Ditopang Hal Ini, Laba Bersih BTN (BBTN) Meningkat 16,4% Jadi Rp 3,5 Triliun di 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN mencatat pertumbuhan laba bersih secara konsolidasi sebesar 16,4%, dari Rp 3 triliun di 2024 menjadi Rp 3,5 triliun di tahun lalu. Pertumbuhan tersebut salah satunya ditopang oleh kenaikan kredit.
“BTN berhasil mengakselerasi pertumbuhan bisnis sepanjang tahun 2025 yang ditopang penguatan profitabilitas dan proses bisnis yang semakin efisien berkat transformasi yang konsisten dilakukan di berbagai lini,” ujar Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu, dalam Konferensi Pers Paparan Kinerja Tahun 2025 BTN, di Jakarta, Senin (9/2/2026).
Pertumbuhan tersebut, lanjut dia, salah satunya ditopang oleh penyaluran kredit konsolidasian yang tumbuh 11,9%, dari Rp 358,9 triliun pada 2024 menjadi Rp menjadi Rp 400,6 triliun di tahun lalu. Dengan mayoritasnya disalurkan ke sektor perumahan sebesar Rp 328,4 triliun pada 2025, tumbuh 7,5% dibanding 2024 yaitu Rp 305,6 triliun.
Dari sisi kredit perumahan, bank berkode saham BBTN ini membukukan pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) Subsidi sebesar 10% menjadi Rp 191,2 triliun pada 2025, dibanding tahun sebelumnya Rp 173,8 triliun. Sejalan dengan itu, KPR Non-Subsidi juga meningkat 6,7%, dari Rp 106 triliun pada 2024 menjadi Rp 113 triliun di tahun lalu.
Baca Juga
Saham BBTN Menguat 4% Sepekan hingga Investor Asing Konsisten Net Buy, Simak Kembali Target Ini
Salah satu penopang ekspansi kredit BTN di sektor perumahan di tahun lalu adalah keterlibatan perseroan dalam program baru pemerintah yaitu Kredit Program Perumahan (KPP) yang diluncurkan pada Oktober 2025.
Nixon menyatakan, BTN menjadi bank penyalur terbesar untuk KPP dengan total mencapai Rp 2,6 triliun hingga akhir 2025. Nominal tersebut hampir setara separuh dari total penyaluran KPP nasional.
“KPP menjadi mesin baru untuk mendorong pertumbuhan kredit BTN serta menawarkan profitabilitas yang lebih baik karena marginnya yang lebih tinggi dibandingkan KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP),” katanya.
Sejalan dengan itu, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross BTN menurun ke level 3,1% di 2025, dari sebelumnya 3,2% di 2024. Untuk memperbaiki struktur risiko, BTN meningkatkan pencadangan atau NPL coverage menjadi 123,9% di 2025, naik 856 bps dari tahun sebelumnya 115,4%.
“BTN memproyeksikan NPL dapat menurun hingga di bawah 3,0% pada akhir tahun 2026 sejalan dengan membaiknya kualitas kredit,” ucapnya.
Baca Juga
Menurut Nixon, BTN juga berhasil memperkuat profitabilitas dengan memperbaiki proses bisnis di sisi penyaluran kredit dan pengelolaan portofolio yang menghasilkan pertumbuhan lebih cepat, serta upaya konsisten dalam memperoleh pendanaan dengan biaya lebih murah.
“Hal ini berbuah peningkatan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) menjadi 4,2% pada akhir 2025, naik 133 basis poin (bps) dari tahun sebelumnya sebesar 2,9%,” ujarnya.
Selain kredit, naiknya laba BTN juga dipicu oleh pendapatan bunga yang naik 23% secara year on year (yoy) menjadi Rp 36,3 triliun di 2025. Di lain sisi, peningkatan beban bunga juga sangat minim yaitu 0,4% (yoy) menjadi Rp 17,9 triliun.
“Dari pencapaian itu, BTN membukukan pendapatan bunga bersih yang naik 57,5% menjadi Rp 18,4 triliun pada akhir 2025, dibandingkan Rp 11,7 triliun pada tahun 2024,” kata Nixon.
Sejalan dengan itu, dana pihak ketiga (DPK) secara konsolidasi yang dihimpun BTN tumbuh 14,6% (yoy) menjadi Rp 437,4 triliun pada 2025. Pertumbuhan tersebut didorong akselerasi transaksi digital, khususnya di superapp Bale by BTN.
Nixon menjelaskan, user BTN tumbuh 66,1% (yoy) menjadi 3,7 juta hingga akhir 2025. Hal ini dibarengi dengan meningkatnya jumlah transaksi Bale sebesar 79,2% (yoy) menjadi 2,2 miliar di tahun lalu. Nilai transaksi juga naik 27,7% (yoy) menjadi Rp 103,6 triliun.
Dari total DPK, Rp 22,8 triliun diantaranya disumbang oleh di saldo user Bale by BTN. Capaian tersebut naik 15,3% (yoy) dibanding 2024 sebesar Rp 19,7 triliun.
“Nominal saldo rata-rata pengguna Bale lebih tinggi, sehingga turut mendorong pertumbuhan DPK BTN terutama transaksi dana murah. Kami akan terus mendorong positioning Bale sebagai superapp yang menawarkan ekosistem terintegrasi dengan solusi transaksi keuangan keluarga,” ucap Nixon.
Sejumlah pertumbuhan positif tersebut turut mendorong kenaikan aset BTN sebesar 12,4% (yoy) Rp 527,8 triliun di 2025.

