Bagikan

Eskalasi Timur Tengah akan Guncang Pasar Besok, IHSG Terancam ke 8.000

Poin Penting

IHSG berpotensi uji support 8.133 hingga 8.000.
Lonjakan minyak picu risiko inflasi impor dan capital outflow.
Saham komoditas dan energi direkomendasikan trading buy.

JAKARTA, investortrust.idMemanasnya ketegangan geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat mulai membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Eskalasi konflik dinilai berpotensi mendorong IHSG menuju area psikologis 8.000 di tengah meningkatnya tekanan eksternal.

Pasar keuangan global merespons dengan pola risk-off, di mana investor melepas aset berisiko dan beralih ke instrumen safe haven. Kondisi ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar menghadapi ketidakpastian geopolitik yang kian meningkat.

Analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, menilai tekanan terhadap pasar modal domestik berpotensi datang dari dua arah. Pertama, potensi capital outflow seiring langkah investor asing yang mengurangi eksposur di emerging market. Kedua, risiko inflasi impor akibat lonjakan harga energi.

Baca Juga

Iran Konfirmasi Ayatollah Ali Khamenei Tewas usai Serangan AS-Israel

Apabila harga minyak bertahan di level tinggi, biaya produksi berpotensi meningkat sehingga dapat menekan margin emiten.

Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana

“Dalam kondisi seperti ini, IHSG berpotensi bergerak melemah dan menguji support klasik di 8.133. Jika level tersebut jebol, area psikologis 8.000 menjadi support berikutnya. Sementara resistance terdekat berada di 8.300,” ujar Hendra kepada investortrust.

Di pasar komoditas, harga emas tercatat naik lebih dari 1%, sedangkan minyak mentah WTI dan Brent menguat hampir 3%. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran atas potensi terganggunya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Baca Juga

Laba Jababeka (KIJA) Capai Rp 857,12 Miliar di 2025, Berikut Penopangnya

Menurut Hendra, perhatian pasar juga tertuju pada Selat Hormuz, salah satu rute distribusi minyak tersibuk di dunia dengan sekitar 30% perdagangan minyak global melintasi wilayah tersebut.

“Jika eskalasi konflik mengganggu arus kapal tanker di Selat Hormuz, harga minyak bisa melonjak lebih tinggi karena pasar akan menghitung ulang risiko pasokan. Dampaknya bisa menjalar ke inflasi global, nilai tukar, hingga kebijakan suku bunga di berbagai negara,” jelasnya.

Meski demikian, tekanan geopolitik tidak serta-merta berdampak negatif pada seluruh sektor. Saham berbasis komoditas dinilai berpeluang menjadi penopang di tengah volatilitas.

Saham Pilihan

Kenaikan harga emas dan minyak membuka ruang penguatan bagi PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan rekomendasi trading buy target 3.900 dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) buy target 4.500.

Di sektor energi, PT Elnusa Tbk (ELSA) direkomendasikan trading buy target 900, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) trading buy target 1.900, serta PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) speculative buy target 1.400. Selain itu, PT Soechi Lines Tbk (SOCI) juga layak dicermati sebagai trading buy target 750 seiring meningkatnya aktivitas dan tarif pengangkutan energi di tengah fluktuasi harga minyak.

Baca Juga

Tehran Confirms Khamenei’s Death as Mideast Tensions Hit Boiling Point

Bagi investor ritel, disiplin dan selektivitas menjadi kunci. Investor agresif dapat memanfaatkan momentum di sektor komoditas dengan manajemen risiko terukur, sementara investor konservatif dinilai tetap relevan menerapkan strategi wait and see sambil mencermati perkembangan konflik dan dinamika arus dana asing.

“Dalam situasi geopolitik yang panas, kunci bukan sekadar masuk atau keluar pasar, melainkan kemampuan membaca rotasi sektor dan menjaga risiko agar tetap terkendali,” tutup Hendra.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024