Pertamina Geothermal (PGEO) Produksi Pupuk dari Limbah Panas Bumi
JAKARTA, investortrust.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) Area Lahendong mengembangkan pupuk dan booster cair nanosilika, berbahan produk sampingan panas bumi yaitu silika. Produk ini diberi nama Katrili, sebagai pupuk alternatif yang berkualitas bagi petani.
Kerak (scaling) silika merupakan limbah yang terbentuk di pipa pembangkit listrik tenaga Panas Bumi (PLTP). Terobosan ini, merupakan hasil kerja sama perseroan dengan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM).
GM PGE Area Lahendong Albertus Novi Purwono menerangkan, inovasi meragamkan pendayagunaan panas bumi itu, menghasilkan solusi ramah lingkungan untuk membantu para petani di Sulawesi Utara.
Baca Juga
Bank OCBC (NISP) Cetak Laba Bersih Rp 2,4 Triliun pada Semester I-2024
“Dengan inovasi bersama FT UGM, kami bangga mampu memberi dukungan agar para petani dapat tetap produktif dan mampu menghasilkan hasil pertanian yang berkualitas bagi masyarakat luas,” jelas Albertus dalam keterangan resmi, Selasa (30/7/2024).
Inovasi mereka, berangkat dari kondisi kelangkaan pupuk di kalangan petani Sulawesi Utara, yang menghambat keberlanjutan produktivitas hasil pertanian.
Hasil penelitian Pusat Penelitian Panas Bumi FT UGM menemukan, endapan silika panas bumi yang diolah dengan teknologi nano bersama kitosan, dapat berfungsi sebagai penyubur, pelindung, dan penguat tanaman.
Endapan tersebut, diusulkan diolah menjadi pupuk dan booster cair yang dinamakan Katrili di bawah kerja sama PGE Area Lahendong dan FT UGM. Sebelumnya, silica scaling hanya merupakan limbah.
Baca Juga
Rugi Bersih GOTO Terpangkas 62%, On Track Menuju Profitabilitas
Kerja sama dimaksud, melingkupi produksi, uji coba di lahan demonstrasi (demplot), uji kualitas, dan uji keramahan produk terhadap lingkungan.
Menyambut inisiatif itu, Corporate Secretary PGE Kitty Andhora menyampaikan, pengembangan pupuk nanosilika merupakan inisiatif perusahaan untuk berkontribusi pada sektor pertanian di Sulawesi Utara.
Dia menekankan, inisiatif yang menghasilkan produk pupuk dan booster cair, tidak hanya menyentuh aspek pemberdayaan masyarakat yaitu petani, melainkan juga berkontribusi pada ketahanan pangan nasional dan pengembangan agribisnis di sekitar area operasi.
“Kami bangga bahwa energi geotermal dari PGEO Area Lahendong, turut berkontribusi mendorong perekonomian dan potensi agribisnis di sekitar area operasi. Sehingga tidak hanya menjadi tulang punggung transisi energi nasional menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan,” papar Kitty.
PLTP Lahendong kinin menyumbang 30% pasokan listrik di Sulawesi Utara. Alhasil terobosan tersebut menjadi inisiatif pemanfaatan panas bumi di luar ketenagalistrikan atau beyond electricity.
“Dengan kerja sama ini, PGEO optimistis bahwa geotermal memiliki peran yang sentral dalam agenda pembangunan berkelanjutan nasional,” ujar Kitty.
PGEO dan FT UGM pun telah melakukan penyemprotan perdana pupuk tersebut pada Jumat (26/7) di Demplot Pilot Project, Desa Tonsewer, Kecamatan Tompaso Barat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. (CR-10)

