Pengunduran Diri Pimpinan BEI-OJK Dinilai Demi Keberlanjutan Pasar Modal
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id -Dinamika di pasar modal Indonesia kian menguat menyusul pengunduran diri lima petinggi regulator dan penyelenggara bursa.
Setelah Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman resmi mengundurkan diri dari jabatannya untuk periode 2022–2026, langkah serupa juga terjadi di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Pengunduran diri Iman Rachman disampaikan secara langsung kepada awak media di Press Room BEI, Jakarta, pada Jumat (30/1/2026). Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kondisi pasar modal yang mengalami tekanan dalam dua hari terakhir.
Baca Juga
Wakil Ketua OJK Mirza Adityaswara Mundur, Total 5 Pejabat Lempar Handuk
Tak lama berselang, Mahendra Siregar juga resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua Dewan Komisioner OJK. Pengunduran diri tersebut turut diikuti oleh Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (KE PMDK) Inarno Djajadi, serta Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (DKTK) I. B. Aditya Jayaantara.
Berlanjut pada pukul 21.00 WIB wartawan kembali dikejutkan dengan pengunduran diri Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara.
Menanggapi rangkaian pengunduran diri tersebut, Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menilai keputusan tersebut perlu dilihat sebagai langkah terbaik demi keberlanjutan pasar modal Indonesia.
“Kedengarannya, menurut saya kalau memang itu yang terbaik keputusannya untuk keberlanjutan pasar modal,” kata Reydi kepada media, Jumat (30/1/2026).
Ia menyoroti tekanan yang terjadi di pasar dalam beberapa hari terakhir, termasuk terjadinya penghentian sementara perdagangan.
“Kemarin ada kejadian trading halt yang sampai dua hari berturut-turut karena MSCI nge-freeze (pasar modal) untuk kita ada rebalancing di Februari ini, itu pukulan yang sangat telak gitu buat market, kepanikan pasar gitu kan,” jelas dia.
Baca Juga
Menurut Reydi, kondisi tersebut turut berdampak pada persepsi investor global terhadap pasar saham Indonesia. Ia menilai, pasar modal ke depan membutuhkan sosok-sosok baru yang dapat mengembalikan kepercayaan investor.
“Jadi, sepertinya kita perlu wajah baru yang lebih refresh, mungkin itu keputusan yang terbaik dari sisi regulasi dan penyelenggara supaya bisa lebih kredibel ke depan. Mungkin kita perlu orang-orang baru untuk bisa memimpin terselenggaranya pasar modal dengan lebih kredibel gitu,” tambahnya.
Lebih lanjut, Reydi menilai kepanikan pasar yang terjadi saat ini dipicu oleh respons terhadap kebijakan MSCI yang belum sepenuhnya dipahami investor.
“Menurut saya ini murni kepanikan pasar karena MSCI, karena mungkin orang-orang atau investor banyak yang belum mencerna dengan baik, ‘maksud dari MSCI apa sih?’ Membekukan saham-saham kita untuk rebalancing di Februari ini,” tuturnya.
Ia menilai langkah MSCI tersebut justru memiliki tujuan positif untuk menjaga stabilitas aliran dana asing.
“Menurut saya tujuannya baik MSCI seperti itu, karena kan berarti kan dana-dana asing itu nggak dipaksa keluar gitu. Karena kalau misalkan ternyata metodologi yang free float ini diberlakukan, artinya banyak saham yang akan keluar dari MSCI kan, dari IHSG itu bisa bikin capital outflow gitu. Jadi, menunda atau paling nggak supaya tidak terjadi capital outflow dari asing di IHSG,” pungkasnya.

