NIM Solid di Tengah Lonjakan CoC, Saham BBNI Menarik dengan Target Harga Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Realisasi kinerja keuangan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sepanjang tahun lalu sudah sesuai ekspektasi, meskipun dibukan penurunan laba bersih sebanyak 7% menjadi Rp 20,0 triliun.
Laporan kinerja keuangan BBNI mengungkap penurunan laba bersih dari Rp 21,46 triliun menjadi Rp 20,04 triliun tahun lalu. PPOP juga turun dari Rp 34,78 triliun menjadi Rp 34,12 triliun. Penurunan tersebut menjadikan EPS melemah tipis dari Rp 575,5 menjadi Rp 537,3 per saham.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Naura Reyhan Muchlis dan Victor Stefano dalam riset yang diterbitkan kemarin mengatakan, realisasi kinerja keuangan BBNI tahun 2025 sejalan dengan estimasi analis dan setara 100% dari proyeksi, meski sedikit di bawah konsensus akibat lonjakan cost of credit (CoC) pada kuartal IV-2025.
Baca Juga
Analis Sebut BNI (BBNI) Paling Siap Hadapi 2026 karena Likuiditas Longgar dan Efisiensi Terjaga
Perseroan mencatatkan penurunan laba, meskipun pertumbuhan kredit BBNI yang kuat sebesar 16% yoy. Namun, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) cenderung stagnan, seiring tekanan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) menjadi 3,8% pada 2025, dibandingkan 4,2% pada 2024. Penurunan NIM dipicu pelemahan imbal hasil kredit sebesar 49 basis poin (bps), sementara cost of fund (CoF) relatif stabil di level 2,9%.
Sedangkan dari sisi efisiensi, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) meningkat 189 bps yoy menjadi 47,5%, seiring pertumbuhan beban operasional sebesar 6% atau kenaikan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan sebesar 2%. Cost of credit juga naik menjadi 1,2% dan melampaui panduan manajemen.
“Meski demikian, rasio kredit bermasalah (NPL) tetap stabil di level 1,9% dan loan at risk (LaR) membaik ke 8,4%,” tulis rise tersebut.
Pada kuartal IV-2025, BBNI mencatatkan laba bersih Rp 4,9 triliun, turun 2% secara kuartalan (qoq) dan 4% yoy. Penurunan tersebut akibat lonjakan CoC menjadi 1,7% setelah pembahan pencadangan (overlay) pada eksposur Sumatera, segmen ritel, dan sektor berbasis komoditas.
Baca Juga
Saham BTN (BBTN) Ditutup Melejit Kemarin, Sekuritas Asing Ternyata Aktif Borong
Di sisi lain, kualitas laba menunjukkan perbaikan secara qoq. NIM BBNI kembali meningkat menjadi 3,9% atau naik 32 bps qoq, ditopang penurunan CoF sebesar 44 bps. Laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) tumbuh 11% qoq, didukung peningkatan NII dan pendapatan pemulihan. Kredit dan dana pihak ketiga (DPK) masing-masing tumbuh 11% qoq, menjaga rasio loan to deposit ratio (LDR) stabil di kisaran 86%.
Terkait tahun 2026, manajemen BBNI mematok proyeksi konservatif dengan target pertumbuhan kredit 8–10%, NIM kisaran 3,5–3,8%, serta CoC sebesar 1,0–1,2%. “Tekanan margin diperkirakan masih berlanjut akibat penurunan suku bunga acuan dan kompetisi pendanaan, khususnya pada semester I-2026. Namun, perbaikan CoF, kualitas aset konsumer yang membaik, serta posisi likuiditas yang lebih memberikan fondasi kinerja yang lebih konstruktif,” tulisnya.
Sejumlah faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBNI dengan target harga Rp 4.700. Target tersebut mencerminkan valuasi price to book value (PBV) wajar 1,0 kali, dengan potensi imbal hasil dividen sekitar 8%. Rekomendasi beli ini juga mempertimbangkan prospek kinerja jangka menengah yang masih menarik.

