Kiwoom Bidik Momentum Tahun Kuda Api, BMRI hingga TLKM Direkomendasi Beli
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kiwoom Sekuritas Indonesia memproyeksikan 2026 sebagai fase “Year of the Horse” atau Kuda Api bagi pasar modal, sebuah periode akselerasi yang menuntut keberanian pelaku pasar untuk melampaui sekadar bertahan.
Dalam riset bertajuk “Shedding the Old Skin, Racing the New Flame”, Kiwoom melihat adanya transisi dari siklus defensif menuju fase ekspansif yang lebih agresif.
“Transisi dari siklus ular yang penuh kehati-hatian menuju Kuda Api yang eksplosif menandai titik infleksi bagi pasar modal Indonesia. Di tengah residu volatilitas akibat tantangan transparansi dan friksi regulasi, tahun 2026 hadir bukan sekadar sebagai pergantian kalender, melainkan sebuah katalis pembaruan. Kita mengantisipasi gelombang reformasi struktural yang akan mengkalibrasi ulang fondasi pasar, mengubah tantangan tata kelola menjadi momentum penguatan integritas pasar,” tulis Kiwoom Research.
Secara global, pada 2026 PDB dunia diproyeksikan menembus US$ 123,6 triliun. Ekonomi Amerika Serikat diperkirakan mencapai US$ 31,8 triliun dan China menyentuh US$ 20,7 triliun, sementara Indonesia diprediksi berada di level US$ 1,6 triliun. Di tengah lanskap tersebut, Kiwoom menilai pasar domestik masih memiliki ruang akselerasi, terutama dalam memanfaatkan momentum reformasi dan rotasi sektor.
Baca Juga
Analis Sebut Volatilitas IHSG Masih Tinggi, Pasca ’Pukulan’ MSCI
Kiwoom menegaskan bahwa konsolidasi pasif bukan lagi strategi yang relevan. Pasar akan didominasi oleh entitas yang berani mengambil ruang, sementara proyek dengan cerita masa depan dan prospek pertumbuhan yang kuat berpotensi memperoleh valuasi premium.
Kiwoom menggambarkan 2026 sebagai konvergensi elemen api dan kuda. Api melambangkan transformasi, volatilitas, dan eksposur terhadap risiko, sedangkan kuda mencerminkan kecepatan, ekspansi, dan kompetisi.
Strategi yang ditekankan adalah rotation over retention, di mana pendekatan buy and hold tradisional dinilai rentan tergerus inflasi dan volatilitas. Pasar diperkirakan bergerak dalam rotasi sektor yang cepat, sehingga active rebalancing dan momentum play menjadi kunci optimalisasi imbal hasil.
Pada fase dominasi api, sektor-sektor dengan visibilitas tinggi dan korelasi kuat terhadap dinamika makro menjadi sorotan, antara lain energy transition dan downstream plays, geopolitical commodities, high-capex industrials, serta national strategic proxies.
Namun demikian, Kiwoom mengingatkan adanya risiko overheating. “The Overheat Risk, karakter api memberikan akselerasi return yang cepat, namun membawa risiko jenuh beli dan pembalikan arah yang tajam. Disiplin take profit dan manajemen volatilitas adalah kunci di sektor ini,” paparnya.
Seiring meredanya fase api, arus modal diperkirakan beralih ke sektor bernilai riil yang lebih stabil. Infrastruktur matang seperti jalan tol dan menara, properti defensif dengan recurring income seperti mal dan rumah sakit, serta utilitas dan basic materials dengan pemain dominan dinilai berpotensi menjadi jangkar portofolio saat volatilitas meningkat.
Baca Juga
Pasar Saham Volatil, Analis Ingatkan Diversifikasi ke Reksadana
Sebaliknya, sektor yang sangat bergantung pada kelonggaran likuiditas dan regulasi diproyeksikan menghadapi hambatan struktural. Kelompok big banks dan high-prudence sectors yang cenderung konservatif, sektor keuangan yang highly regulated, serta capital preservation proxies dinilai berisiko tertinggal dalam fase reli agresif.
Dalam catatan analis disebutkan “Underweight / selective exposure”, dengan penekanan pada eksposur selektif hanya kepada pemimpin pasar dengan likuiditas internal yang sangat kuat.
Sejalan dengan tema akselerasi tersebut, Kiwoom merekomendasikan sejumlah saham pilihan untuk 2026. BMRI direkomendasikan buy dengan target harga 5.950, BTPS buy dengan target harga 1.635, INKP buy dengan target harga 10.800, dan ERAL buy dengan target harga 540.
Selain itu, JPFA masuk rekomendasi buy dengan target harga 3.110, INET buy dengan target harga 630, TRIN buy dengan target harga 1.650, ENRG buy dengan target harga 2.000, TLKM buy dengan target harga 4.000, serta RMKE buy dengan target harga 13.100.
Rekomendasi tersebut didukung katalis masing-masing emiten, mulai dari yield dividen menarik, ekspansi kredit dan kapasitas produksi, hingga kontrak jangka panjang dengan visibilitas arus kas yang kuat.

