Telkom (TLKM) Realisasikan ‘Buyback’ 8,95 Juta Saham
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) telah merealisasikan pembelian kembali (buyback) sebanyak 8,95 juta saham hingga 30 Desember 2025. Namun perseroan tidak menginformasikan sisa anggaran dari aksi korporasi dengan dana Rp 3 triliun tersebut.
Dalam program buyback ini, Telkom menargetkan saham yang dibeli setara 10% dari jumlah modal ditempatkan dan disetor perseroan. Program buyback berlangsung sejak 28 Mei 2025 hingga 27 Mei 2026.
“Jadi, melalui kombinasi dividen yang konsisten dan monetisasi value unlocking serta buyback saham, Telkom tetap berusaha menjaga dan meningkatkan total shareholder return yang berkelanjutan, seiring dengan transformasi bisnis yang kami terus jalankan,” papar Investor Relations Telkom, Izzuddin Al Azzam, baru-baru ini.
Baca Juga
Setelah buyback dilakukan, menurut Azzam, harga saham TLKM naik dan mencatatkan total pertumbuhan 42,26% dalam enam bulan terakhir dan 8,33% sejak awal 2026 (year to date/ytd).
Azzam menegaskan, pergerakan harga saham TLKM cenderung mengikuti indeks harga saham gabungan (IHSG) sejak penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada 1995, bahkan melampaui indeks dalam beberapa periode.
“Telkom mampu mencatatkan kinerja yang baik dibandingkan indeks. Ini menunjukkan karakter Telkom sebagai saham yang relatif defensif dan cocok bagi investor yang mencari stabilitas pendapatan dan dividen yang konsisten,” ujar dia.
Dia menjelaskan, hingga akhir Desember 2025, jumlah saham beredar Telkom mencapai 99 miliar dengan kapitalisasi pasar lebih dari Rp 344 triliun atau setara US$ 20 miliar. Dengan skala tersebut, Telkom masih menjadi salah satu emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Baca Juga
Terdongkrak ‘Spin-off’ InfraNexia, Saham Telkom (TLKM) Jadi Primadona
Dari sisi kepemilikan saat ini, kata dia, pemerintah melalui Danantara memegang kurang lebih 52% saham TLKM, sementara hampir 48% dimiliki publik sebagai saham beredar (free float). Dari jumlah kepemilikan publik, 18,6% di antaranya merupakan investor domestik yang didominasi investor institusi sebesar 83,9%. Sedangkan 81,4% kepemilikan publik lainnya merupakan investor asing, yang didominasi investor institusi mencapai 99,9%.
“Telkom dipercaya oleh institusi asing yang berinvestasi di Indonesia. Mereka percaya terhadap fundamental maupun tata kelola Telkom,” tegas Azzam.
Azzam menambahkan, tingginya porsi saham publk juga tercermin dalam likuiditas saham TLKM dengan turn over harian yang mencapai Rp 200 miliar lebih. Hal ini menjadikan TLKM sebagai saham yang dianggap nyaman bagi investor institusi dan investor yang memiliki portofolio dengan skala besar.
Baca Juga
TLKM Jadi Tolok Ukur Restrukturisasi BUMN, Saham Melonjak 30% dan Prospek Rerating Menguat
Selain tercatat di IDX, saham Telkom tercatat di New York Stock Exchange (NYSE) dengan tahun pencatatan yang sama, yakni 1995. “Dengan dual listing ini, akses investor lokal maupun asing menjadi lebih terbuka untuk memperdagangkan saham Telkom,” tutur Azzam.
Azzam percaya, Telkom masih menjadi salah satu investasi yang menarik untuk jangka panjang di Indonesia. Kepercayaan tersebut didukung fundamental bisnis yang solid serta kepemilikan seimbang antara pemerintah dan publik.
“Saya ingin menegaskan sekali lagi bahwa seluruh transformasi Telkom dijalankan untuk membangun bisnis yang lebih fokus, lebih efisien, dan meningkatkan total share return bagi pemegang saham,” kata dia.

