Produksi 2025 ATH, Pendapatan Pertamina Geothermal (PGEO) Naik 6,29%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencetak kinerja operasional cemerlang, dengan produksi tertinggi sepanjang sejarah (all-time high/ATH) pada 2025 atau naik 5,6% (yoy).
Berdasarkan laporan keuangan yang berakhir pada 31 Desember 2025, PGE membukukan total pendapatan US$ 432,73 juta tahun lalu yang naik 6,29% dibandingkan 2024.
“Capaian ini menunjukkan kinerja PGE yang tetap berada pada jalur yang sehat, mencerminkan fundamental keuangan perseroan yang kuat,” ungkap Direktur Keuangan Pertamina Geothermal Energy Yurizki Rio, dikutip pada Selasa (10/3/2026).
Menurut dia, perseroan konsisten memperluas pemanfaatan energi panas bumi Indonesia di tengah dinamika industri dan perubahan lanskap energi global. Hal ini jadi bagian dari kontribusi perseroan dalam mempercepat agenda transisi energi nasional.
Sementara, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada 2025 terkumpul sebesar US$ 137,67 juta yang turun 14,2% dari tahun sebelumnya.
Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy Ahmad Yani menambahkan, perseroan menargetkan pertumbuhan yang berkelanjutan, seiring upaya optimalisasi potensi panas bumi nasional.
“PGE memiliki visi untuk berkembang menjadi world leading geothermal producer. Artinya, tidak hanya unggul dari sisi kapasitas terpasang, tetapi juga diakui sebagai geothermal center of excellence di tingkat global,” tegas Ahmad Yani.
Baca Juga
PGE (PGEO) Targetkan Kapasitas Panas Bumi 3 GW dari 15 Wilayah Kerja
Guna mencapai hal tersebut, perseroan menjalankan tiga strategi utama, salah satunya menjaga keandalan operasional pembangkit listrik panas bumi (PLTP) eksisting dengan total kapasitas 727 megawatt (MW) yang dikelola secara mandiri.
Kemudian manajemen mendorong ekspansi dan pertumbuhan bisnis, serta mengembangkan sumber pendapatan masa depan (future revenue streams). “Seluruh upaya ini dijalankan dengan prinsip kehati-hatian, disiplin investasi, dan komitmen kuat terhadap ESG,” tandas Ahmad.
Dilihat dari total aset, emiten energi ini terpantau masih memiliki aset sebanyak US$ 3,03 miliar per 31 Desember 2025, bertambah dari US$ 2,99 miliar pada akhir 2024. Total aset hingga akhir tahun lalu, terdiri atas aset lancar senilai US$ 880,97 juta dan jumlah aset tidak lancar sebesar US$ 2,15 miliar.
Pada perbandingan periode yang sama, PGE tercatat masih memiliki tanggung jawab keuangan (liabilitas) senilai total US$ 988,88 juta, terdiri dari liabilitas jangka pendek US$ 214,29 juta dan liabilitas jangka panjang US$ 774,58 juta.
Di sisi lain, perseroan memiliki total ekuitas US$ 2,04 miliar per 31 Desember 2025 atau naik dari US$ 2 miliar di akhir tahun sebelumnya, dengan kas dan setara kas US$ 718,50 juta.

