Analis Optimistis GOTO Untung Tahun Ini, GTF Jadi Mesin Utama Pendongkrak Kinerja
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) diproyeksikan mulai catatkan laba bersih tahun ini. Proyeksi tersebut didukung agresifnya pertumbuhan bisnis unit usaha GoTo Financial (GTF) dan berlanjutnya pengendalian biaya segmen on demand services (ODS) Gojek.
Bahkan, BRI Danareksa Sekuritas dalam riset yang diterbitkan pekan ini memilih merevisi naik target pendapatan GOTO dari semula Rp 19,86 triliun menjadi Rp 22,36 triliun. Begitu juga dengan target laba bersih direvisi naik dari proyeksi semula Rp 595 miliar menjadi Rp 858 miliar tahun ini.
Tahun lalu, GOTO membukukan perbaikan kinerja keuangan ditunjukkan peningkatan pendapatan menjadi Rp 18,32 triliun dengan rugi bersih turun signifikan menjadi Rp 1,18 triliun. Seluruh segmen bisnis perseroan berhasil catatkan EBITDA disesuaikan positif tahun lalu.
Baca Juga
Analis Kompak Rekomendasikan ‘Buy’ Saham GoTo (GOTO), Target Harga Rata-Rata Rp 102
Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan dan Kafi Ananta mengatakan, Untuk 2026, target laba bersih tersebut mempertimbangkan proyeksi pertumbuhan GTV ODS perseroan sebesar 8,5% tahun ini, sejalan dengan panduan perusahaan yang berada di kisaran high single digit.
“Di sisi lain, GTF menjadi pilar utama dalam mendorong kinerja grup. Pada 2025, GTF berhasil mencatat EBITDA disesuaikan positif sebesar Rp 497 miliar, didukung ekspansi kredit menjadi Rp 8,7 triliun atau tumbuh 69% secara tahunan serta peningkatan pesat jumlah pengguna bulanan menjadi 26,2 juta atau naik 30% secara tahunan,” tulisnya dalam riset tersebut.
Manajemen GOTO juga telah menetapkan target pertumbuhan agresif GTF pada 2026 dengan EBITDA disesuaikan mencapai Rp 1,4–1,5 triliun atau tumbuh 182–202% secara tahunan. Target ini dinilai krusial untuk mencapai target EBITDA disesuaikan grup pada kisaran Rp 3,2–3,4 triliun.
Guna merealisasikan target tersebut, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, GOTO akan mendorong penetrasi pembiayaan tahap awal, termasuk pengembangan pembiayaan merchant dan peningkatan konversi pengguna. Diprediksi penyaluran kredit GTF mencapai Rp 11,4 triliun atau tumbuh 30% secara tahunan pada 2026 dengan EBITDA disesuaikan positif sekitar Rp 1,2 triliun.
Merger Meredup
Terkait peluang aksi merger dan akuisisi (M&A) dengan Grab dinilia sulit untuk direalisasikan dalam jangka pendek. Erindra Krisnawan dan Kafi Ananta mengatakan, akuisisi Foodpanda Taiwan oleh Grab bisa menurunkan peluang transaksi serupa sekaligus membatasi potensi valuasi premium akuisisi terhadap GOTO.
Baca Juga
Rugi GOTO Terpangkas 73% Jadi Rp 1,50 Triliun pada 2025, Terendah Sejak Listing
“Dengan demikian, potensi kenaikan harga saham GOTO akan lebih ditopang oleh kekuatan fundamental internal, khususnya pertumbuhan GTF, dibandingkan dengan peluang aksi korporasi,” tulisnya.
Sejumlah faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham GOTO. Namun demikian target harga GOTO direvisi turun dari semula Rp 100 menjadi Rp 80. Pemangkasan tersebut mempertimbangkan peluang merger sulit direalisasikan tahun ini.
Target harga tersebut juga mempertimbangkan ekspektasi peningkatan pendapatan GOTO menjadi Rp 22,36 triliun tahun ini, dibandingkan tahun lalu Rp 18,32 triliun. EBITDA diproyeksikan naik menjadi Rp 1,97 triliun, dibandingkan tahun lalu Rp 370 miliar. Laba bersih diharapkan mencapai Rp 858 miliar tahun ini, dibandingkan rugi bersih tahun lalu Rp 1,18 triliun.

