Outlook Moody’s Jadi Negatif, Airlangga: Rating Indonesia Tetap 'Investment Grade'
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan penjelasan terkait perubahan outlook Indonesia oleh Moody’s yang menurunkan outlook peringkat utang pemerintah dari stabil menjadi negatif.
Airlangga menegaskan, perubahan tersebut tidak menyentuh level peringkat kredit Indonesia yang masih berada pada kategori layak investasi.
“Kalau Moodys kan dari segi ratingnya tetap investment grade. Hanya moodys bicara mengenai outlook. Outlook itu membutuhkan penjelasan,” kata Airlangga usai acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis, (5/2/2026).
Ia menekankan pemerintah tetap konsisten menjaga disiplin fiskal. Defisit anggaran tetap dipatok di level 3%, sementara rasio utang dijaga di bawah 40%. Meski demikian, terdapat perbedaan skema pembiayaan investasi pada tahun berjalan dibandingkan periode sebelumnya.
“Karena pemerintah tetap konsisten bahwa belanja defisit dipatok di 3%, kemudian hutang di bawah 40%. Dari segi tentu ada perbedaan di tahun ini, karena investasi biasanya kan dibiayai oleh BUMN atau melalui APBN. Nah, saat sekarang investasi dilakukan dengan Danantara,” terang dia.
Baca Juga
Respons Moody's, Wakil Ketua Komisi XI DPR Sebut sebagai Peringatan Serius
Airlangga menambahkan, Danantara juga menerapkan prinsip tata kelola yang baik. Penerapan tata kelola tersebut dinilai menjadi bagian dari transformasi BUMN menjadi sovereign wealth fund (SWF) yang mengacu pada praktik terbaik global.
“Danantara juga menjaga tata kelola yang baik. Dan tata kelola yang baik dari Danantara itu bagian daripada transformasi BUMN menjadi sovereign wealth fund (SWF). Di mana ini best practice-nya sudah ada dengan berbagai sovereign wealth fund,” beber Airlangga.
Lebih lanjut, Airlangga mengungkapkan pihaknya telah berkoordinasi dengan Danantara terkait langkah komunikasi kepada lembaga pemeringkat.
“Jadi, saya sudah bicara dengan danantara, dimana mereka juga akan mempersiapkan langkah-langkah untuk menjelaskan kepada rating agency,” imbuhnya.
Sekadar informasi, perubahan outlook Indonesia oleh Moody’s dari stable menjadi negative terjadi di tengah bertahannya peringkat kredit sovereign di level Baa2 atau investment grade. Meski demikian, sentimen pasar dinilai mulai terpengaruh oleh meningkatnya persepsi risiko.
Baca Juga
IPO BEI Makin Dekat? Menko Airlangga Ungkap Dua Skema Demutualisasi
Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pun berpotensi menghadapi tekanan dalam jangka pendek. Koreksi IHSG dinilai lebih dipicu oleh faktor psikologis dan penyesuaian risiko, bukan mencerminkan memburuknya fundamental ekonomi secara langsung. Di tengah sensitivitas pasar global terhadap isu kredibilitas kebijakan dan stabilitas institusi, perubahan outlook tersebut menjadi katalis yang tak bisa diabaikan oleh investor.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana menilai dalam jangka pendek IHSG berada dalam fase rawan koreksi. Secara teknikal, indeks berpeluang menguji area psikologis 8.000 yang menjadi level krusial. Apabila area tersebut ditembus, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju support berikutnya di kisaran 7.888.
“Sementara dari sisi atas, resistance IHSG berada di area 8.200, yang akan menjadi tantangan kuat selama sentimen global dan domestik belum sepenuhnya pulih. Namun koreksi ini lebih tepat dibaca sebagai fase konsolidasi yang sehat, bukan awal dari tren bearish structural,” kata Hendra dalam risetnya, Kamis, (5/2/2026).
Ia menilai dampak utama dari penurunan outlook tersebut lebih terasa pada peningkatan risk premium dan kehati-hatian pelaku pasar, ketimbang tekanan struktural terhadap perekonomian nasional.
“Investor global cenderung meminta imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi atas meningkatnya ketidakpastian kebijakan. Kondisi ini berpotensi tercermin pada kenaikan yield SBN tenor panjang, pelebaran spread obligasi, serta tekanan arus dana asing di pasar saham, khususnya pada saham berkapitalisasi besar dan emiten BUMN yang selama ini menjadi cerminan kepercayaan investor terhadap negara,” ucap Hendra.

