Rampingkan 60 Perusahaan Jadi 14, Telkom (TLKM) Siapkan Merger, Likuidasi, Divestasi, dan Transfer Bisnis
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menyiapkan skema merger, likuidasi, divestasi, dan transfer bisnis untuk merampingkan sekitar 60 anak perusahaan menjadi 14 perusahaan dalam beberapa tahun ke depan.
“Langkah downsizing (perampingan) ditempuh sebagai bagian dari strategi transformasi Telkom dalam memperkuat fokus pada bisnis inti sekaligus meningkatkan efisiensi operasional dan nilai perusahaan,” kata Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini dalam acara buka puasa bersama direksi Telkom dan business update perseroan di Jakarta, Rabu (11/3/2026) malam.
Dian menegaskan, perampingan itu juga merupakan bagian dari upaya penyederhanaan organisasi perusahaan (streamlining) atau penataan portofolio bisnis, terutama pada sektor yang tidak termasuk bisnis inti Telkom.
Salah satu langkah yang telah ditempuh, menurut Dian, adalah divestasi dua perusahaan di sektor administrasi layanan kesehatan di bawah Telkom Metra yang diakuisisi Telkom Group beberapa tahun silam, yakni AdMedika dan TelkoMedika.
Baca Juga
Bos Telkom (TLKM) Pastikan ‘Dividend Payout Ratio’ 2025 Minimal 89%
“Setelah kami mendapatkan positive value dari akuisisi tersebut, kami mengambil keputusan untuk melepasnya karena ini bukan core strength atau core business Telkom Group,” ujar Dian.
Dian menambahkan, Telkom Metra telah menandatangani conditional sale and purchase agreement (CSPA) sebagai tahap awal menuju divestasi penuh kedua perusahaan tersebut kepada mitra strategis.
Selain sektor kesehatan, kata Dian Siswarini, Telkom sedang menyiapkan langkah strategis pada bisnis pusat data dan menara telekomunikasi. Untuk bisnis data center, Telkom tengah menyiapkan aksi korporasi yang bertujuan membuka nilai ekonomi (unlocking value) aset tersebut.
“Hal serupa dilakukan pada bisnis menara telekomunikasi agar dapat berkembang lebih cepat dan memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan perusahaan,” tutur dia.
Dian menjelaskan, dalam transformasi organisasi, Telkom juga terus mengembangkan model strategic holding agar koordinasi antara perusahaan induk dan anak usaha berjalan lebih efektif.
“Secara operating model, kami sudah bergerak ke arah strategic holding, walaupun secara bentuk belum sepenuhnya menjadi strategic holding,” ucap Dian.
Baca Juga
Opsi IPO Batal, Telkom (TLKM) Adopsi Model ‘Strategic Partner’ Telkomsel-Singtel untuk InfraNexia
Mendirikan Entitas Baru
Di sisi lain, menurut Dian Siswarini, Telkom tengah menyiapkan pembentukan entitas baru yang akan fokus pada business to business (B2B) information dan communication technology (ICT). Pembentukan perusahaan tersebut ditargetkan rampung dalam waktu dekat.
“Untuk B2B ICT, kami sudah membentuk satgasnya dan diharapkan pada akhir tahun ini kami sudah memiliki entitas baru yang fokus pada bisnis tersebut,” ujar Dian.
Melalui rangkaian langkah ini, Dian berharap Telkom dapat menyederhanakan struktur perusahaan, meningkatkan fokus pada bisnis digital dan telekomunikasi inti, serta memperkuat daya saing di industri teknologi yang terus berkembang.
Dian menambahkan, program transformasi yang dijalankan perusahaan --dikenal sebagai Telkom 30— meliputi agenda transformasi menyeluruh yang mencakup penataan portofolio bisnis, penguatan tata kelola perusahaan, serta pembentukan model strategic holding di dalam grup.
Baca Juga
“Telkom 30 adalah agenda transformasi yang menyeluruh. Di dalamnya meliputi penataan portofolio bisnis, penguatan tata kelola perusahaan, serta pembentukan strategic holding,” kata Dian.
Dian menekankan, transformasi tersebut bukan sekadar inisiatif internal perusahaan, melainkan bagian dari arah kebijakan strategis pemerintah dalam memperkuat struktur industri digital nasional.
Menurut Dian Siswarini, program itu juga merupakan manifestasi dari misi Presiden Prabowo Subianto yang disampaikan melalui pemegang saham mayoritas Telkom, yakni Danantara, untuk melakukan restrukturisasi di dalam Telkom Group.
Baca Juga
Terdongkrak ‘Spin-off’ InfraNexia, Saham Telkom (TLKM) Jadi Primadona
“Dalam kerangka itu, Telkom diminta melakukan penyederhanaan struktur anak usaha secara signifikan. Anak perusahaan diminta untuk dikurangi dari sekitar 62 perusahaan menjadi maksimal sekitar 20 perusahaan,” papar Dian.
Selain perampingan entitas bisnis, kata Dian, Telkom 30 menempatkan penguatan tata kelola perusahaan sebagai prioritas utama. Fokusnya antara lain pada disiplin dalam investasi, pengelolaan modal, serta efisiensi penggunaan modal.
“Penguatan governance tersebut penting untuk memastikan Telkom menjalankan bisnis dalam koridor yang sehat dan berkelanjutan,” tandas dia.
Dia menambahkan, langkah itu juga menjadi fondasi bagi penguatan fundamental bisnis perusahaan di tengah dinamika global yang semakin tidak pasti serta meningkatnya kebutuhan terhadap kemandirian infrastruktur digital nasional.
“Penguatan tata kelola ini bertujuan untuk memperkuat fundamental bisnis perusahaan, terutama di tengah ketidakpastian global dan kebutuhan akan kemandirian infrastruktur digital,” ucap dia.
Dian mengatakan, transformasi ini diharapkan memberikan berbagai dampak positif, baik bagi perusahaan, negara, maupun masyarakat. Dampak positif itu di antaranya peningkatan kontribusi Telkom kepada negara dalam bentuk dividen, peningkatan nilai perusahaan bagi para pemegang saham, serta dampak sosial-ekonomi yang lebih luas melalui pemerataan konektivitas digital.
Baca Juga
“Selain itu, model strategic holding yang sedang dibangun diharapkan mampu menciptakan portofolio bisnis yang lebih kuat dan berkelanjutan,” tegas dia.
Namun, Dian Siswarini mengingatkan, keberhasilan transformasi membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan, dari mitra bisnis, pelanggan, regulator, hingga karyawan di dalam Telkom Group.
“Ujung dari semua agenda ini adalah membuat tata kelola perusahaan semakin baik, fundamental bisnis semakin kuat, sehingga nilai perusahaan meningkat dan Telkom bisa naik kelas menjadi world class provider,” tegas Dian.
Ada Anak Usaha yang Akan Ditutup
Sementara itu, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom, Arthur Angelo Syailendra mengungkapkan, saat ini Telkom memiliki sekitar 60 entitas dalam grup usaha. Ke depan, jumlah tersebut akan dipangkas secara signifikan melalui berbagai aksi korporasi.
“Sekarang kita punya sekitar 60 entitas. Intensinya adalah menurunkan angka itu menjadi sekitar 14 entitas,” ujar dia.
Baca Juga
Tak Ada dalam “Kerumunan Pesta” Saham-Saham BUMN, Telkom (TLKM) Segera Menyusul?
Angelo menjelaskan, dari sekitar 60 perusahaan yang masuk rencana penataan tersebut, Telkom telah menyiapkan beberapa skema aksi korporasi untuk melakukan perampingan. Metode yang digunakan antara lain divestasi, penutupan (likuidasi) perusahaan yang sudah tidak aktif, merger, hingga transfer bisnis ke entitas yang lebih strategis.
Menurut Angelo, sebagian anak usaha akan masuk ke dalam kelompok divestasi, di antaranya perusahaan yang bergerak di sektor kesehatan, seperti AdMedika dan TelkoMedika. “Ada juga yang akan kita tutup karena memang bisnisnya sudah tidak aktif, karyawannya sudah tidak ada, dan operasionalnya sudah berhenti,” papar Angelo.
Telkom, kata Angelo, juga akan menggabungkan sejumlah entitas melalui skema merger atau transfer bisnis ke perusahaan yang lebih strategis untuk dipertahankan dalam grup. Di samping itu, Telkom tengah mengevaluasi kepemilikan minoritasnya di sejumlah perusahaan.
“Kepemilikan tersebut tidak memberikan kontribusi signifikan sehingga berpotensi dilepas. Jadi, kami juga sedang mencoba menjual beberapa kepemilikan minoritas di perusahaan lain yang nilainya tidak terlalu meaningful,” tutur dia.
Berdasarkan catatan investortrust.id, dari sekitar 60 anak perusahaan, Telkom berstatus sebagai pemegang saham pengendali langsung di 49 perusahaan. Sedangkan di 11 perusahaan lainnya, Telkom menjadi pemegang saham nonpengendali, terdiri atas enam perusahaan sebagai pemegang saham mayoritas dan lima perusahaan selaku pemegang saham minoritas.

