Telkom (TLKM): ‘Berlian yang Belum Diasah’
Poin Penting
| ● | Telkom dinilai masih undervalued meski kinerja sahamnya unggul dan prospeknya cerah. |
| ● | Transformasi “Strategi TLKM 2030” difokuskan pada pergeseran ke strategic holding serta eksekusi 5 Bold Moves. |
| ● | InfraNexia menjadi game changer dengan konsolidasi aset fiber dan potensi kolaborasi/monetisasi besar. |
INVESTORTRUST.ID - ‘Mutiara dalam lumpur’, ‘permata tersembunyi’ (hidden gem), ‘emas terpendam’, atau ‘berlian yang belum diasah’ (diamond in the rough). Mungkin itu ungkapan paling tepat bagi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk.
Bukan apa-apa. BUMN yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan sandi saham TLKM itu memiliki prospek bisnis yang cerah dengan fundamental kuat. Sayangnya, keunggulan emiten pelat merah ini belum sepenuhnya diapresiasi para investor, baik investor lokal maupun asing.
Hal itu, paling tidak, tecermin pada valuasi saham TLKM yang belakangan ini mondar-mandir di kisaran Rp 3.500-3.700. Bahkan, pada perdagangan Selasa (2/12/2025), saham TLKM anjlok 90 poin (2,5%) ke level Rp 3.560. Dengan harga tersebut, Telkom memiliki market cap Rp 352,66 triliun dengan price to earning ratio (PER) 16,23 kali dan earning per share (EPS) Rp 219,37.
Sebetulnya kinerja saham TLKM jauh lebih baik dari indeks harga saham gabungan (IHSG). Selama tahun berjalan (year to date/ytd) atau sejak awal Januari hingga 2 Desember 2025, saham TLKM menguat 31,4%. Bandingkan dengan IHSG yang hanya naik 21,7%, terlebih dibanding indeks Dow Jones Industrial Average di bursa saham Amerika Serikat (AS) yang cuma tumbuh 11,2%.
Baca Juga
Net Buy Jumbo Rp 1,67 Triliun, Investor Asing Borong BOGA hingga TLKM
Saham TLKM juga lebih baik dari saham-saham perusahaan BUMN pada umumnya. IDXBUMN20 yang merupakan kumpulan 20 saham BUMN malah berkinerja jeblok, dengan mencatatkan minus 0,56% dalam setahun.
Meski demikian, saham TLKM tetap dianggap under valued alias masih di bawah nilai fundamentalnya. Apalagi setelah perusahaan-perusahaan sekuritas merevisi naik target harga TLKM dari Rp 3.500 ke kisaran Rp 4.000.
BRI Danareksa Sekuritas mematok harga baru saham TLKM di posisi Rp 4.000, CLSA Rp 4.100, Mandiri Sekuritas Rp 4.000, UOB Kay Hian Rp 4.000, DBS Bank Rp 4.030, CGS Internasional Rp 4.100, BNI Securities Rp 4.100, dan OCBC Sekuritas di level Rp 4.200.
Target harga tersebut sudah memperhitungkan (price-in) kinerja keuangan Telkom yang sedang kurang menggembirakan. Hingga kuartal III-2025, laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk perseroan turun 10,69% secara tahunan (year on year/yoy) dari Rp 17,67 triliun menjadi Rp 15,78 triliun.
Kendati kinerja keuangan Telkom belum pulih, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy TLKM dengan target harga yang direvisi naik dari Rp 3.500 menjadi Rp 4.000.
“Revisi ini mempertimbangkan disiplin harga dan eksekusi monetisasi yield yang membaik,” kata analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dalam risetnya yang dipublikasikan baru-baru ini.
Dalam mematok target harga tersebut, BRI Danareksa Sekuritas menggunakan ancar-ancar Enterprise Value/Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EV/EBITDA) 5,6 kali pada 2026. Sedangkan proyeksi average revenue per user (ARPU) pada 2026 dan 2027 direvisi naik masing-masing menjadi Rp 45.000 dan Rp 46.100.
“Harga TLKM juga akan dipengaruhi eksekusi rencana pelepasan 20-30% kepemilikan saham InfraCo pada valuasi 9–12 x EV/EBITDA dengan potensi menghasilkan imbal hasil dividen sebesar 5,4–7,8%,” tambah analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta.
Manajemen Telkom sendiri mengakui, harga TLKM masih jauh di bawah nilai fundamentalnya. “Soalnya, masih banyak value kami yang belum terekspos,” tutur Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom, Arthur Angelo Syailendra pada acara silaturahmi manajemen Telkom dengan media massa di Jakarta, Senin (1/12/2025) malam.
Nah, manajemen Telkom sedang berupaya menyibak seluruh tabir yang selama ini menutupi berbagai nilai lebih yang dimiliki perusahaan telko terbesar di Tanah Air ini. Mereka mengemas upaya itu dalam “Strategi TLKM 2030”.
“Kami akan menjadi strategic holding sepenuhnya. Ini yang kami sebut mode shift. Selama ini kan Telkom berperan sebagai hybrid, artinya menjadi strategic holding sekaligus operating holding,” ujar Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji.
Tujuan Telkom melakukan transisi dari operating holding (perusahaan induk yang menjalankan operasional) ke strategic holding (perusahaan induk untuk tujuan-tujuan strategis) tiada lain demimengoptimalkan penciptaan nilai dan return pemegang saham.
Baca Juga
Strategi Perbaikan Harga Berbuah, Target Harga Saham TLKM Direvisi Naik
Jika skenario itu berjalan sempurna, fungsi strategic holding Telkom mulai kelihatan tahun depan. Dengan menjadi strategic holding, Telkom akan lebih gesit mengelola dan memberdayakan anak-anak perusahaannya.
Dengan begitu pula, semua perusahaan yang bernaung di bawah bendera Telkom bisa meraih keuntungan (profitable). Alhasil, Telkom Group tak semata mengandalkan Telkomsel sebagai tulang punggung, melainkan seluruh entitas bisnis di dalamnya.
Strategi 5BM dan 4 Pilar
Untuk mencapai target-target tersebut, Telkom menerapkan strategi 5 Bold Moves (5BM).Strategi 5BM adalah lima pilar utama strategi Telkom, meliputi Fixed Mobile Convergence (FMC), InfraCo, Data Center Co (DC Co), B2B Digital IT Services Co, dan DigiCo.
Dalam strategi FMC, Telkom mengintegrasikan layanan fixed broadband (seperti IndiHome) dan mobile broadband (seperti Telkomsel) untuk menciptakan pengalaman konektivitas yang seamless bagi pelanggan, baik di rumah maupun saat bergerak. Langkah ini meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat penetrasi pasar.
Sedangkan dalam strategi InfraCo, Telkom membentuk PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) atau InfraNexia untuk mengelola dan mengoptimalkan aset infrastruktur jaringan fiber milik Telkom Group. InfraCo bertujuan membuka peluang kolaborasi dengan mitra eksternal dan meningkatkan produktivitas aset jaringan.
Dalam strategi DC Co, Telkom mengembangkan bisnis pusat data melalui NeutraDC, termasuk pembangunan hyperscale data center di Cikarang dan Batam. Inisiatif ini mendukung kebutuhan penyimpanan data yang terus meningkat dan memperkuat kapabilitas digital Telkom.
Adapun dalam strategi B2B Digital IT Services Co, Telkom fokus pada penyediaan layanan teknologi informasi untuk segmen bisnis ke bisnis (B2B), termasuk cloud, cybersecurity, dan solusi digital lainnya. Telkom memperkuat kapabilitas ini melalui sedikitnya 1.500 sertifikasi di bidang terkait.
Sementara itu, dalam strategi DigiCo, Telkom membentuk entitas digital baru untuk mengembangkan layanan digital inovatif yang berorientasi pada konsumen, seperti platform hiburan, gaya hidup, dan layanan digital lainnya. DigiCo bertujuan memperluas portofolio bisnis digital Telkom dan meningkatkan nilai tambah bagi pelanggan.
Ada empat pilar yang dijalankan direksi baru Telkom untuk mencapai visi TLKM 2030, yaitu Operational & Service Excellence (keunggulan operasional dan layanan), Stream Lining (penyederhaan proses bisnis), Unlock Value (membuka potensi nilai yang belum dimaksimalkan), dan Mode Shift (perubahan cara kerja, model bisnis, atau pendekatan operasional).
Dalam pilar Operational & Service Excellence, BUMN ini akan mereformasi budaya dan tata kelola perusahan serta mengalokasikan modal yang lebih bijak dan hati-hati demi meningkatkan efisiensi, baik belanja operasi (operational expenditure/opex) maupun belanja modal (capital expenditure/capex). Telkom juga akan memberikan penawaran produk dengan yield yang tinggi.
Baca Juga
Adapun dalam Stream Lining, Telkom akan mengonsolidasikan unit bisnis yang tumpang tindih dan melakukan divestasi bisnis noninti, serta memfokuskan kembali waktu, usaha, dan sumber daya kepada kekuatan inti.
Dalam Unlock Value, Telkom akan mepercepat monetisasi aset infarstruktur bernilai tinggi, seperti pusat data menara dan aset fiber, serta membangun kemitraan strategis untuk mewujudkan nilai tertanam.
Sementara itu, dalam Mode Shift, Telkom bakal melakukan transisi dari operating holding ke strategic holding guna mengoptimalkan penciptaan nilai dan return pemegang saham. Dalam staretgi ini, Telkom bakal beralih dari telko lama ke telko digital.
Game Changer Telkom
Dari rangkaian langkah yang tengah ditempuh Telkom, konsolidasi aset fiber grup ke TIF alias InfraNexia tergolong paling strategis.
Lewat InfraNexia, Telkom memisahkan (spin-off) bisnis kabelnya. InfraNexia yang memberikan layanan infrastruktur fiber ke rumah (fiber to the home/FTTH) atau konsumen akhir, tidak hanya menopang usaha Telkom, melainkan berdiri sendiri dan beroperasi sebagai perusahaan baru, bukan unit bisnis lagi.
Jika tak ada aral melintang, pada akhir tahun ini separuh aset fiber Telkom Group yang totalnya bernilai Rp 150 triliun akan dipindahkan ke InfraNexia. Proses transfer seluruhnya ditargetkan rampung pada pertengahan 2026.
InfraNexia bakal menjadi game changer Telkom. Maklum, BUMN ini akan menjadikan InfraNexia sebagai platform pertumbuhan strategis ke depan. InfraNexia bakal melayani perusahaan teknologi lain, seperti internet service provider (ISP), termasuk perusahaan teknologi global, semisal Google danMicrosoft.
Sekadar tahu saja, spin-off InfraNexia menjadi yang terbesar di Telkom Group setelah PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel yang selama ini melayani jaringan antarmenara.
Apakah InfraNexia juga bakal melantai di BEI melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham seperti Mitratel? “Belum kami tentukan, apakah nanti IPO, apakah partnership. Intinya, kami inginmembesarkan InfraNexia dan menjadikannya sebagai the next Telkomsel,” tegas Arthur Angelo Syailendra.
Yang pasti, Telkom punya aset lengkap. Di langit, emiten berstatus dual listing di BEI dan di New York Stock Exchange (NYSE) ini punya satelit. Di laut, Telkom punya kabel bawah laut. Di darat, Telkom punya fiber dan data center. Telkom juga punya kantor cabang di 15 negara.
Panjang fiber optik Telkom bahkan mencapai empat kali keliling bumi atau sekitar 180 ribu km. Itu belum termasuk 33 data center yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. “Ironisnya, tak semua investor tahu,” ujar Arthur Angelo.
Manajemen Telkom mafhum bahwa mereka tidak bisa melakukan semuanya sendiri. Telkom harus berkolaborasi dengan pihak lain, termasuk investor asing yang memiliki keahlian lebih tinggi, teknologi lebih canggih, dan lebih berpandangan ke depan (forward looking).
Baca Juga
Telkom (TLKM) Torehkan Laba Bersih Rp 20,59 Triliun hingga Kuartal III-2025
“Makanya kami harus membuka pintu kolaborasi. Kami harus unlock value,” kata Arthur Angelo.
Arthur Angelo Syailendra percaya, para investor akan memiliki gambaran lengkap dan menyeluruh tentang bisnis Telkom. Dengan begitu, para investor akan lebih mudah menilai Telkom Group secara tepat dan layak.
“Sekarang kami mulai pakai microscope view untuk menjadikan semua sebagai new engine of growth. Itu entar kelihatan tahun depan. Cara kami menyampaikan laporan keuangan atau cara kami approach investasi akan berbeda. Begitu pula cara kami ber-partner,” papar Arthur Angelo.
Yang jelas, semua itu ditempuh demi mencapai visi TLKM 2030. “Pada 2030, kami akan memiliki bisnis yang sangat fokus di data komunikasi dan digital denganintegrated ecosystem. Itu kekuatan kami,” tandas Seno Soemadji.
Berbagai upaya itu, sedikit-banyak, sudah membuahkan hasil. “Melalui komunikasi yang kami sampaikan ke berbagai investor, baik di dalam maupun di luar negeri, perubahan yang kami jalankansudah mendapat tanggapan yang sangat positif,” ujar Seno.
Berdayakan Ekonomi
Telkom berjanji tak hanya fokus pada keuntungan perusahaan. Sebagai BUMN, Telkom akan berada di garis terdepan dalam membantu pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Saat ini kami tidak hanya hadir di small and medium enterprises, tetapi juga sampai ke micro small and medium enterprises. Salah satu tugas kami yang paling utama tentu maximizing shareholder value,” ucap Seno Soemadji.
Rupanya, Telkom sudah berbuat banyak untuk UMKM. Perusahaan tersebut telah memfasilitasi marketplace dengan gross merchandise value (GMV) Rp 17 triliun per tahun, vendor bagi 126 ribu UMKM, 1,8 juta item produk, serta 10 ribu buyers di BUMN. “Jadi, sudah banyak sekali yang kami lakukan,” ujar Seno.
Baca Juga
Di luar itu, Telkom terus merampingkan (downsizing) jumlah anak perusahaannya. Downsizing masuk pilar Stream Lining yang diselaraskan dengan pilar Unlock Value. Ini senapas dengan permintaan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) agar jumlah anak usaha Telkom dipangkas menjadi 22 perusahaan saja.
Alhasil, anak-anak perusahaan Telkom yang bakal tersisa kelak hanya perusahaan-perusahaan jempolan berdaya saing tinggi dan -–tentu saja— menghasilkan keuntungan. Perampingan anak usaha Telkom ditargetkan tuntas paling lambat akhir 2027.
Saat ini terdapat 60 anak perusahaan Telkom. Di 49 perusahaan, Telkom berstatus sebagai pemegang saham pengendali langsung. Di 11 perusahaan lainnya, Telkom menjadi pemegang saham nonpengendali, terdiri atas enam perusahaan sebagai pemegang saham mayoritas dan lima perusahaan selaku pemegang saham minoritas.
“Emang banyak yang kurang selaras dengan business model yang akan kami capai. Misalnya kami punya hotel dan resor. Ada di Bali, Makassar, Malang. Apartemen juga kami punya, pokoknya banyak. Tapi irisannya dengan digital telco sangat minim. Kalau mau dicari garis lurus ke telko, itu panjang banget,” papar Arthur Angelo Syailendra. Berlian yang belum diasah? ***

