Arus Keluar ETF Spot AS Capai US$ 31 Miliar, Bitcoin Jatuh ke US$ 70.000
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin (BTC) kembali mengalami tekanan signifikan dalam 24 jam terakhir pada Kamis (5/2/2026). Aset kripto terbesar di dunia tersebut turun bahkan hampir meninggalkan level SU$ 70.000. Koin nomor satu secara kapitalisasi pasar itu turun 7,19% dalam sehari atau melemah 20% dalam sepekan.
Tekanan harga dipicu oleh kombinasi arus keluar dana institusional, melemahnya indikator on-chain, serta meningkatnya ketidakpastian global. Salah satu faktor utama datang dari arus keluar besar-besaran pada produk ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Data menunjukkan total aset ETF Bitcoin spot AS merosot tajam dari lebih dari US$ 128 miliar pada pertengahan Januari menjadi sekitar US$ 97 miliar pada awal Februari. Artinya, sekitar US$ 31 miliar dana institusional keluar dari pasar dalam waktu relatif singkat, mencerminkan melemahnya minat institusi terhadap Bitcoin.
Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menilai arus keluar ETF tersebut memberikan tekanan jual langsung ke pasar. Menurutnya, ETF Bitcoin sebelumnya menjadi salah satu pilar utama permintaan sepanjang 2024 hingga 2025.
“Ketika arusnya berbalik menjadi net outflow, dukungan harga ikut melemah dan membuat Bitcoin lebih rentan terhadap koreksi lanjutan,” ujarnya, dalam keterangan pers, Kamis (5/2/2026).
Baca Juga
Selain faktor ETF, indikator on chain juga menunjukkan melemahnya permintaan spot. Coinbase premium tercatat berada di zona negatif sejak Oktober, yang menandakan rendahnya minat beli dari investor Amerika Serikat. Sementara itu, Bull Score Index dari CryptoQuant berada di level nol, mengindikasikan lemahnya tekanan beli organik di pasar.
Kondisi tersebut, lanjut Fyqieh, mencerminkan terjadinya demand vacuum. Tanpa arus modal baru dari pembeli spot, pergerakan harga Bitcoin menjadi sangat sensitif terhadap sentimen pasar dan likuidasi posisi leverage.
Meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, menyusul gagalnya rencana perundingan, mendorong pelaku pasar global masuk ke mode risk-off. Di lain sisi, ekspektasi The Fed akan mempertahankan suku bunga pada April turut mengurangi harapan adanya tambahan likuiditas dalam waktu dekat.
Di kondisi tersebut, Bitcoin kembali menunjukkan korelasi positif dengan aset berisiko. Aliran dana global cenderung berpindah ke aset safe haven seperti emas, yang justru mencetak rekor harga baru di kisaran US$ 4.500 per troy ounce.
Baca Juga
Pasar Kripto Bergejolak, Bitcoin Jatuh ke US$ 73.000 dan Picu Likuidasi Masif
Tekanan jual ini turut memicu likuidasi besar di pasar kripto. Dalam 24 jam terakhir, nilai likuidasi tercatat melampaui US$ 800 juta. Pada saat yang sama, total kapitalisasi pasar kripto menyusut sekitar US$ 500 miliar, dari kisaran US$ 3 triliun menjadi mendekati US$ 2,5 triliun.
Fyqieh menambahkan, meskipun Bitcoin secara historis sering mencatatkan kinerja positif pada Januari, bulan tersebut juga dikenal sebagai periode dengan volatilitas tinggi.
“Penurunan Bitcoin saat ini merupakan hasil kombinasi dari arus keluar ETF, ketidakpastian kebijakan moneter The Fed, ketegangan geopolitik, hingga meningkatnya sentimen risk off global. Selama faktor-faktor tersebut belum mereda, pasar kripto cenderung masih bergerak defensif,” katanya.

