Saham BBTN Menguat 4% Sepekan hingga Investor Asing Konsisten Net Buy, Simak Kembali Target Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mencatatkan penguatan 4% menjadi Rp 1.280 sepanjang sepekan terakhir, meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dilanda aksi jual.
Kinerja pada pekan pertama Februari ini sekaligus menjadi posisi harga akhir pekan tertinggi sejak awal 2026. Dalam rentang perdagangan yang lebar, saham BBTN sempat menyentuh level terendah Rp 1.175 dan tertinggi Rp 1.350. Level Rp 1.350 menjadi titik harga tertinggi sejak medio September 2025, yang kemudian memicu aksi ambil untung di penghujung pekan.
Penguatan ini membuat BBTN melampaui (outperformed) pergerakan IHSG yang melemah 4,73% dan indeks LQ45 yang turun 2,15% dalam sepekan. Indeks sektor keuangan (IDX Finance) juga tercatat melemah 1,44% pada periode yang sama.
Baca Juga
Aktivitas perdagangan saham BBTN meningkat signifikan di seluruh indikator dan menjadi yang tertinggi sejak awal tahun. Peningkatan ini terjadi di tengah tekanan jual masif pasca pengumuman MSCI.
Investor asing tercatat memanfaatkan momentum kenaikan harga dengan membukukan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp 61,6 miliar sepanjang pekan ini. Data RTI menunjukkan aksi beli bersih tersebut memperpanjang tren inflow menjadi enam pekan beruntun dengan kumulatif net buy Rp 228,8 miliar secara year to date (ytd). Jika dihitung sejak September 2025 atau sekitar enam bulan terakhir, net foreign buy (NFB) saham BBTN bahkan mencapai Rp 332 miliar.
Manuver investor asing di BBTN tergolong anomali dibandingkan bank besar lainnya. Saham BBCA mencatat net foreign sell (NFS) Rp 11,6 triliun secara ytd dan Rp 22,7 triliun sejak September 2025. BBRI juga membukukan NFS Rp 5 triliun dalam enam bulan terakhir. Sementara itu, BMRI dan BBNI mencatat NFS masing-masing Rp 5,4 triliun dan Rp 2,1 triliun pada periode yang sama.
Faktor Penopang
Secara year to date (ytd), saham BBTN telah menguat 10,34%, sejalan dengan ekspektasi kinerja keuangan yang lebih kuat tahun ini. Analis KB Valbury Sekuritas Akhmad Nurcahyadi menyebut potensi penguatan BBTN sejalan dengan prospek positif sektor perbankan.
KB Valbury memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 berada di kisaran 8–10%, sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia sebesar 8–12%. Dana pihak ketiga (DPK) diproyeksikan terus tumbuh didukung likuiditas yang semakin longgar, sementara biaya dana diperkirakan melanjutkan tren penurunan.
Baca Juga
Optimistis Tekan NPL di Bawah 3%, BTN (BBTN) Bakal Pakai 3 Jurus Ini
Berdasarkan asumsi tersebut, KB Valbury mempertahankan rekomendasi beli saham BBTN dengan target harga Rp 1.530. Target tersebut merefleksikan rasio price to earnings (PER) sekitar 4,2 kali pada 2026, terendah di antara bank-bank besar lainnya.
Dari sisi internal, manajemen BTN membidik pertumbuhan laba bersih 20–22% tahun ini, didorong penyelesaian kredit bermasalah masa lalu dan rencana pembentukan sejumlah anak usaha. Perseroan juga menargetkan pertumbuhan kredit 8–9% dengan rasio kredit bermasalah (NPL) dijaga di bawah 3%. Pertumbuhan deposito dipatok 7–8% dengan cost of fund ditekan di bawah 3,6%.
Selain itu, sejumlah aksi korporasi strategis turut menopang sentimen positif saham BBTN. Perseroan berencana mendirikan anak usaha asuransi umum dengan kebutuhan modal Rp 250 miliar serta membentuk perusahaan pembiayaan (multifinance) dengan investasi Rp 3–5 triliun. Ekspansi tersebut ditargetkan rampung pada paruh kedua tahun ini.
BTN juga berencana memperkuat struktur permodalan senilai Rp 2 triliun pada semester II melalui penerbitan instrumen modal yang diharapkan diserap Danantara. Penguatan likuiditas turut dilakukan melalui rencana penerbitan obligasi bernilai jumbo.

