PLN Sebut Pelanggan PLTS Atap Naik 15 Kali Lipat Sejak 2018-2024
JAKARTA, investortrust.id - PT PLN (Persero) mengungkapkan minat masyarakat menggunakan energi surya semakin besar dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini terlihat dari peningkatan jumlah pelanggan PLTS atap.
Vice President Penjualan PLN, Rahmi Handayani menyebut, pada periode 2018-2024 jumlah pelanggan PLTS atap naik 15 kali lipat, dari 609 menjadi 9.324 pelanggan. Secara kapasitas juga mengalami peningkatan dari 2 MegaWatt peak (MWp) pada 2018 menjadi 197 MWp pada tahun 2024, atau naik sebanyak 98 kali lipat.
"Minat masyarakat pada PLTS atap juga tinggi. Terlihat dari kuota PLTS atap pada Juli 2024 yang terjual sebanyak 88% atau 901 MWp," kata Rahmi pada acara Focused Group Discussion PLTS dalam Opini Konsumen yang diselenggarakan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Selasa (6/8/2024).
Baca Juga
Perplatsi Tolak Permen ESDM tentang PLTS Atap, Ini 3 Poin Utamanya
Rahmi menyampaikan, terdapat potensi pemanfaatan energi surya dalam berbagai kondisi. Tren adopsi PLTS atap juga menunjukkan peningkatan signifikan dalam lima tahun terakhir.
Sementara itu, Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan, dari kacamata konsumen, penggunaan energi baru terbarukan (EBT) menjadi sangat penting. YLKI menyatakan penggunaan energi terbarukan merupakan salah satu bentuk tanggung jawab konsumen untuk mewujudkan pola konsumsi yang berkelanjutan.
“Salah satu sumber EBT yang tersedia dan mudah diakses konsumen adalah energi surya. YLKI mendorong semua pihak untuk menciptakan iklim kebijakan dan regulasi yang kondusif, sehingga masyarakat bisa dengan mudah mengakses dan menginstalasi energi surya untuk memenuhi kebutuhan energi mereka,” jelas Tulus Abadi.
Baca Juga
Revisi Permen PLTS Atap, antara Masifikasi dan ‘Grid Defection’
Selain itu, pemetaan sumber pembiayaan inovatif juga perlu dilakukan untuk memastikan kebutuhan pengembangan energi surya direalisasikan dengan optimal. Misalnya, dana desa, iuran swadaya masyarakat, dan program-program corporate social responsibility (CSR).
Edukasi publik untuk pengembangan PLTS juga perlu mendapatkan perhatian serius. Minimnya pengetahuan publik atas informasi energi yang berkelanjutan ini tentunya akan berbanding lurus dengan permintaan, sehingga diperlukan upaya edukasi melalui berbagai medium dengan bahasa yang mudah dipahami.

