Stabilkan Harga di Pasar, Astra International (ASII) akan Buyback Saham Rp 2 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – PT Astra International Tbk (ASII) mengalokasikan dana senilai Rp 2 triliun untuk pembelian kembali (buyback) saham dalam kondisi pasar berfluktuasi. Aksi ini akan digelar selama tiga bulan terhitung sejak 16 Maret hingga 15 Juni 2026.
Manajemen ASII dalam penjelasan resminya di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (13/3/2026), menyebutkan bahwa dana buyback saham akan menggunakan dana internal ASII dan bukan dari pinjaman atau dana hasil penawaran umum.
“Jumlah saham yang akan dibeli kembali dalam pelaksanaan buyback kali ini tidak akan melebihi 20% dari jumlah modal ditempatkan dan disetor perseroan,” terangnya.
Baca Juga
Astra International (ASII) Raup Laba Atribusi Rp 32,76 Triliun di 2025
ASII juga menambahkan pelaksanaan buyback saham ini tidak akan berdampak negatif yang material terhadap kinerja operasional dan pendapatan Astra International (ASII), karena perseroan saat ini memiliki modal dan arus kas yang memadai.
ASII menambahkan bahwa pelaksanaan buyback saham ini diharapkan menstabilkan harga saham perseroan dalam kondisi pasar yang fluktuatif. Selain memberikan keyakinan kepada investor atas nilai saham perseroan secara fundamental.
“Pembelian kembali saham juga memberikan fleksibilitas bagi ASII dalam mengelola modal jangka panjang dimana saham treasuri dapat dijual di masa yang akan datang dengan nilai yang optimal, jika Astra International memerlukan penambahan modal,” tulisnya.
Baca Juga
Perseroan sebelumnya mencatatkan laba yang dapat diatirbusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp 32,76 triliun sepanjang 2025. Realisasi tersebut turun 3,2% dari perolehan tahun 2024 senilai Rp 33,90 triliun. Laba per saham ASII juga turun menjadi Rp 810 tahun 2025, dibandingkan periode sama tahun 2024 mencapai Rp 837 per saham.
Penurunan tersebut sejalan dengan pelemahan pendapatan menjadi Rp 323,39 triliun pada 2025, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 328,48 triliun. Penurunan tersebut menjadikan total laba tahun berjalan melemah dari Rp 43,27 triliun menjadi Rp 40,20 triliun di 2025.

