Terdongkrak ‘Spin-off’ InfraNexia, Saham Telkom (TLKM) Jadi Primadona
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mulai menjadi primadona para investor di lantai bursa. Kinerja TLKM kini lebih ciamik dibanding indeks harga saham gabungan (IHSG), indeks LQ45, dan indeks 20 saham BUMN (IDX BUMN20). Selain terdongkrak spin-off InfraNexia, membaiknya kinerja saham TLKM merupakan bukti tingginya apresiasi investor terhadap transformasi yang sedang dijalankan Telkom.
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menutup sembilan bulan 2025 dengan kinerja keuangan yang kurang meyakinkan. Hingga kuartal III-2025, laba bersih Telkom turun 10,7% secara tahunan (year on year/yoy) dari Rp 17,67 triliun menjadi Rp 15,78 triliun.
Toh para pelaku pasar cukup maklum. Alih-alih mencermati kinerja keuangan Telkom yang belum menggembirakan, pasar justru lebih menyoroti langkah transformasi korporasi perseroan yang mulai mengubah profil bisnis dan valuasi perusahaan.
Transformasi Telkom yang paling membetot perhatian pasar adalah spin-off InfraNexia atau PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF). Pada 18 Desember 2025, Telkom mengeksekusi spin-off tahap pertama bisnis wholesale fiber ke entitas infrastruktur InfraNexia. Perseroan mengalihkan aset senilai Rp 35 triliun sebagai bagian dari rencana pemindahan aset fiber hingga Rp 90-150 triliun secara bertahap.
Baca Juga
TLKM Jadi Tolok Ukur Restrukturisasi BUMN, Saham Melonjak 30% dan Prospek Rerating Menguat
Di bawah manajemen baru yang dinakhodai Dian Siswarini, Telkom menempatkan InfraNexia sebagai mesin pertumbuhan baru yang akan mengoptimalkan monetisasi aset fiber. Telkom juga membuka peluang pendanaan alternatif, termasuk masuknya mitra strategis hingga opsi penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham di masa depan.
Yang pasti, fokus utama Telkom saat ini adalah memastikan InfraNexia mampu bertransformasi menjadi entitas fiberco yang kuat dan terintegrasi. “Penguatan tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan Telkom yang lebih tinggi sekaligus menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi Telkom Grup,” kata Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini.
Jadi Game Changer
Spin-off InfraNexia memperjelas fokus Telkom pada tiga klaster bisnis utama, yakni infrastruktur, layanan, dan digital. Struktur baru tersebut dinilai bakal mampu meningkatkan efisiensi sekaligus fleksibilitas perseroan dalam menangkap peluang ekonomi digital.
Sepanjang sembilan bulan 2025, Telkom membukukan pendapatan konsolidasian sekitar Rp 109,6 triliun. Perseroan juga mencatatkan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar Rp 54,2–54,4 triliun dengan laba bersih sekitar Rp 15,8 triliun.
Secara kuartalan (quarter on quarter/QoQ), pendapatan Telkom pada kuartal III-2025 tumbuh 0,6-0,7% dibandingkan kuartal sebelumnya. Sejalan dengan itu, EBITDA kuartalan meningkat sekitar 3,3% dengan margin mendekati 50%, mencerminkan perbaikan efisiensi operasional
Baca Juga
Telkom Resmi Spin-Off Bisnis Wholesale Fiber Tahap I ke InfraNexia, Nilai Aset Segini
Namun laba bersih kuartalan Telkom menurun akibat kenaikan beban depresiasi dan amortisasi. Tekanan ini muncul seiring percepatan penataan portofolio aset dan restrukturisasi bisnis infrastruktur.
Dari sisi segmen, layanan data, internet, dan IT tetap menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan sekitar Rp 67 triliun. Kenaikan average revenue per user (ARPU) Telkomsel pada kuartal III-2025 juga menjadi sinyal awal keberhasilan strategi perbaikan harga di segmen seluler.
Nyatanya, transformasi Telkom menuju model yang lebih asset-light telah diapresiasi pasar. Saham TLKM melonjak lebih dari 30% dan mencatat arus dana asing yang jarang terjadi di tengah tekanan jual pasar yang lebih luas.
Pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (23/1/2026), saham TLKM ditutup menguat 30 poin ke level 3.770, dengan market cap Rp 373,4 triliun, melanjutkan tren penguatan sejak awal 2025.
Sejumlah analis mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 4.000. Ekspektasi monetisasi InfraNexia dan penguatan business to business (B2B) menjadi game changer yang dinilai dapat mendorong rerating valuasi Telkom ke depan.
Dalam sepekan, harga saham TLKM naik 3%, dalam sebulan menguat 8,6%, dalam tiga bulan melonjak 19,7%, dalam enam bulan melesat 32,3%, dan selama tahun berjalan (year to date/ytd) menanjak 8,3%.
Baca Juga
Kinerja saham TLKM jauh lebih baik dibanding indeks LQ45 dan IHSG. Bahkan, kinerja saham TLKM lebih baik ketimbang 20 saham BUMN yang tergabung dalam IDX BUMN20. Selama tahun berjalan (ytd), LQ45 dan IHSG masing-masing hanya naik 3,19% dan 3,52%. Sedangkan IDX BUMN20 menguat 7,88%.
Dalam catatan Indopremier Sekuritas, saham TLKM memiliki price to earning ratio (annualized) sebesar 17,75 kali dan price to book value (PBV) 2,35 kali, dengan return on aset (ROA) 7,21% dan return on equity (ROE) 13,24%.
Yang jelas, Telkom kini menjadi acuan uji ketahanan (stress test) pasar dan tolok ukur keberhasilan restrukturisasi BUMN. Pasar, menurut laporan Danantara Economic Outlook 2026, juga lebih akomodatif dalam menilai perusahaan di level yang lebih tinggi.
“Transformasi di berbagai BUMN oleh Danantara, termasuk Telkom, telah memberikan dampak positif pada valuasi saham. Itu sebabnya, kami terus menekankan pentingnya penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) di seluruh lini BUMN,” kata Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Perkasa Roeslani.

