BRI (BBRI) Cetak Laba Rp 26,53 Triliun, Kredit Tembus Rp 1.416 Triliun di Semester I 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI membukukan kredit Rp 1.416 triliun di semester I 2025, naik 6% secara tahunan (year on year/YoY) dari sebelumnya Rp 1.336,8 triliun. Dari jumlah tersebut, kredit UMKM tercatat sebesar Rp 1.137,84 triliun, dengan komposisi sebesar 80,32% terhadap total portofolio kredit. Lalu untuk laba secara konsolidasi, bank pelat merah terbesar Tanah Air itu membukukan laba Rp 26,53 triliun, turun dari sebelumnya Rp 29,89 triliun.
"Dengan berbagai inisiatif, kinerja BRI menunjukkan tren positif dan berkelanjutan dengan pendekatan pada dana murah yang mendorong efisiensi biaya dan menopang bisnis perseroan," ujar Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam paparan kinerja BRI semester I 2025, Kamis (31/5/2025).
Berdasarkan laporan keuangan BRI pada Kamis (31/7/2025), beberapa faktor penurunan laba pada semester I 2025 yaitu masih terkait dengan efek pencadangan besar-besaran di awal tahun dan adanya penurunan komisi atau fee. Selain itu, terdapat penyesuaian pencatatan di sektor bisnis asuransi yang memengaruhi pos pendapatan.
Baca Juga
Berawal Dari Proyek Mahasiswa, Kumora Cookies Melejit Jadi UMKM Sukses Berkat Rumah BUMN BRI Jakarta
BRI sejatinya mencatat kenaikan pendapatan bunga 2,6% secara tahunan menjadi Rp 102,37 triliun. Sejalan dengan kenaikan itu, beban bunga terkerek 2,07% secara tahunan menjadi Rp 29,1 triliun. Kemudian, pendapatan bunga bersih BBRI naik 2,8% secara tahunan menjadi Rp 73,27 triliun.
Namun, sejumlah pos operasional tercatat naik, seperti beban tenaga kerja yang naik 5,34% secara tahunan menjadi Rp 21,73 triliun. Kenaikan-kenaikan itu membuat laba operasional tercatat turun 9,20% secara tahunan menjadi Rp 35 triliun, yang berujung pada penurunan laba bersih.
Baca Juga
BRI Salurkan KUR Rp 83,38 Triliun, Pertanian Jadi Motor Utama
Lebih lanjut, penyaluran kredit dan pembiayaan mulai membaik, diikuti komposisi dana murah yang lebih solid. Kombinasi tersebut mendorong perolehan imbal hasil dari bisnis intermediasi bisa lebih dioptimalkan pada paruh pertama tahun ini. Adapun aset tercatat sebesar Rp 2.106,37 triliun.

