kripto bisa berpotensi menimbulkan masalah di masa depan.
“Sekarang kita dihadapkan pada begitu banyak produk keuangan. Jika tidak dipahami dengan baik, hal ini bisa menjadi sumber permasalahan ke depan,” ujarnya dalam acara Investortrust Goes to Campus, di Universitas Padjadjaran, Sumedang, Jawa Barat, Kamis (9/4/2026).
Baca Juga
OJK Jawa Barat Tekankan Pentingnya Literasi Keuangan dan Legalitas Aset Kripto di Indonesia
Meski demikian, Arief menegaskan bahwa perkembangan tersebut tidak sepenuhnya negatif. Ia melihat fenomena ini sebagai peluang yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesiapan generasi muda dalam menghadapi tantangan ekonomi di masa depan.
Ia mendorong mahasiswa, dosen, dan tenaga pendidik untuk menjadikan literasi keuangan sebagai “senjata” dalam membangun masa depan yang lebih baik, bukan sebagai sumber risiko. Dengan pemahaman yang tepat, berbagai instrumen keuangan modern, termasuk kripto, dapat dimanfaatkan secara produktif dan bertanggung jawab.
“Ini adalah peluang, bukan ancaman, selama kita mampu memahami dan mengelolanya dengan baik,” ungkap Arief.
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Februari 2026, jumlah konsumen kripto tercatat 21,07 juta, meningkat dibanding posisi Januari 2026 yang hanya 20,70 juta konsumen. Nilai transaksi aset kripto tercatat sebesar Rp 24,33 triliun per Februari , bahkan pajak ke negara nyaris capai Rp 2 triliun.
Mahasiswa merupakan kelompok yang sangat dekat dengan teknologi digital, termasuk perkembangan aset kripto, blockchain, dan instrumen keuangan modern. Meski demikian, tingkat literasi keuangan di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Banyak anak muda yang terpapar risiko seperti fear of missing out (FOMO), investasi tanpa riset, hingga penipuan berkedok aset digital.
Baca Juga
Literasi Keuangan Kripto Masih Rendah, OJK Ingatkan Risiko dan Bahaya “FOMO”
Melihat urgensi tersebut, diperlukan sebuah kegiatan edukatif yang mampu memberikanwawasan praktis, sudut pandang regulator, serta strategi bijak dalam mengelola keuangan di era digital.
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam sektor keuangan. Salah satu fenomena yang menonjol dalam dekadeterakhir adalah meningkatnya popularitas aset kripto sebagai instrumen investasi alternatif.
Fenomena ini semakin menarik ketika ditinjau dari sisi demografi pengguna. Berdasarkan data OJK, sekitar 62% investor kripto di Indonesia berada pada rentang usia 18–30 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa kalangan muda, khususnya mahasiswa, merupakan kelompok yang paling dominan dalam adopsi aset kripto.
Namun, tingginya pertumbuhan jumlah pengguna tidak diiringi dengan tingkat literasi yang memadai. Laporan cryptoliteracy.org (2024) menunjukkan bahwa hanya 31,8% masyarakat Indonesia yang memahami prinsip dasar aset kripto. Rendahnya tingkat literasi ini menimbulkan berbagai potensi risiko. Banyak investor pemula yang terjebak dalam spekulasi jangka pendek tanpa dasar pengetahuan yang kuat, rentan terhadap penipuan investasi berkedok kripto (crypto scam), serta menghadapi risiko kehilangan aset akibat lemahnya pemahaman mengenai keamanan digital. Dalam konteks mahasiswa, hal ini bisa berdampak serius karena keterbatasan pengalaman, daya kritis, maupun kesiapan finansial.
Di sisi lain, aset kripto juga menawarkan peluang yang tidak bisa diabaikan. Dengan demikian, literasi kripto bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi generasi muda, khususnya mahasiswa.

