15 Tahun Bitcoin, dari US$ 1 Pernah Melonjak 126.000% dan Kini Lagi Betah di US$ 70.000-an
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bitcoin (BTC) genap menandai 15 tahun sejak pertama kali menyentuh harga US$ 1 pada 9 Februari 2011, sebuah tonggak bersejarah yang menegaskan eksistensi aset digital sebagai instrumen bernilai ekonomi. 15 tahun berselang, Bitcoin pada perdagangan Selasa (10/2/2026) waktu Asia masih betah diperdagangkan di kisaran US$ 70.645, meski masih berada jauh di bawah rekor tertinggi sepanjang masa US$ 126.025 yang tercapai pada 6 Oktober 2025.
Harga terkini tersebut mencerminkan koreksi sekitar 44% dari puncaknya, sekaligus menandai fase volatilitas lanjutan setelah Bitcoin mencatatkan penurunan 26,62% dalam 12 bulan terakhir. Tekanan jangka pendek ini muncul di tengah dinamika global, mulai dari ketidakpastian ekonomi hingga perubahan ekspektasi kebijakan moneter.
Namun, jika ditarik ke rentang waktu yang lebih panjang, perjalanan Bitcoin menunjukkan pertumbuhan yang nyaris tak tertandingi. Dalam tiga tahun terakhir, harga Bitcoin melonjak 226,73%, sementara dalam lima tahun tercatat naik 57,84%. Sejak menyentuh US$ 1 pada 2011, nilai Bitcoin telah meningkat sekitar 70.000 kali lipat, dan bahkan lebih dari 126.000 kali lipat dari titik US$ 1 hingga puncaknya pada Oktober 2025.
Baca Juga
Pasar Kripto Tertekan, Harapan Pengesahan RUU Bitcoin AS Memudar
Melansir Coinpaper, kenaikan eksponensial tersebut ditopang oleh karakteristik utama Bitcoin, yakni pasokan terbatas sebesar 21 juta koin. Mekanisme halving yang terjadi setiap empat tahun terakhir pada 2024 terus menekan laju pasokan baru yang masuk ke pasar. Secara historis, fase pasca halving kerap diikuti oleh penguatan harga seiring meningkatnya tekanan permintaan terhadap pasokan yang semakin ketat.
Transformasi struktural pasar Bitcoin juga dipercepat sejak hadirnya exchange traded fund (ETF) Bitcoin spot pada Januari 2024. Instrumen ini membuka akses investor institusional dan ritel tradisional tanpa perlu menyimpan aset kripto secara langsung. Hingga 2025, ETF Bitcoin spot tercatat menguasai lebih dari 1,1 juta BTC atau sekitar 5,6% dari total pasokan, menciptakan tekanan beli yang relatif stabil di pasar.
Di sisi lain, peran Bitcoin sebagai aset strategis semakin menguat. Selama periode tekanan ekonomi global, termasuk pandemi 2020 dan penutupan pemerintah AS pada 2025, Bitcoin kerap diposisikan sebagai lindung nilai terhadap risiko inflasi dan ketidakpastian fiskal. Sejumlah korporasi global seperti MicroStrategy dan Tesla bahkan memasukkan Bitcoin ke dalam neraca keuangan mereka, sementara wacana kepemilikan Bitcoin sebagai cadangan strategis mulai dibahas di tingkat negara bagian di Amerika Serikat.
Baca Juga
Meski demikian, pandangan pasar masih terbelah. Ekonom Peter Schiff menilai level US$ 126.000 berpotensi menjadi puncak siklus Bitcoin, mengingat harga saat ini masih berada di bawah rekor sebelumnya pada November 2021. Sebaliknya, sejumlah pelaku industri menyampaikan proyeksi agresif. Arthur Hayes memprediksi Bitcoin berpotensi menembus US$ 250.000 dalam waktu dekat, bahkan mengarah ke US$ 575.000 pada akhir 2026, pandangan yang juga diamini oleh beberapa tokoh kripto global lainnya.
15 tahun setelah diperdagangkan hanya seharga US$ 1, Bitcoin kini berada di persimpangan sejarah baru. Dari eksperimen teknologi komunitas kecil hingga aset global bernilai triliunan dolar, perjalanan Bitcoin terus menjadi sorotan pelaku pasar dunia yang kini menanti arah fase berikutnya.
Pemulihan Harga
Secara terpisah, Bitcoin menunjukkan tanda-tanda pemulihan dengan naik 17,50% dari level US$ 60.000 (pertama kalinya sejak Oktober 2024) dengan kembali menguat hingga awal pekan ini diperdagangkan di kisaran US$ 70.500 setelah mengalami tekanan jual harian terdalam sejak krisis FTX pada Minggu (8/2/2026). BTC berhasil bangkit dan melonjak hingga, menghapus sebagian besar kerugian dari aksi jual tajam sebelumnya.
Financial Expert Ajaib Panji Yudha menilai, sentimen pasar saat ini masih dibayangi oleh kinerja negatif dari sektor institusional. Bitcoin Spot ETF mencatatkan pendarahan hebat dengan total net outflow mingguan mencapai US$ 689,22 juta per 5 Februari 2026. Setelah dibuka dengan optimisme lewat inflow harian sebesar US$ 561,89 juta pada awal pekan, tren berbalik drastis dengan aksi jual berturut-turut yang mencapai puncaknya pada 4 Februari dengan outflow sebesar US$ 544,94 juta. Tekanan keluar yang masif ini telah menggerus total aset bersih dari level US$ 100 miliar menjadi tinggal US$ 80,76 miliar hanya dalam hitungan hari.
Pekan ini, fokus investor akan tertuju pada dua rilis data ekonomi krusial AS yang sempat tertunda akibat government shutdown:
Rabu, 11 Februari:
Rilis data January Jobs Report dengan ekspektasi penambahan 70.000 lapangan kerja baru dan tingkat pengangguran bertahan di 4,4%. Data terbaru menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja di mana klaim pengangguran mingguan tetap rendah di angka 210.000.
Jumat, 13 Februari:
Laporan Inflasi CPI Januari yang diprediksi menunjukkan kenaikan bulanan sebesar 0,3% dan kenaikan tahunan sebesar 2,5%. Angka ini menjadi sangat krusial karena pejabat Federal Reserve menegaskan perlunya perbaikan inflasi lebih lanjut sebelum mempertimbangkan pemangkasan suku bunga lebih jauh.

