Di Kuartal II Bitcoin Tampak Masih Ragu, Altcoin Mulai Tunjukkan Arah?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Prospek Bitcoin pada kuartal II 2026 dinilai menghadapi kombinasi faktor pendukung dan tekanan, mulai dari dinamika siklus halving, kondisi makroekonomi global, hingga perilaku investor jangka panjang.
Secara historis, pola siklus empat tahunan yang dipicu oleh Bitcoin Halving masih menjadi acuan utama pelaku pasar. Halving terakhir pada April 2024 menurunkan laju inflasi pasokan Bitcoin di bawah 1% per tahun, memperkuat narasi kelangkaan. Namun, proyeksi berbasis siklus menunjukkan puncak pasar kemungkinan telah terbentuk dan fase pelemahan berpotensi berlanjut hingga mendekati kuartal IV 2026.
Dari sisi makroekonomi, ketidakpastian meningkat seiring potensi perubahan arah kebijakan moneter global. Sejumlah bank sentral utama diperkirakan kembali mempertimbangkan kenaikan suku bunga di tengah risiko inflasi, terutama akibat gangguan energi global seperti ketegangan di kawasan Selat Hormuz. Kondisi ini berpotensi menjadi hambatan bagi aset berisiko seperti Bitcoin.
Meski demikian, dilansir dari Investing, Minggu (5/4/2026) pertumbuhan likuiditas global masih menjadi faktor penopang. Ekspansi jumlah uang beredar (M2) yang terus meningkat memperkuat posisi Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap depresiasi mata uang fiat.
Di sisi lain, permintaan institusional tetap solid. Arus masuk ke ETF Bitcoin spot mendekati US$ 60 miliar, menunjukkan minat berkelanjutan dari investor tradisional (TradFi). Selama arus ini tetap positif, tekanan penurunan harga diperkirakan lebih terbatas dibanding siklus sebelumnya.
Baca Juga
Namun, indikator valuasi menunjukkan kondisi yang lebih netral. Rasio MVRV Z-Score berada di kisaran 0,5, mendekati area dasar pasar bearish, mencerminkan bahwa pasar tidak lagi berada di fase euforia, tetapi juga belum sepenuhnya memasuki fase akumulasi kuat.
Faktor lain yang menjadi perhatian adalah perubahan perilaku investor jangka panjang. Proporsi Bitcoin yang disimpan lebih dari satu tahun turun dari di atas 70% menjadi di bawah 60%, setara dengan pelepasan lebih dari 2 juta BTC ke pasar. Tekanan suplai ini berpotensi menahan kenaikan harga, terutama jika terjadi bersamaan dengan perlambatan arus masuk institusional.
Secara keseluruhan, prospek Bitcoin pada kuartal II 2026 mencerminkan kondisi pasar yang semakin matang namun kompleks. Di satu sisi, dukungan dari likuiditas global dan adopsi institusional masih kuat. Di sisi lain, tekanan makro, distribusi aset oleh investor lama, serta fase siklus yang mendekati akhir menjadi faktor yang dapat membatasi potensi kenaikan dalam jangka pendek.
Baca Juga
Meski Transaksi Turun, Pajak Kripto Justru Naik Nyaris Rp 2 Triliun
Secara terpisah, dua aset kripto seperti Chainlink (LINK) dan Uniswap (UNI) tengah menunjukkan pola pergerakan harga yang serupa. Setelah melewati tren penurunan yang panjang, keduanya kini berada dalam fase pemulihan di dalam kanal naik. Dengan kondisi pasar yang mulai stabil, LINK dan UNI terpantau mendekati area resistance penting dengan struktur higher low yang terjaga.
Karena LINK dan UNI masih bertahan di atas level support krusial serta terus membentuk higher low, pelaku pasar kini mencermati peluang terjadinya breakout. Pertanyaan utamanya adalah apakah harga LINK dan UNI mampu mempertahankan struktur ini dan melaju menuju level US$ 10 pada kuartal II.
Harga Chainlink saat ini bergerak di dalam rising channel setelah sempat mengalami penurunan tajam pada awal tahun ini, yang menunjukkan adanya fase pemulihan secara bertahap. Melansir dari Pintu, Minggu (5/4/2026), saat ini, harga bertahan di kisaran US$ 8,5–US$ 8,8, yang kini berfungsi sebagai area support terdekat, sementara strukturnya terus membentuk higher low.
Resistance utama berikutnya berada di sekitar US$ 10, lalu disusul oleh area supply yang lebih kuat di kisaran US$ 12. Jika harga berhasil menembus resistance channel, momentum kenaikan berpotensi meningkat dan mendorong pergerakan menuju level-level tersebut.
Dari sisi indikator, DMI sedang mengarah pada bullish crossover, sementara CMF mulai berusaha pulih dari area negatif, yang mengindikasikan adanya perbaikan aliran modal masuk. Meski begitu, momentumnya masih tergolong moderat, sehingga breakout yang terkonfirmasi tetap dibutuhkan untuk melanjutkan tren naik.
Harga Uniswap menunjukkan struktur yang serupa, yaitu bergerak di dalam rising channel sambil berusaha pulih dari titik terendah terbarunya. Saat ini, harga berada di kisaran US$ 3,5, masih bertahan di atas batas bawah channel dan mulai membentuk area dasar pergerakan.
Resistance terdekat berada di sekitar US$ 4, sementara hambatan yang lebih kuat berada di level US$ 5,6. Jika harga mampu menembus area-area tersebut, peluang menuju target yang lebih tinggi dalam beberapa pekan ke depan akan semakin terbuka.
Dari sisi indikator, DMI, seperti pada LINK, sedang mengarah ke bullish crossover, sedangkan CMF masih sedikit berada di area negatif tetapi mulai mendekati ambang netral. Kondisi ini membuat momentum UNI masih sedikit lebih lemah dibandingkan LINK, meskipun tekanan beli mulai meningkat.
Baik Chainlink maupun Uniswap sama-sama mulai menunjukkan tanda-tanda awal pemulihan, dengan pola ascending channel yang mengindikasikan potensi kelanjutan tren naik. Dalam jangka pendek, struktur ini masih tergolong positif selama level-level support utama tetap terjaga.
Namun, jalur menuju US$ 10 akan sangat berbeda bagi masing-masing aset. Harga LINK terlihat lebih dekat ke target tersebut dan berpotensi mencapainya apabila berhasil menembus resistance terdekat. Sebaliknya, harga UNI masih memerlukan beberapa konfirmasi breakout tambahan sebelum memiliki peluang untuk mendekati level yang sama.

