BRI (BBRI) Bukukan Laba Rp 57,13 Triliun di 2025, Kredit Capai Rp 1.521,49 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) membukukan laba bersih secara konsolidasian senilai Rp 57,13 triliun sepanjang 2025. Sementara, pada tahun lalu, laba bersih emiten dengan kode saham BBRI itu mencapai Rp 60,31 triliun. Dengan demikian, ada penurunan 5,27%.
Adapun dari sisi penyaluran kredit, BRI mampu menyalurkan pinjaman hingga Rp 1.521,49 triliun, masih tumbuh 12,3% dari tahun sebelumnya. Dari kualitas kredit, NPL gross tercatat 3,29%, meningkat dari 2,94%, sedangkan NPL net berada di level 0,96% dari sebelumnya 0,75%. Adapun sejalan dengan ekspansi tersebut, kualitas pencadangan tetap dijaga. Cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) kredit yang diberikan secara konsolidasian tercatat Rp 82,89 triliun, naik 2,4% dari Rp 80,89 triliun pada 2024.
Capaian ini pun memperkuat peran BRI dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional melalui pembiayaan produktif dan keberpihakan pada ekonomi kerakyatan.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikan bahwa di tengah ketidakpastian global, perekonomian domestik tetap resilien. Pertumbuhan ekonomi 2025 tercatat sekitar 5,1% dan diproyeksikan meningkat menjadi 5,2% pada 2026, ditopang oleh kuatnya permintaan domestik. Inflasi Indonesia juga terkendali dalam kisaran target Bank Indonesia, yakni sekitar 2,9%, dan stabil pada 2026. Kondisi tersebut mendukung daya beli masyarakat sekaligus memberikan ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif.
“Secara keseluruhan, kombinasi inflasi yang terjaga, kebijakan moneter yang lebih longgar, dan ketahanan konsumsi domestik memberikan fondasi yang cukup kuat bagi ekonomi Indonesia ke depan,” ujar Hery dalam paparan kinerja perseroan triwulan IV 2025, Kamis (26/2/2026).
Lebih lanjut, Hery menegaskan bahwa stabilitas makroekonomi dan kinerja positif perbankan menjadi fondasi yang kokoh bagi pertumbuhan berkelanjutan. Kombinasi pertumbuhan DPK yang impresif, kualitas aset yang sehat, likuiditas yang kuat, dan rasio kredit bermasalah yang terjaga di level 2,05%, serta profitabilitas yang stabil memberikan ruang bagi industri perbankan untuk melanjutkan ekspansi pada 2026. Berangkat dari fondasi yang solid tersebut, BRI sebagai bank yang berfokus pada ekonomi kerakyatan mengambil peran strategis melalui dukungan terhadap berbagai program prioritas pemerintah, sejalan dengan upaya percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai instrumen utama pembiayaan sektor produktif. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, BRI menyalurkan KUR sebesar Rp 178,08 triliun kepada 3,8 juta debitur, dengan sektor pertanian menjadi kontributor terbesar mencapai Rp 80,09 triliun atau 44,97% dari total penyaluran KUR yang disalurkan oleh BRI.
Selain mendukung UMKM, BRI juga memperluas akses pembiayaan perumahan melalui partisipasi dalam Program 3 Juta Rumah. Hingga akhir Desember 2025, BRI telah menyalurkan KPR Subsidi sebesar Rp 16,16 triliun kepada lebih dari 118 ribu debitur di seluruh Indonesia. Untuk 2026, Perseroan optimistis dapat menyalurkan pembiayaan FLPP sebanyak 60.000 unit rumah subsidi.
Di sisi lain, BRI turut berperan aktif dalam berbagai program strategis pemerintah lainnya, termasuk dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), serta menyalurkan bantuan sosial non-tunai seperti PKH, Sembako, Sembako Stimulus, dan BLTS Kesra. Rangkaian inisiatif tersebut menegaskan peran BRI sebagai mitra utama pemerintah dalam memperluas akses pembiayaan dan memperkuat perlindungan sosial bagi masyarakat.
Baca Juga
Net Buy Jumbo Hari Ini Rp 1,14 Triliun, Investor Asing Borong Saham BBRI dan BMRI
Secara rinci, laba tersebut berasal dari pendapatan bunga Rp 207,78 triliun, meningkat 4,27% dibandingkan Rp 199,27 triliun pada 2024. Namun dari sisi beban bunga tercatat Rp 57,28 triliun atau meningkat 1,20%. Meski demikian, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) Rp 150,50 triliun, naik 5,52%. Sedangkan jika termasuk pendapatan jasa asuransi, total pendapatan bunga bersih dan jasa asuransi bersih mencapai Rp 151,79 triliun, naik 5,54%.
Sementara dari sisi kinerja penghimpunan dana BBRI tercatat tetap solid sepanjang 2025. Direktur Treasury & International Banking BRI Faridha Thamrin pun menyampaikan bahwa pertumbuhan aset selama tahun 2025 didominasi oleh pertumbuhan kredit dan pembiayaan sebesar Rp 167 triliun YoY yang sebagian besar merupakan pertumbuhan pada kredit segmen UMKM. Hal tersebut menunjukkan komitmen BRI untuk terus mendukung penguatan sektor riil, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, sebagai pilar utama perekonomian nasional.
Hingga akhir triwulan IV 2025 tercatat total aset perusahaan anak BRI tumbuh 23,3% YoY menjadi Rp 267 triliun. Dari sisi profitabilitas, laba bersih perusahaan anak BRI meningkat 16,1% YoY, menjadi Rp10,38 triliun. Dengan kinerja impresif tersebut, perusahaan anak BRI Group berhasil memberikan kontribusi laba sebesar 18,2% dari total laba konsolidasi BRI.
“BRI tidak hanya mengejar pertumbuhan bisnis, tetapi memastikan setiap pertumbuhan memberikan dampak nyata bagi rakyat. Dengan fondasi yang kuat dan transformasi yang konsisten, kami optimistis dapat terus tumbuh bersama rakyat untuk Indonesia,” katanya.
Di sisi dana Pihak Ketiga, fokus strategi BRI untuk penguatan CASA terlihat dari pertumbuhan Giro yang mencapai 19,7% secara year on year dan pertumbuhan tabungan sebesar 7,9% YoY. Ini menandakan kepercayaan masyarakat yang terus meningkat dengan semakin kuatnya dana murah Perseroan.
Jika dilihat dari struktur pendanaan, DPK BRI semakin kuat dengan rasio CASA meningkat 331 bps YoY, didorong oleh pertumbuhan tabungan ritel yang konsisten. Secara konsolidasi, total DPK tumbuh 7,4% YoY menjadi Rp1.466,8 triliun, dengan pertumbuhan CASA mencapai 12,7% YoY. Kenaikan giro mencapai 19,7% YoY, dan tabungan tumbuh 7,9% YoY, sehingga mendorong CASA ratio meningkat hingga 70,6%, menandakan biaya dana yang semakin efisien.
Baca Juga
Bos BRI Sebut Likuiditas Perbankan Solid, Tapi Tantangan Dari Sisi Permintaan Kredit
Kapasitas BRI untuk terus tumbuh secara sehat pun ditopang oleh likuiditas yang solid, hal tersebut tercermin dari rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank berada di level yang ample sebesar 91,4%. “Kedisiplinan dalam pengelolaan likuiditas terus menjadi fondasi utama bagi BRI dalam menjaga efisiensi biaya dana dan memastikan struktur dana pihak ketiga (pendanaan) yang optimal,” ujar Farida.
Dari sisi permodalan, Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI tercatat di level 23,52%, di atas ketentuan minimum regulator. Posisi ini menunjukkan kapasitas permodalan BRI yang memadai untuk menopang ekspansi bisnis secara prudent, menyerap potensi risiko, serta menjaga stabilitas dan ketahanan perseroan.
Dari sisi Retail Funding & Transaction, BRI mengoptimalkan digital channel untuk meningkatkan engagement dan volume transaksi di seluruh lini. Inisiatif tersebut dijalankan melalui berbagai program bagi merchant dan pengguna QRIS, serta perluasan penetrasi BRImo. Langkah ini pun berkontribusi pada peningkatan basis pengguna BRImo menjadi 45,9 juta atau tumbuh 18,9% YoY. Tak hanya itu, volume transaksi merchant BRI pun meningkat 48,1% YoY menjadi Rp 223,2 triliun. Hal ini tak lepas dari berbagai program yang telah dijalankan, seperti Merchant Lucky Ride.
Sementara hingga akhir Desember 2025, jumlah BRILInk Agen telah mencapai lebih dari 1,1 juta agen atau tumbuh 12,2% YoY. Agen-agen tersebut tersebar di lebih dari 66 ribu desa dan menjangkau lebih dari 80% penjuru negeri dengan volume transaksi tembus Rp 1.746 triliun atau tumbuh 9,9% YoY.
Penguatan basis pendanaan turut menopang kinerja Perseroan sepanjang 2025. Direktur Network & Retail Funding BRI Aquarius Rudianto menyampaikan bahwa pertumbuhan dana murah BRI terus ditopang oleh optimalisasi kanal digital yang mencatat kinerja positif dengan pertumbuhan double digit. Super App BRImo mencatat 45,9 juta pengguna per Desember 2025 atau tumbuh 18,9% YoY, dengan nilai transaksi mencapai Rp7.057 triliun atau meningkat 26,1% YoY.
Di segmen menengah hingga korporasi, layanan QLola juga menunjukkan pertumbuhan kuat. Jumlah pengguna aktif mencapai 113 ribu atau naik 48,1%, dengan volume transaksi tumbuh 36,2% YoY menjadi Rp13.456 triliun. Dari sisi merchant, Sementara itu, dari sisi merchant, transaksi bisnis melalui BRI meningkat pesat. Volume penjualan merchant naik 48,1% yoy menjadi Rp 223,2 triliun.
Untuk QRIS BRI juga menunjukkan tren yang sama. Sales volume naik 100% YoY menjadi Rp85,6 triliun, sementara jumlah transaksinya tumbuh 127,5% yoy menjadi lebih dari 782,8 miliar transaksi.
Fundamental Kuat
Kinerja BRI sepanjang 2025 dinilai masih berada dalam jalur fundamental yang kuat, meski laba bersih mengalami normalisasi dibandingkan tahun sebelumnya. Analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, menilai penurunan laba lebih mencerminkan langkah konservatif perseroan dalam menjaga kualitas aset.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian tahun buku 2025, laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk tercatat sebesar Rp 56,65 triliun, turun sekitar 5,5% dibandingkan Rp 59,94 triliun pada 2024. EPS juga terkoreksi dari 398 rupiah menjadi 376 rupiah per saham. “Artinya, profitabilitas per lembar saham mengalami tekanan, meskipun secara nominal BBRI tetap membukukan laba yang solid di atas Rp 50 triliun,” ujar Hendra kepada investortrust.id Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, secara operasional fungsi intermediasi BBRI masih berjalan baik. Hal itu tercermin dari pendapatan bunga konsolidasian yang naik menjadi sekitar Rp 207,78 triliun dari Rp 199,27 triliun pada 2024. Total pendapatan bunga bersih dan jasa asuransi juga meningkat menjadi sekitar Rp 151,79 triliun dari Rp 143,83 triliun tahun sebelumnya.
“Ini menunjukkan fungsi intermediasi masih berjalan baik, dengan pertumbuhan kredit yang tetap menghasilkan kenaikan interest income,” tuturnya.
Namun, tekanan muncul dari sisi biaya dana dan peningkatan beban penurunan nilai aset keuangan (impairment) yang melonjak menjadi sekitar Rp 46,10 triliun dari Rp 38,15 triliun pada 2024. Kenaikan pencadangan ini menjadi faktor utama yang menekan laba bersih. “Artinya, BBRI lebih konservatif dalam mengantisipasi risiko kredit, terutama di tengah dinamika kualitas kredit dan kondisi ekonomi. Lalu kesimpulannya, 2025 menjadi tahun konsolidasi bagi BBRI. Fundamental tetap kuat dengan pertumbuhan pendapatan bunga, namun kenaikan biaya dana dan peningkatan pencadangan kredit menekan margin dan laba bersih,” imbuhnya.
Ia menilai, meski EPS terkoreksi, struktur bisnis dan kemampuan menghasilkan laba besar tetap menunjukkan posisi BBRI yang sehat dengan ketahanan neraca yang terjaga.

