Dua Sekuritas Kompak Rekomendasikan Beli TLKM, Target Rp4.000 Ditopang Prospek Dividen
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) direkomendasikan beli dengan target harga Rp 4.000 oleh dua sekuritas ini. Target harga ini merefleksikan komitmen perseroan untuk mempertahankan nilai dividen per saham, bahkan peluang dinaikkan.
Mandiri Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham TLKM dengan target harga Rp 4.000. Target harga tersebut mempertimbangkan komitmen perseroan untuk mempertahankan, bahkan berupaya meningkatkan dividend per share (DPS) ke depan.
Baca Juga
Kiwoom Bidik Momentum Tahun Kuda Api, BMRI hingga TLKM Direkomendasi Beli
Adapun TLKM dalam analyst update call, seperti dilansir riset Mandiri Sekuritas, menyebutkan adanya potensi penurunan nilai (impairment) aset, khususnya yang berkaitan dengan aset fiber, seiring perubahan kebijakan akuntansi berupa pemendekan asumsi masa manfaat (useful life).
Meski demikian, perseroan belum memberikan kisaran nilai terkait potensi dampak tersebut. Dampaknya, beban depresiasi dan amortisasi (D&A) pada aset terkait berpotensi meningkat pada periode mendatang.
Begitu juga dengan riset BRI Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli saham TLKM dengan target harga Rp 4.000. Saham TLKM kini diperdagangkan pada valuasi sekitar 5,1 kali EV/EBITDA target 2026.
Baca Juga
Target harga tersebut mempertimbangkan rasio pembayaran dividen sekitar 91% dari proyeksi laba bersih inti tahun 2025, dibandingkan sebanyak 89% dari laba inti tahun 2024. Potensi tekanan laba diperkirakan dapat diimbangi sentiment kenaikan dividen dan prospek perbaikan ARPU.
Terkait rencana penyesuaian (restatement) aset fiber dengan menurunkan nilai buku bersih serta memperpendek masa manfaat untuk aset FTTH, baik yang sudah ada maupun yang akan datang. BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa kebijakan ini mencerminkan evaluasi ulang terhadap ekonomi bisnis fiber di tengah persaingan broadband yang ketat serta persiapan masuknya mitra strategis pada paruh kedua 2026.
Perubahan asumsi masa manfaat tersebut berpotensi meningkatkan beban depresiasi dan amortisasi (D&A) berulang ke depan. Namun, penyesuaian ini bersifat non-tunai, sehingga tidak berdampak pada EBITDA maupun arus kas.

