Bitcoin Kok Turun Lagi? Dua Analis Sebut Ini Biang Keroknya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pasar kripto mengalami tekanan signifikan pada Rabu (11/2/2026) malam hari waktu Indonesia setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (non farm payrolls/NFP) menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan. Bitcoin sempat turun di bawah level US$ 65.900 sementara sejumlah altcoin mencatat koreksi lebih dalam seiring meningkatnya sentimen risk-off global.
Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan ekonomi menambah sekitar 130.000 lapangan kerja pada Januari, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Tingkat pengangguran tercatat di 4,3%, sementara pendapatan rata-rata per jam melambat menjadi 3,7%. Meski menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja, revisi data sebelumnya mengindikasikan lebih dari satu juta pekerjaan hilang dalam penyesuaian tahunan, memunculkan kekhawatiran adanya “resesi perekrutan” sepanjang 2025.
Tekanan di pasar kripto juga terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk spekulasi potensi eskalasi konflik di Timur Tengah. Data Polymarket menunjukkan probabilitas meningkatnya aksi militer AS terhadap Iran, mendorong kenaikan harga minyak dan aset safe haven seperti emas serta franc Swiss. Di sisi lain, Bitcoin kembali bergerak selaras dengan aset berisiko seperti saham teknologi.
Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto dilaporkan menyusut hampir US$ 90 miliar dalam hitungan jam. Bitcoin turun mendekati US$66.000 dan memicu likuidasi posisi leverage sekitar US$ 70 juta, sementara Ethereum sempat menyentuh area US$1.900. Indeks Ketakutan dan Keserakahan (Fear & Greed Index) kembali masuk zona “ketakutan ekstrem”, mencerminkan sikap defensif pelaku pasar.
Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menilai penurunan kali ini lebih banyak dipicu oleh aksi deleveraging di pasar derivatif dibandingkan faktor fundamental Bitcoin itu sendiri. “Penurunan open interest lebih dari 10% dan lonjakan likuidasi hingga di atas US$ 160 juta menunjukkan pasar sedang melakukan pengurangan risiko secara agresif. Ketika posisi leverage ditutup secara paksa, tekanan jual menjadi terakumulasi dalam waktu singkat dan memperdalam koreksi harga,” ujarnya dalam riset, Kamis (12/2/2026).
Data menunjukkan open interest kontrak perpetual turun signifikan, sementara minat terbuka di pasar berjangka berada di bawah US$ 100 miliar, jauh dari puncaknya tahun lalu yang sempat melampaui US$ 255 miliar. Kondisi ini mencerminkan siklus pendinginan aktivitas spekulatif.
Menurut Fyqieh, secara teknikal Bitcoin saat ini berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan netral hingga bearish dalam jangka pendek. “Level US$ 67.088 menjadi support
Fibonacci krusial. Jika mampu bertahan di atas area ini, ada peluang rebound menuju US$ 68.400. Namun jika breakdown, potensi penurunan lanjutan ke kisaran US$ 66.500 terbuka dalam 24–48 jam ke depan,” jelasnya.
Baca Juga
15 Tahun Bitcoin, dari US$ 1 Pernah Melonjak 126.000% dan Kini Lagi Betah di US$ 70.000-an
Bitcoin Bergerak Seperti Saham Teknologi
Sejumlah analis global juga mencatat bahwa Bitcoin kini semakin berkorelasi dengan saham teknologi berisiko tinggi, bukan lagi dipandang sebagai aset lindung nilai. Pelemahan indeks utama AS seperti S&P 500 dan Nasdaq turut menyeret harga aset digital.
Fyqieh menambahkan bahwa dinamika makroekonomi, termasuk ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed dan data inflasi AS yang akan dirilis dalam waktu dekat, akan menjadi katalis utama pergerakan harga selanjutnya.
“Bitcoin saat ini sangat sensitif terhadap data ekonomi AS. Jika inflasi menunjukkan perlambatan signifikan dan membuka ruang penurunan suku bunga lebih cepat, kita bisa melihat momentum pemulihan. Namun narasi ‘higher for longer’ masih menjadi tekanan jangka menengah,” katanya.
Di tengah tekanan jangka pendek, data on-chain menunjukkan adanya akumulasi signifikan oleh investor besar (whale). Tercatat aliran lebih dari 66.000 BTC masuk ke alamat akumulasi pada awal Februari terbesar dalam siklus ini.
Fyqieh melihat fenomena ini sebagai fondasi struktural yang positif bagi pasar. “Akumulasi whale menunjukkan kepercayaan jangka panjang masih terjaga. Ketika koin ditarik dari exchange dan disimpan, suplai yang tersedia untuk dijual berkurang. Jika sentimen makro membaik, kondisi ini bisa memicu supply squeeze dan reli yang kuat,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pasar saat ini masih berada dalam fase tarik-menarik antara akumulasi institusional dan tekanan makro global. “Dalam jangka pendek volatilitas masih tinggi. Struktur pasar cenderung konsolidatif dengan bias melemah, namun secara jangka panjang fondasi tetap terbentuk. Investor perlu disiplin dalam manajemen risiko dan menghindari penggunaan leverage berlebihan di tengah ketidakpastian,” tutup Fyqieh.
Secara terpisah, Analyst Reku Fahmi Almuttaqin mengatakan, kejatuhan tajam Bitcoin dan mayoritas aset kripto dalam pekan terakhir pengaruhi oleh perubahan besar dalam ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat. Salah satu pengaruh utamanya adalah nominasi Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve oleh Presiden Donald Trump pada 30 Januari lalu.
Warsh dikenal sebagai ekonom berhaluan hawkish yang lebih menekankan pengendalian inflasi dibandingkan pemangkasan suku bunga agresif. Pengumuman tersebut secara instan menghancurkan narasi “debasement trade” strategi yang selama berbulan-bulan mendorong investor masuk ke emas, perak, dan kripto sebagai lindung nilai terhadap pelemahan dolar AS.
Dolar menguat tajam pasca-pengumuman, sementara pasar kripto berada dalam kondisi likuiditas yang sudah tipis. Terjadi multiple breakdown pada berbagai level support penting, hingga Bitcoin menembus 365-day moving average untuk pertama kalinya sejak Maret 2022, memperkuat sentimen bearish yang sudah terbentuk.
Rontoknya kapitalisasi pasar kripto dan turunnya Crypto Fear & Greed Index ke level extreme fear menjadi sinyal kuat bahwa pasar sedang berada dalam fase kapitulasi, periode ketika investor menjual tanpa mempertimbangkan harga.
Baca Juga
Pasar Kripto Tertekan, Harapan Pengesahan RUU Bitcoin AS Memudar
Support dan Resistance
Fahmi menjelaskan secara historis, zona extreme fear sering kali bertepatan dengan potensi terbentuknya local bottom. Namun, dalam jangka pendek, tekanan volatilitas masih bisa berlanjut karena sentimen masih sangat rapuh.
"Dari sudut pandang teknikal, beberapa indikator memang menunjukkan pelemahan signifikan. Terjadinya multiple breakdown dalam waktu singkat, tertembusnya 365-day moving average, serta rusaknya support psikologis utama di US$ 75.000 menjadi sinyal negatif yang tidak bisa diabaikan. Untuk tahun ini, level teknikal yang perlu diperhatikan adalah support kritis di level US$ 60.000 sampai US$ 65.000 dan resistance utama di level US$75.000 dan US$ 95.000.
“Selama area US$60.000-65.000 mampu bertahan, peluang rebound tetap terbuka. Faktor yang memicu tekanan saat ini lebih dominan berasal dari eksternal, khususnya kebijakan moneter AS, bukan dari melemahnya fundamental industri kripto itu sendiri,” ujar Fahmi.
Hindari Panic Selling
Di tengah volatilitas tinggi, investor disarankan untuk tetap disiplin pada rencana investasi masing-masing. “Menjual saat Fear & Greed Index berada di bawah 10 adalah keputusan yang berisiko tinggi, mempertimbangkan potensi terciptanya local bottom. Jika memiliki keyakinan terhadap tesis jangka panjang kripto, fase ini justru bisa menjadi zona akumulasi yang menarik, terutama melalui pendekatan yang meminimalisir risiko seperti dollar-cost averaging,” jelas Fahmi.
Meskipun pasar secara umum melemah, sejumlah aset kripto masih mencatatkan kinerja positif secara year-to-date. Beberapa di antaranya seperti MYX Finance, SKY, Tether Gold, PAX Gold, serta AXS (Axie Infinity) yang bahkan mencatatkan kenaikan lebih dari 80%. Kinerja positif ini dipengaruhi oleh faktor spesifik masing-masing proyek, mulai dari utilitas riil hingga narasi komoditas berbasis emas digital. Namun, Fahmi menekankan bahwa di lingkungan pasar yang volatil, likuiditas menjadi faktor paling krusial.
“Prioritaskan aset dengan likuiditas tinggi dan distribusi volume perdagangan yang sehat di berbagai pasar. Dalam fase seperti ini, bahkan aset mid cap bisa kehilangan likuiditas dengan cepat," katanya.

