Bitcoin Anjlok 23,8% di Kuartal I 2026, Terburuk Sejak 2018
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pasar kripto global mencatat tekanan signifikan pada kuartal I 2026, dengan Bitcoin membukukan penurunan terdalam sejak 2018. Harga Bitcoin turun 23,8% sepanjang kuartal pertama dan ditutup di kisaran US$ 66.619.
Penurunan tersebut terjadi di tengah kombinasi tekanan pasar, termasuk arus keluar dana dari ETF kripto serta meningkatnya sentimen kehati-hatian investor. Data menunjukkan arus keluar ETF mencapai sekitar US$ 496,5 juta selama periode tersebut, sementara kontrak opsi senilai US$ 14,16 miliar yang berakhir di Deribit menghapus sebagian besar posisi bullish di pasar.
Kondisi ini turut mendorong indeks fear and greed ke level sangat rendah, mencerminkan meningkatnya ketidakpastian di kalangan pelaku pasar. Selain itu, faktor regulasi juga memicu volatilitas, termasuk keputusan otoritas di Amerika Serikat yang berdampak pada tekanan harga dalam waktu singkat.
Baca Juga
Geopolitik dan Derivatif Tekan Harga Bitcoin, Pasar Masuk Zona Rawan
Melansir FinanceFeeds, Minggu (5/4/2026) di sisi lain, aset kripto utama lain juga mengalami pelemahan. Ethereum tercatat masih berada jauh di bawah puncak siklusnya, sementara Solana mengalami penurunan tajam dari level tertingginya, seiring melemahnya aktivitas pasar dan likuiditas.
Meski demikian, di tengah tekanan pasar, sejumlah proyek kripto baru tetap menarik minat investor, terutama melalui skema prapenjualan yang menghimpun dana dalam kondisi pasar yang lesu. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran strategi investor ke aset berisiko tinggi dengan potensi imbal hasil besar.
Baca Juga
JPMorgan Sebut Arus Modal ke Kripto di Kuartal I 2026 Hanya Sepertiga dari Tahun Lalu
Pelaku pasar kini mencermati apakah kondisi extreme fear akan menjadi titik balik, sebagaimana pola historis yang kerap diikuti oleh fase pemulihan dalam siklus kripto sebelumnya. Namun, analis menilai pemulihan tetap bergantung pada kembalinya arus modal institusional dan stabilitas sentimen global.
Secara keseluruhan, kuartal I 2026 menandai fase konsolidasi bagi pasar kripto, dengan tekanan likuiditas dan perubahan perilaku investor menjadi faktor utama yang membentuk pergerakan harga ke depan.
Sementara itu, harga Bitcoin pada perdagangan Minggu (5/4/2026) pukul 07.15 WIB menunjukkan penguatan tipis dalam 24 jam terakhir dan diperdagangkan di level US$ 67.235 atau naik sekitar 0,5%, di tengah fluktuasi volume transaksi yang justru mengalami penurunan tajam. Berdasarkan data pasar, kapitalisasi Bitcoin tercatat sebesar US$1,34 triliun dengan kenaikan serupa 0,5%. Namun, volume perdagangan harian turun signifikan hingga 30,4% menjadi US$15,79 miliar, mengindikasikan melemahnya aktivitas transaksi di pasar.
Rasio volume terhadap kapitalisasi pasar (market cap) berada di level 1,17%, mencerminkan likuiditas yang relatif moderat. Sementara itu, fully diluted valuation (FDV) Bitcoin tercatat mencapai US$ 1,41 triliun.
Dari sisi suplai, jumlah Bitcoin yang beredar saat ini mencapai 20,01 juta BTC dari total maksimum 21 juta BTC, menandakan aset ini semakin mendekati batas pasokan akhirnya.
Pergerakan harga dalam 24 jam terakhir menunjukkan tren naik bertahap setelah sempat melemah di pagi hari. Grafik memperlihatkan momentum penguatan mulai terbentuk sejak siang hingga malam, sebelum bergerak stabil di kisaran US $67.000.
Meski harga menguat, penurunan volume transaksi menjadi sinyal bahwa kenaikan masih belum didukung partisipasi pasar yang kuat. Pelaku pasar kini mencermati apakah tren ini akan berlanjut atau justru berbalik seiring dinamika likuiditas dan sentimen global terhadap aset kripto.

