Rupiah Melemah Tipis di Tengah Gonjang-ganjing Pengunduran Diri 5 Petinggi OJK dan BEI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis terhadap dolar AS, Jumat (30/1/2026), di tengah gonjang-ganjing pasar modal seiring mundurnya lima petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI). Mata uang Garuda terdepresiasi 0,05% ke level Rp 16.796 per dolar AS dibanding hari sebelumnya berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI).
Lima petinggi OJK dan BEI kompak mundur, yaitu Ketua Dewan Komisioner (DK) OJK Mahendra Siregar, Wakil Ketua DK OJK Mirza Adityaswara, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi, Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (DKTK) Aditya Jayaantara, serta Direktur Utama BEI Iman Rachman. Mereka mundur sebagai buntut crash di pasar saham dalam dua hari terakhir.
Pada Jumat, BI mencatat rupiah dibuka pada level (bid) Rp 16.770 per dolar AS. Sedangkan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke 6,36%.
Baca Juga
Wakil Ketua OJK Mirza Adityaswara Mundur, Total 5 Pejabat Lempar Handuk
Berdasarkan data transaksi 26-29 Januari 2026, nonresiden (asing) mencatatkan jual neto sebesar Rp 12,55 triliun, terdiri atas jual neto Rp 12,40 triliun di pasar saham dan Rp 2,77 triliun di pasar SBN, serta beli neto Rp 2,61 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Berdasarkan data setelmen, selama tahun 2026 (sampai 29 Januari), nonresiden membukukan beli neto sebesar Rp 4,84 triliun di pasar saham dan Rp 6,18 triliun di SRBI, serta jual neto Rp 0,10 triliun di pasar SBN.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan, selama sepekan terakhir rupiah menguat 0,22% terhadap dolar AS.
Sementara itu, yield SBN 10 tahun turun 6,3 bps dan yield obligasi pemerintah berdenominasi dolar AS tenor 10 tahun naik 3,5 bps.
Andry mengatakan, pada Jumat lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI menguat 1,2% ke level 8.330, didorong respons positif pasar terhadap langkah-langkah tegas pemerintah dan regulator pasar untuk memperkuat stabilitas serta kredibilitas pasar saham Indonesia.
Pasar merespons percepatan peningkatan transparansi kepemilikan dan demutualisasi BEI sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), peningkatan ketentuan minimum free float menjadi 15%, serta perluasan batas alokasi investasi dana pensiun dan asuransi di IHSG hingga 20%.
Baca Juga
Pasar Saham Jebol, Investor Kirim Surat Terbuka tentang MSCI kepada OJK dan BEI, Ini Isinya
"Ini dipandang sebagai reformasi struktural yang memperkuat fondasi pasar dan meningkatkan kepercayaan investor," kata Andry.
Saham-saham penggerak utama pasar modal domestik antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Sementara itu, saham-saham pemberat bursa di antaranya PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA),PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), dan PT Impack Pratama Industri (IMPC).
Nilai transaksi saham mencapai Rp 41,6 triliun. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 1,5 triliun.

