Jelang Rilis Inflasi AS, Koin Kripto Papan Atas Masih Lesu dan Bitcoin Turun di Bawah US$ 66.000
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pelaku pasar kripto menanti rilis data inflasi dan inflasi inti Amerika Serikat (AS) Januari yang dijadwalkan rilis malam ini waktu Asia. Data indeks harga konsumen (CPI) tersebut diperkirakan menunjukkan inflasi tahunan turun menjadi 2,5%, atau lebih rendah 0,2% dibandingkan Desember.
Rilis inflasi ini menjadi perhatian utama setelah laporan ketenagakerjaan AS menunjukkan penambahan 130.000 lapangan kerja pada Januari. Kondisi pasar tenaga kerja yang tetap solid dinilai mengurangi urgensi bank sentral AS, Federal Reserve, untuk segera memangkas suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas suku bunga tetap di kisaran 3,50%–3,75% mencapai 94,6%.
Pelaku pasar menilai inflasi lebih krusial dibanding data ketenagakerjaan dalam menentukan arah kebijakan moneter. Inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi berpotensi membuka ruang percepatan pemangkasan suku bunga, yang secara historis mendukung aset berisiko seperti saham dan kripto. Sebaliknya, inflasi lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat kebijakan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer) dan menekan pasar kripto.
Baca Juga
Data tenaga kerja yang solid membuat pasar menyesuaikan ulang ekspektasi pemangkasan suku bunga ke paruh kedua 2026. Imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tetap tinggi dinilai menjaga biaya pembiayaan dan suku bunga diskonto pada level tinggi, sehingga membatasi potensi reli aset spekulatif.
Secara terpisah, menurut Financial Expert Ajaib Kripto Panji Yudha, prediksi indeks harga konsumen (IHK) Amerika Serikat, turut memengaruhi pergerakan harga kripto. Raksasa Wall Street seperti JPMorgan dan Bank of America memprediksi angka IHK Januari akan melandai ke 2,5% (yoy).
“Data yang akan dirilis ini dipandang krusial karena akan memengaruhi keputusan suku bunga pada pertemuan FOMC Maret mendatang,” terang Panji secara tertulis, Jumat (13/2/2026).
Peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada Maret 2026 terpantau meningkat dari 7% menjadi 19% sepanjang bulan ini, seiring melambatnya permintaan konsumen di AS. Lebih lanjut, volatilitas pasar dalam 24 jam terakhir memicu total likuidasi masif sebesar US$ 297 juta, dengan mayoritas 77% berasal dari posisi long.
Sementara tren positif ETF Bitcoin spot terhenti pada Rabu (11/2/2026) dengan mencatatkan net outflow harian sebesar US$ 276,30 juta, setelah mencatatkan pemulihan melalui net inflow beruntun pada Senin (9/2/2026) sebesar US$ 145 juta dan Selasa (10/2/2026) sebesar US$ 166,56 juta. Hari ini, Panji memprediksi Bitcoin dapat bergerak dalam rentang harga US$ 64.000 - US$ 68.000 sedangkan Ethereum berpotensi menjajal level sekitar US$ 1.900 - US$ 2.200.
Baca Juga
BlackRock Sebut Alokasi 1% Investor Asia Bisa Ubah Lanskap Industri Kripto di Dunia
Menilik data CoinMarketCap, pergerakan pasar kripto menunjukkan tren variatif dalam 24 jam terakhir, dengan mayoritas aset utama terkoreksi tipis meski masih mencatatkan penguatan dalam sepekan. Harga Bitcoin pada perdagangan Jumat (13/2/2025) pagi waktu Asia tercatat di level US$ 66.012,13 atau turun 2,21% dalam 24 jam terakhir. Meski demikian, secara mingguan Bitcoin masih menguat 5,09%. BTC bahkan sempat berada di US$ 65.000-an.
Sementara itu, Ethereum berada di level US$ 1.935,11, terkoreksi 1,12% dalam sehari. Dalam tujuh hari terakhir, Ethereum mencatatkan kenaikan 4,54%. Di antara aset kripto utama lainnya, XRP mencatatkan performa mingguan tertinggi dengan kenaikan 12,28%, meski dalam 24 jam terakhir turun 1,95% ke level US$1,35. Adapun BNB melemah tipis 0,05% dalam sehari ke US$611,66 dan terkoreksi 0,35% dalam sepekan.
Secara keseluruhan, pasar kripto masih menunjukkan kecenderungan konsolidasi jangka pendek, dengan tekanan harian yang terbatas namun tetap mempertahankan tren penguatan dalam periode mingguan.
Widget
Powered by Investing.com
Analisa saham dan kripto dengan mudah dan cepat dengan InvestingPro, dapatkan diskon tambahan khusus untuk pembaca Investortrust, klik di sini

