Kinerja Solid Indofood (INDF) 2025, Analis Pasang Target Harga Saham Segini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) layak dipertahankan rekomendasi beli dengan target harga tinggi, seiring dengan keberhasilan perseroan mempertahankan pertumbuhan kinerja keuangan yang kuat tahun 2025.
Berdasarkan data laporan kinerja keuangan INDF, laba bersih melesat sebanyak 23,6% menjadi Rp 10,68 triliun pada 2025, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 8,64 triliun. Pendapatan bersih naik 6,7% dari Rp 115,78 triliun menjadi Rp 123,49 triliun.
Analis KB Valbury Sekuritas Akhmad Nurcahyadi mengatakan, lompatan laba INDF tahun lalu didukung dua faktor non-operasional berupa keuntungan selisih kurs (forex gain) bersamaan dengan peningkatan pesat kinerja segmen bisnis perkebunan kelapa sawit.
Baca Juga
Iran Belum Buka Selat Hormuz meski Diancam Trump, Harga Minyak Naik
Keuntungan selisih kurs naik menjadi Rp 952,21 miliar pada 2025, dibandingkan Rp 77,67 miliar pada 2024. “Kinerja ini mencerminkan ketahanan bisnis di tengah tekanan biaya bahan baku yang meningkat, khususnya pada segmen mi instan dan makanan ringan,” tulis riset tersebut.
Meski pendapatan tumbuh, tekanan biaya membuat margin laba kotor (GPM) turun menjadi 33,4% dari sebelumnya 34,7%. Tekanan tersebut dipengaruhi oleh peningkatan biaya bahan baku yang memicu peningkatan beban pokok penjualan sebanyak 8,8% yoy.
Terkait kinerja segmen agrisbisnis, KB Valbury menyebutkan, catatkan pertumbuhan pendapatan 31,8% yoy, didorong peningkatan volume dan harga jual rata-rata (ASP) produk kelapa sawit dan turunannya. Begitu juga dengan segmen Bogasari tunjukkan performa solid dengan pertumbuhan laba operasional (EBIT) sebesar 10,2% yoy menjadi Rp 2,83 triliun.
Baca Juga
Uji Coba Sudah Jalan 6 Bulan, Pemerintah Siap Terapkan Mandatori B50 Mulai Juli 2026
Sebaliknya, segmen Consumer Branded Products (CBP) menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya bahan baku, sehingga margin turun dari 21,9% menjadi 20,8%, meski tetap menjadi kontributor utama dengan porsi 61,3% terhadap total pendapatan.
“Melihat angka kinerja tersebut, kami memperkirakan kinerja INDF diproyeksikan tetap ditopang oleh segmen Bogasari dan agribisnis pada 2026,” tulisnya.
Baca Juga
RKAB 2026 Hampir Rampung, Kuota Produksi Batu Bara Dekati 600 Juta Ton
Dengan valuasi saat ini yang relatif murah mencerminkan PE sekitar 5,1 kali atau di bawah -1 standar deviasi, saham INDF dinilai masih menarik. Hal ini mendorong KB Valbury mempertahankan rekomendasi beli saham INDF dengan target harga Rp 9.150 atau setara dengan 7,1 x P/E 2026F.
Namun demikian, pemodal diminta untuk tetap memperhatikan sejumlah, seperti pelemahan daya beli, kenaikan biaya bahan baku, penurunan kinerja segmen Bogasari, serta potensi penurunan harga gandum.

