Terungkap Sudah! BRI Bukukan Laba Rp 60,64 Triliun, Kredit Rp 1.355 Triliun di 2024
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) tercatat masih menjadi bank dengan raihan laba paling terbesar di Tanah Air. Bank pelat merah dengan kode emiten BBRI ini membukukan laba Rp 60,64 triliun secara konsolidasi di sepanjang tahun 2024, naik 0,33% dibandingkan tahun sebelumnya (year on year/yoy) Rp 60,4 triliun. Adapun laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik mencapai Rp 60,15 triliun di 2024.
Sementara laba bank only 2024 mencapai Rp 54,84 triliun, naik 3,18% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 53,15 triliun. Secara keseluruhan, kinerja positif ini menunjukkan kemampuan BRI dalam menghadapi tantangan ekonomi global dan domestik, serta tantangan likuiditas yang ketat sepanjang tahun 2024.
"Terungkap sudah laba BRI selama 2024 mencapai Rp 60,64 triliun, terbongkar sudah" ucap Direktur Utama BRI Sunarso dalam paparan kinerja BRI 2024, secara virtual, Rabu (12/2/2025).
Sunarso menyatakan, konsistensi BRI dalam melayani dan memberdayakan UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) tidak hanya berhasil memperkuat ekonomi kerakyatan, namun juga menghasilkan kinerja keuangan yang stabil.
"Di tengah tantangan tekanan ekonomi global yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi domestik, serta tantangan likuiditas bagi industri perbankan, BRI mampu menunjukkan resiliensi kinerja. Pencapaian ini menunjukkan resiliensi kinerja dan kemampuan BRI dalam meng-create value secara konsisten bagi pemegang saham, pemangku kepentingan, serta masyarakat luas ditengah keberpihakan BRI kepada UMKM,” jelas Sunarso.
Sementara itu, total aset BRI hingga akhir Desember 2024 mencapai Rp 1.992,98 triliun atau tumbuh 1,42% secara year on year (yoy). Pertumbuhan ini didorong penyaluran kredit yang selektif dan berkualitas dengan tetap berfokus pada UMKM.
Dari sisi penyaluran kredit, BRI mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp 1.354,64 triliun atau tumbuh 6,97% yoy. Seluruh segmen pinjaman tercatat tumbuh positif. “Penyaluran kredit BRI didominasi oleh segmen UMKM dengan porsi mencapai 81,97% dibandingkan dengan total kredit BRI, atau setara nominal sebesar Rp 1.110,37 triliun”, imbuh Sunarso.
Pertumbuhan penyaluran kredit tersebut juga diikuti dengan perbaikan kualitas kredit. Hal ini ditunjukkan dengan membaiknya rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) dari semula 2,95% pada akhir Desember 2023 membaik menjadi 2,78% pada akhir Desember 2024. Di samping itu, BRI juga mempersiapkan pencadangan yang mencukupi dengan NPL Coverage sebesar 215,01%. "NPL kita sudah cadangkan 2 kali, artinya kalau kredit macet kita masih punya cadangan dua kali untuk kewajiban membayar nasabah," ucap Sunarso.
Dari sisi simpanan atau Dana Pihak Ketiga (DPK), BRI berhasil menghimpun simpanan sebesar Rp 1.365,45 triliun. Dana murah (CASA) mendominasi penghimpunan simpanan BRI dengan proporsi mencapai 67,30% atau setara dengan Rp 918,98 triliun. “Keberhasilan BRI dalam meningkatkan porsi CASA secara berkelanjutan tidak terlepas dari strategi BRI untuk terus fokus pada peningkatan CASA berkualitas, salah satunya adalah CASA yang berbasis transaksi,” ujar Sunarso.
Selain itu, pencapaian CASA BRI tersebut didukung pertumbuhan transaksi digital Super App BRImo semakin memperkuat posisi BRI dalam layanan digital banking di Indonesia. Hingga akhir Desember 2024, jumlah pengguna Super Apps BRImo tumbuh 22,12% yoy menjadi 38,61 juta user. Adapun volume transaksi yang diproses melalui BRImo juga tercatat naik 34,57% yoy menjadi sebesar Rp 5.596 triliun.
Sunarso juga menjelaskan bahwa capaian kinerja positif BRI pada tahun 2024 tersebut didukung kondisi likuiditas yang memadai dan permodalan yang kuat. Indikatornya, rasio Loan Deposit Ratio (LDR) BRI berada di level 88,85% dengan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 26,63%.
Mendorong Ekonomi Kerakyatan
Selain dominasinya dalam pembiayaan UMKM, lanjut Sunarso, sebagai agent of development BRI juga berkomitmen dalam mendukung Asta Cita Pemerintah, terutama dalam meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, mendorong kewirausahaan, mengembangkan industri kreatif, pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Berbagai program pemberdayaan UMKM, serta inisiatif untuk memberikan akses layanan keuangan seluas-luasnya kepada masyarakat tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:
Pertama, Holding Ultra Mikro, yakni sinergi BRI sebagai induk bersama Pegadaian dan Permodalan Nasional Madani (PNM) untuk memberikan akses layanan keuangan yang lengkap, terintegrasi, dan memenuhi kebutuhan pelaku usaha, khususnya di segmen Ultra Mikro (UMi). Setelah terbentuk pada 2021, Holding UMi telah memperluas layanannya melalui 1.032 outlet Sentra Layanan Ultra Mikro (Senyum) yang tersebar di seluruh Indonesia. Kini Holding Ultra Mikro telah melayani lebih dari 180 juta nasabah simpanan dan 36,9 juta nasabah pinjaman dengan penyaluran kredit sebesar Rp 628,67 triliun.
Kedua, Kredit Usaha Rakyat (KUR). KUR merupakan program pemerintah untuk meningkatkan akses pembiayaan kepada UMKM. Sumber dana KUR 100% berasal dari sumber dana bank, sedangkan sebagian porsi bunga yang harus dibayar oleh nasabah mendapat subsidi dari Pemerintah. "Sepanjang tahun 2024, BRI berhasil menyalurkan KUR sebesar Rp 184,98 triliun, menjadikannya yang tertinggi diantara perbankan nasional lainnya. Penyaluran KUR BRI mampu menjangkau lebih dari 4 juta pelaku UMKM di seluruh wilayah Indonesia dan memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional," tutur Sunarso.
Ketiga, Agen BRILink. AgenBRILink merupakan perluasan layanan BRI di mana BRI menjalin kerja sama dengan nasabah BRI sebagai agen/mitra yang dapat melayani transaksi perbankan bagi masyarakat secara real-time online dengan konsep sharing fee. Hingga akhir Desember 2024, jumlah AgenBRILink mencapai 1,06 juta, meningkat 324 ribu agen dibanding tahun lalu dengan volume transaksi sebesar Rpv1.583 triliun. Agen-agen tersebar di lebih dari 67 ribu desa atau menjangkau lebih dari 80% dari total desa di Indonesia.
Keempat, Desa BRILian, yang merupakan program pengembangan ekonomi desa sesuai potensi spesifik, seperti desa wisata, desa kerajinan, desa pertanian dan sebagainya. Hingga akhir Desember 2024 BRI telah membina 4.327 Desa BRILian di seluruh Indonesia.
Kelima, PARI (Pasar Rakyat Indonesia), yakni merupakan platform terintegrasi yang memberikan kemudahan bagi pelaku UMKM ekosistem berdasarkan komoditas, hingga saat ini tercatat telah digunakan oleh 85 ribu user PARI.
Keenam, Klasterku Hidupku, yaitu program pemberdayaan berdasarkan kesamaan usaha dalam klaster/kelompok usaha. Saat ini BRI telah membina 38.574 klaster usaha di seluruh Indonesia.
Ketujuh, LinkUMKM. Ini adalah platform online yang bertujuan melakukan tracking dan monitoring UMKM Indonesia naik kelas melalui rangkaian program pemberdayaan terpadu. Saat ini sudah terdapat 8,9 juta user yang menggunakan LinkUMKM.
Kedelapan, Rumah BUMN, yang merupakan wadah kolaborasi BUMN dalam membentuk digital economy ecosystem melalui pembinaan UMKM. Kini BRI telah memiliki 54 rumah BUMN dengan 433 ribu pelaku UMKM binaan.
Menutup paparannya, Sunarso menegaskan bahwa di tengah berbagai tantangan di pasar, BRI akan fokus untuk menjaga stabilitas dan resiliensi kinerja. "BRI juga, terus berkomitmen untuk mendukung ekonomi kerakyatan, utamanya melalui pembiayaan yang inklusif dan berkelanjutan, serta berbagai inisiatif pemberdayaan untuk menumbuhkembangkan UMKM menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi Indonesia," tegasnya.
Sementara itu, berdasarkan laporan keuangan BRI, Rabu (12/2/2025), dengan capaian ini, laba per saham BRI pada tahun 2024 mencapai Rp 399, naik dari Rp 398 pada tahun sebelumnya. Kemudian pendapatan konsolidasi BRI mencapai Rp 145,3 triliun, naik 4,1% dari sebelumnya Rp 139,56 triliun. Pendapatan ini ditopang dari bunga yang mencapai Rp 199,26 triliun, naik 9,96% dari posisi 2023 yang mencapai Rp 181,21 triliun.
Baca Juga
Baca Juga
Berkat Dukungan BRI, Sepatu Lokal Malang Menembus Pasar Dunia

