Target Harga Saham BNI (BBNI) Direvisi Naik, Analis Ini Ungkap Faktor Penopang Berikut
JAKARTA, investortrust.id – Target harga saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) direvisi naik dari Rp 4.900 menjadi Rp 5.300. Revisi naik tersebut mempertimbangkan posisi perseroan sudah berada pada jalur pemulihan kinerja didukung eksekusi strategi digital, pendanaan, serta disiplin risiko yang konsisten.
Revisi naik target harga tersebut juga mempertimbangkan valuasi 1,1 kali price to book value (PBV) 2026F. Target harga tersebut juga mempertimbangkan peluang kenaikan laba bersih menjadi Rp 20,74 triliun tahun ini, dibandingkan perolehan tahun lalu Rp 20,04 triliun.
Baca Juga
NIM Solid di Tengah Lonjakan CoC, Saham BBNI Menarik dengan Target Harga Ini
Analis Samuel Sekuritas Brandon Boedhiman dan Prasetya Gunadi mengatakan, revisi naik target harga tersebut didukung sejumlah faktor. Di antaranya, manajemen BBNI memproyeksikan pertumbuhan kredit pada 2026 berada di kisaran 8–10% dengan net interest margin (NIM) pada rentang 3,5–3,8% dan cost of credit (CoC) sebesar 1,0–1,2%.
Target harga tersebut juga mempertimbangkan peluang kenaikan kinerja keuangan BBNI pada kuartal I-2026. Samuel Sekuritas memperkirakan, laba bersih bisa mencapai Rp 4,9 triliun atau tumbuh 1,1% secara kuartalan, meski turun 7,5% secara tahunan. Penurunan tahunan dipengaruhi oleh basis provisi yang rendah pada kuartal I-2025.
Pada kuartal IV-2025, BBNI mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 4,9 triliun, turun 1,9% secara kuartalan dan 4,5% secara tahunan, sehingga laba bersih sepanjang 2025 mencapai Rp 20,0 triliun atau turun 6,6% secara tahunan. Kinerja tersebut sejalan dengan estimasi dan konsensus.
Baca Juga
IHSG Diprediksi Lanjutkan Penurunan, Tiga Saham Dipimpin ASII Layak Dilirik
Revisi naik target harga saham BBNI tersebut juga mempertimbangkan perkiraan likuiditas BBNI tetap terjaga dengan loan to deposit ratio (LDR) sekitar 86,5%. Hal ini ditopang percepatan pertumbuhan CASA dan akuisisi dana berbasis digital. Pada kuartal IV-2025, CASA tercatat tumbuh 28,9% secara tahunan menjadi Rp 726 triliun dan dana pihak ketiga naik 29,2%.
Kualitas aset BBNI diprediksi tetap resilien dengan rasio kredit bermasalah (NPL) bruto turun menjadi 1,9% dari 2,0% pada kuartal sebelumnya, sementara loan at risk (LAR) membaik signifikan menjadi 8,5% dari 10,4%. Rasio cakupan LAR meningkat menjadi 47%, dengan NPL coverage tetap tinggi di level 205,5%.
“Dengan kombinasi pertumbuhan kredit yang solid, akselerasi digital, likuiditas yang terkelola, serta kualitas aset yang resilien, kami merevisi naik target harga saham BBNI menjadi Rp 5.300 dengan rekomendasi beli,” tulisnya.

